Skandal Termanis

Skandal Termanis
Salah Paham


__ADS_3

Randu berdiri cukup lama di depan lift, meski pintu lift terbuka dan orang-orang keluar dia tidak juga masuk. Randu baru saja masuk setelah tiga kali lift di depannya mengantar orang-orang yang ada di apartemen.


Dia masuk seorang diri, Randu mengecek ponselnya. Dia hendak menghubungi Amee, tetapi urung dilakukan saat lift terbuka, dua orang pria dan seorang perempuan masuk.


Mereka bertiga berdiri di depan Randu dengan perempuan berada di tengah-tengah. Beberapa detik Randu melihat keanehan dari perempuan yang terlihat risih dengan perlakuan pria di samping kiri-kanannya.


Randu berdeham, seorang pria yang lebih tinggi menoleh dan menatapnya sinis. Namun, tangisan perempuan itu terdengar saat satu di antara mereka mengalungkan lengannya pada leher perempuan tersebut.


Randu menarik kerah bagian belakang pria tersebut. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Randu sambil memperhatikan perempuan itu yang kelihatan ketakutan.


"Pak, tolong saya!" pinta perempuan tersebut memelas.


Randu menarik perempuan tersebut untuk berada di sampingnya. Terlihat sekali perempuan tersebut ketakutan dan dia mengabaikan dua orang pria yang hanya diam saling berpandangan. "Kalian mau melecehkan dia?"


Bukannya menjawab, saat lift terbuka Randu secara tiba-tiba ditarik oleh seorang dari mereka dan membawanya ke tangga darurat. Di sana dia dihajar oleh dua orang pria tersebut.


Randu tergeletak, dia terbatuk-batuk. "Aileen!" Bayangan tentang perempuan itu melintas. Randu berusaha bangkit, tetapi seorang dari mereka menendang perutnya dan pergi begitu saja.


"Akh ...." Dia meringis merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Namun, dia tidak mau sepanjang malam berada di tempat yang jarang orang lalui. Dengan susah payah dia akhirnya dapat bangun.


Randu mendongak, dia berada di lantai dua dan harus menaiki beberapa puluh anak tangga untuk sampai di lantai tempat Aileen berada. Merasa tidak mungkin berjalan melalui tangga darurat, dia memilih keluar dari sana dan pergi ke lift.


Seorang pria paruh baya menghampirinya dengan cemas. Membantunya memasuki lift yang sepi. "Anda akan ke lantai berapa? Biar saya bantu!"


"Tidak, terima kasih, Pak!" Randu menepuk pundak pria tersebut sambil tersenyum tipis.


"Anda yakin? Atau lebih baik pergi ke rumah sakit! Lihatlah wajah Anda terluka!"


Randu menggeleng. Dia hanya ingin cepat bertemu dengan Aileen. "Baiklah. Hati-hati!"


Randu hanya berdeham. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding lift yang terasa dingin setelah memencet tombol lift.


Ponselnya kembali berdering, dengan susah payah Randu mengambil ponselnya di dalam saku celana samping kirinya. Dia melihat nama Amee kembali memenuhi layar ponselnya.


"Kamu di mana, Mas?"


Randu hanya terbatuk sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. "Am, saya tidak bisa pulang malam ini!" Setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Randu langsung mematikan ponselnya.


Dia keluar dari lift dan menuju ke apartemen Aileen yang berada di lorong sebelah kanan.


"Aileen!" Randu melangkah dan langsung memeluk Aileen yang diam mematung dengan begitu terkejut.


"Kak, kamu kenapa?"


"Sakit!" Randu kembali terbatuk. Dia merasa Aileen berusaha membawanya masuk ke dan merebahkannya di sofa dengan sisa bantuan tenaganya yang terkuras habis.


"Tunggu sebentar!" Randu mengangguk sambil memejamkan mata. Dia mendengar langkah kaki Aileen yang tergesa-gesa menghampirinya. Wajahnya terasa perih saat diobati.


"Tahan sedikit!" Randu dapat melihat bagaimana perhatian Aileen kepadanya. Dia tersenyum dan saat itu luka pada sudut bibirnya terasa begitu perih. Padahal tadi dia tidak merasa sakit saat memberi senyuman pada pria parah baya yang menolongnya.


"Aileen!" Wajah serius itu menatapnya lamat. "Maafkan saya!"


"Kakak diam dulu, aku harus bersihkan lukanya duku!" Randu berdeham. Dia benar-benar diam membiarkan Aileen mengobati lukanya.

__ADS_1


Randu benar-benar merasa kacau, sampai-sampai dia tidak bisa menolong dirinya sendiri tadi.


***


"Kakak sudah bangun? Aku buatkan sup, sebentar lagi siap!" Randu memilih duduk di kursi menunggu masakan Aileen siap.


"Kakak apa masih sakit? Perlu ke rumah sakit?" tanya Aileen ketika dia menghidangkan makanan yang dibuatnya. Aroma sup yang masih panas begitu menggugah selera.


Aileen menatap bergantian mata Randu dan tangannya yang dipegang. "Tunggu sebentar, Kak. Aku cuma mau ambil mangkuk!" Aileen dengan perlahan melepaskan tangan Randu darinya dan berlalu.


"Terima kasih!"


"Kakak memang harus bilang itu sama aku! Pasti Kakak lupa gimana aku yang kesusahan bawa tubuh Kakak ke kamar!" ujarnya sambil menyiapkan sarapan untuk Randu.


"Kenapa tidak membiarkan saya tidur di sofa?"


