Skandal Termanis

Skandal Termanis
Berubah?


__ADS_3

Amee berada di antara dua perempuan dewasa yang saling sindir dengan kata-kata pedas. Dia lelah, ingin tidur kembali daripada satu meja dengan kedua orang tua yang nyatanya menjengkelkan.


"Ma, lihatlah. Sudah jadi mantan saja dia masih terus menyusahkan kamu!"


"Kamu lupa ini dulu siapa yang beli? Randu! Dia yang beli dengan kerja kerasnya sendiri dan sekarang ... astaga, kamu tinggal nikmati rumah ini. Jangan banyak tingkah!" Mira tidak mau mengalah, menatap tajam kepada Sika yang tidak mau kalah membalasnya.


"Am, kenapa diam saja?"


Amee meletakkan gelasnya dengan kasar, bahkan air di dalamnya sampai tumpah. "Am, kenapa?"


Amee menatap Sika kesal lalu beralih menatap Mira. "Apa Mama akan terus singgung tentang rumah ini?" tanya Amee menahan emosi kepada Mira. "Aku gak pernah minta rumah ini, tapi Mas Randu sendiri yang kasih. Dia tahu sudah salah makanya dia menghadiahi rumah ini buatku!"


"Dia memang gitu, Am. Bukannya kamu sudah tahu, sejak dulu dia selalu saja ungkit apa pun pemberiannya ke kamu!" Sika memanasi Amee dengan menatap Mira dengan tatapan remeh.


"Mama juga, cukup. Kenapa Mama senang sekali mengatakan hal-hal yang sama sekali gak ada gunanya?"


"Amee!" bentak Sika yang tidak terima dibentak oleh anaknya sendiri di hadapan mantan besan. "Kamu keterlaluan!"


Amee menghela napas pelan. Mencoba sabar dengan sikap kedua perempuan tersebut. "Maaf, Ma, kalau ucapanku buat Mama tersinggung. Tapi, seperti yang Mama tahu, rumah ini sudah jadi hakku. Jadi, sudah cukup Mama selalu bahas rumah ini." Mira mendengkus kesal karena ucapan Amee tersebut lalu mengangguk.


Tanpa mengatakan apa pun, Mira memilih pergi meninggalkan mereka.


"Sana pergi ke rumah anakmu. Jangan malah repotin orang lain!" usir Sika saat Mira memilih meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarnya.


Amee memijat pelipisnya, kepalanya terasa berat, apalagi mendengar suara mamanya. "Cukup, Ma! Apa Mama gak malu sama sikap Mama? Mama lebih ngerepotin aku! Mama buat malu aku dengan culik Safira supaya dapat uang dari Mas Randu!"


Mata Amee sekarang sudah berkaca-kaca. Dia sudah tidak tahan menghadapi sikap Sika yang makin keterlaluan. "Am, Mama lakukan itu juga untuk kamu!"


"Kalau untuk aku, mana uang yang Mas Randu kasih?" Amee terkekeh pelan. "Gak ada, kan? Mama lakuin itu buat selamatkan diri Mama sendiri. Sekarang apa lagi yang mau Mama jual? Rumah ini?"


"Amee kamu benar-benar keterlaluan sama Mama!" Sika memilih meninggalkan Amee sama seperti Mira.


"Huh. Hidupku kenapa jadi begini? Bercerai sama Mas Randu bukannya makin dekat sama Seto dan tenang, malah sebaliknya!"


Amee menaikkan pandangannya, saat mendengar suara langkah kaki mendekat. "Mama mau ke mana?" Amee menghampiri Mira yang membawa kopernya.

__ADS_1


"Mama mau pergi. Lagipula tadi kamu sudah kasih tahu Mama kalau Mama gak ada hak di rumah ini dan Mama sadar diri kalau yang kamu bilang benar. Ucapan mamamu juga!"


"Maaf, aku gak bermaksud begitu!" Amee menunduk menyesal.


"Sudahlah. Mama gak marah sama kamu. Kamu memang punya hak untuk rumah ini, Mama pergi!" Mira memeluk Amee dan mengecup sayang kening Amee. "Mama akan pergi, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk datang ke Mama!"


***


Aileen merasa bingung harus bersikap seperti apa kepada Mira. Saat ini Mira kembali ke apartemen, perempuan tersebut sedang bersama dengan Safira. Sudah satu jam lalu mereka bersama.


Dia tidak berani mendekat. Tatapan tidak suka Mira saat tadi dia membukakan pintu dan membawakan koper masuk membuat nyali Aileen ciut. Dia tidak berani untuk mendekat, tetapi sebenarnya dia ingin sekali berada di antara cucu dan nenek itu.


"Neng Aileen kenapa malah di sini? Biar Bibi saja yang masak! Neng Aileen temani Bu Mira saja!"


Aileen menghela napas dan menggeleng. Dia menolak permintaan Bi Siti dan tetap berada di dapur untuk membantu masak.