Aileen terkekeh. "Aku gak mau waktu kita yang masih ada terbuang sia-sia dengan kita tidur terpisah, Kak! Lagipula aku kuat!"


Randu tersenyum masam. Dia melirik Aileen yang meniup supnya dan menyodorkan ke Randu. "Coba deh, aku jamin ini enak!"


Tanpa ragu pria tersebut menerima suapan dari Aileen. "Gimana?"


"Enak!"


"Syukurlah. Gak percuma aku menghabiskan banyak waktu menonton video masak di internet!"


"Semalam ada perempuan yang dilecehkan oleh dua orang pria. Saya menolongnya, melihat dia yang memohon perlindungan dari saya membuat saya mengingat kamu!"


Kening Aileen berkerut. "Kenapa?" tanya perempuan itu penasaran.


"Kakak pasti menyesal banget!"


"Tentang?"


"Yang terjadi sama kita!"


"Awalnya begitu karena kamu adik Amee. Saya menyesal karena kamu yang seharusnya saya jaga, tetapi saya malah merusak kamu. Tapi, saat ini saya menyadari jika saya beruntung mengenal kamu lebih dalam!"


Aileen tertawa kecil. "Ada yang salah?"


"Bukan. Aku cuma merasa Kakak terlalu berlebihan. Apa yang Kakak lihat dari perempuan seperti aku? Anak dari orang yang sudah merusak kehidupan keluarga orang lain!"


"Saya tidak pernah beranggapan begitu. Jangan hiraukan ucapan Mama!"


Aileen mengangguk. "Tapi, apa kamu benar-benar akan pergi?"


Aileen kembali mengangguk. "Sesuai perjanjian!"


"Baiklah. Setelah kita bercerai, hidup bahagialah kamu. Tapi, sebelum itu, izinkan saya membuat kamu nyaman di sisi saya!" Randu berkata dengan sungguh-sungguh. Namun, reaksi Aileen terlihat sekali tidak percaya.


"Maksudnya?"


Randu meraih tangan Aileen dan mengenggam erat. "Kamu mau membuat kenangan indah, bukan, selama kita menjadi suami istri?" Aileen mengangguk. "Mulai sekarang ayo kita lakukan!"

__ADS_1


"Kakak yakin?" Randu berdeham.


"Apa saya terlihat becanda?"


"Oke, awas sampai jatuh cinta sama aku!" Randu hanya membalas dengan senyum tipis.


Mereka akan memulainya. Tidak hanya dari keinginan Aileen, tetapi juga Randu. Sepanjang sarapan mereka saling bercengkrama dan saling melontarkan canda.


***


#Kak, Mbak Amee akan ke sini. Lebih baik Kakak jangan ke sini!


Aileen mengirim pesan kepada Randu yang sedang pergi ke minimarket di dekat apartemen untuk membelikan beberapa makanan. Dia hanya membacanya tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut.


"Pasti saat ini dia sedang sibuk menyembunyikan pakaian saya!"


Randu terkekeh pelan, mengingat tadi pakaiannya masih berserak di atas kasur. Dia menggeleng pelan sambil memperhatikan rak-rak jajanan.


Setelah selesai mengambil yang diperlukannya, dia gegas ke kasir untuk membayar belanjaannya.


Saat sedang mengantre, dari belakangnya seseorang menepuk pundaknya. Randu menoleh dan terkejut melihat siapa yang berdiri di belakangnya.


"Pak, Anda baik-baik saja? Maafkan semalam saya langsung pergi!" Randu hanya berdeham, dia lalu mengabaikan perempuan itu.


Sayangnya, perempuan yang ditaksir usianya sama dengan Aileen atau lebih muda itu terus saja mengikuti Randu sampai di depan mobilnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Randu kesal saat perempuan tersebut membukakan pintu mobil penumpang dan mengambil plastik belanjaan dari tangan Randu.


"Aku membantu Anda, Pak!" ucapnya sambil menutup pintu.


"Terima kasih, sekarang pergilah!" usir Randu yang risih. Dia menepis tangan perempuan tersebut saat hendak menyentuh wajahnya.


"Pasti sakit, kan?" tanya perempuan itu dengan tatapan nanar. Randu menghela napas pelan lalu berdeham.


"Saya benar-benar minta maaf, Pak." Perempuan itu langsung memeluk Randu.


Randu memegang bahu perempuan itu untuk menjauhkan dari tubuhnya, sayang saat itu Amee datang dan memergokinya sedang berpelukan.


"Mas!"


Perempuan tersebut melepaskan pelukannya. "Maafkan saya!"


"Am, jangan salah paham!" Randu memperhatikan perempuan muda itu yang terlihat begitu tidak peduli dengan tatapan Amee yang kesal. "Dia hanya mengucapkan terima kasih."


"Kamu mau aku percaya setelah semalaman kamu gak pulang, Mas?"


"Tante, jangan marahi Pak tampan ini. Dia yang sudah menolongku semalam!"


Amee melotot kesal. "Tante? Kamu kira aku Tante kamu?" Perempuan muda itu menggeleng. "Mas!"


"Sekarang kamu pergilah, saya sudah menerima ucapan terima kasihmu!" usir Randu, dia lalu meminta Amee untuk masuk ke mobil.


"Pak, sekali lagi terima kasih!" Tanpa permisi perempuan muda itu mengecup pipi Randu dan mengerling sebelum pergi.

__ADS_1


"Astaga, apa yang dia lakukan!"


Amee menatap tajam kepada Randu saat pria tersebut masuk mobil. "Kamu membalasku dengan berhubungan pada perempuan yang sangat belia!"


__ADS_2