"Bi, aku di sini saja. Lagipula Safira belum waktunya mandi sore. Jadi aku gak mau ganggu mereka dulu!"


Bi Siti mengangguk pasrah. Dia tidak lagi memaksa Aileen dan membiarkannya untuk melakukan apa pun yang dia mau.


"Sudah, Neng. Tenang saja!" Aileen hanya mengangguk dan tidak lagi bertanya.


Dia memilih fokus mengurusi dapur sampai tidak sadar jika Bi Siti tidak berada di dapur lagi. "Bi, apa aku harus kasih tahu kak Randu sekarang atau nanti biar dia tahu sendiri kalau mamanya datang?"


Tidak ada jawaban. Bi Siti tidak mendengar pertanyaannya tersebut.


"Aku bingung harus apa. Tante Mira benci banget sama aku, aku takut salah ambil keputusan! Menurut Bibi gimana?" Aileen menoleh ke belakang, dia lalu terdiam dan begitu gugup saat melihat Mira yang saat ini sedang duduk sambil menatapnya.


"Tante ...."


Perempuan paruh baya itu tidak menjawab. Dia memilih mengabaikan Aileen dengan beranjak ke kulkas.


Karena lebih fokus memperhatikan yang sedang dilakukan Mira, Aileen sampai tidak sadar jika tangannya terkena pisau.


Aileen langsung memalingkan wajahnya saat Mira menyadari dirinya yang terus diperhatikan. Dia meletakkan pisau dan mengisap luka sayatannya tersebut.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" Mira langsung menarik tangan Aileen dan membuatnya terkejut. Tubuhnya terasa ringan saat Mira meniupnya pelan. "Perempuan bodoh! Darahmu ada bakterinya dari benda tajam!"


Aileen tidak bereaksi apa pun dengan yang dilakukan Mira. Saat perempuan paruh baya tersebut mulai sibuk mencari kotak obat, Aileen masih saja terdiam sambil memperhatikan lukanya.


"Jangan diam saja. Kamu pasti berhasil memikat hati Randu dengan sikapmu ini!"


Aileen masih tetap diam dengan ocehan Mira. Dia sama sekali tidak merasa tersinggung dengan mendengar ucapan tersebut. Dia memperhatikan tangannya yang sudah diperban dengan senyum mengembang.


Setelah melakukannya, Mira memutuskan pergi meninggalkan Aileen yang masih saja diam. "Apa tadi perhatian seorang ibu? Kenapa manis banget?" Aileen tersenyum senang sambil memperhatikan telunjuknya yang diobati Mira dengan penuh perhatian.


***


"Kak!" Aileen menarik tangan Randu dan mengajaknya masuk saat pria tersebut datang.


"Ada apa?"


"Nanti Kakak tahu!" Aileen membawa Randu ke kamarnya, dia memperlihatkan Randu saat Mira sedang menggantikan pakaian Safira yang baru selesai mandi. "Kita jangan ganggu mereka!"


Aileen lantas mengajak Randu duduk di sofa ruang tamu. Dia terlihat begitu senang. "Apa ada sesuatu yang buat kamu senang?"


Aileen memperhatikan telunjuknya yang diperban. "Tanganmu kenapa?" tanya Randu panik.


Perempuan muda tersebut mendengkus kesal. Hanya karena melihat telunjuknya yang diperban, Randu begitu khawatir. "Tanganku gakpapa, Kak. Tadi gak sengaja sedikit kena pisau! Tapi, aku kasih tahu Kakak bukan karena itu!"


Sebelah alis Randu terangkat tinggi. Dia menatap heran wajah semringah Aileen. "Tadi Tante Mira yang obati lukaku, aku sampai gak merasakan perih sama sekali!"


"Ah, syukurlah. Mungkin mama sadar kalau percuma dia melarang kita berhubungan!" Aileen mengangguk setuju. "Kamu senang?"


"Tentu. Ini kali pertama aku merasakan kasih sayang seorang ibu! Hah, Kakak pasti kira aku terlalu berlebihan, tapi aku benar-benar senang. Rasanya mendebarkan dan juga menenangkan." Aileen menatap lekat Randu dan tertawa kecil. "Kalau aku lukai lagi jariku gimana, Kak?"


Randu mendengkus kecil. "Jangan lakukan hal konyol begitu. Yang mamaku lakukan tadi karena naluri seorang ibu."


"Aku tahu, Kak! Tante Mira benci aku karena sudah rebut Kakak dari Mbak Amee, tapi Tante Mira gak benci aku sebagai seorang ibu yang penuh perhatian. Mungkin dengan lebih sering membuat Tante Mira iba akan buat dia restui hubungan kita."


"Aileen!" Randu memperhatikan Aileen dengan rasa iba. Dia paham apa yang dirasakan Aileen saat ini lalu memilih memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2