
"Semalam kamu tidur di kamar Safira, Mas?" tanya Amee. Dirinya sibuk mengenakan Safira pakaian. Dia makin lancar mengurus Safira tanpa Sika harus turun tangan lagi.
Amee menoleh ke sampingnya, Randu ternyata melamun sehingga tidak membalas pertanyaannya itu. "Mas, ada yang kamu pikirkan?" Amee menyenggolnya siku Randu.
"Saya harus bersiap kerja!" Tanpa memberi jawaban apa pun kepada Amee, Randu memilih keluar dari kamar putri kandungnya itu yang sialnya harus dia akui sebagai putri angkatnya.
"Ada apa dengan papa kamu, ya? Kok dia melamun gitu?" tanya Amee kepada Safira yang tidak mendapat jawaban apa pun selain tatapan dari mata bening bayi itu.
"Kamu tuh gemesin banget. Aku sampai kepikiran mau hamil biar kamu ada temannya, tapi nanti secantik kamu gak, ya?" canda Amee sambil mengecup sayang wajah Safira.
Bayi itu menggeliat tidak nyaman dengan perlakukan Amee.
"Kamu tunggu di sini bentar, ya. Mama mau ke kamar di sebelah saja, kok!"
Saat Amee keluar, kebetulan Sika juga keluar dari kamarnya yang tepat berada di samping kamar Safira. Amee menitipkan Safira kepada Sika dan dia pergi ke kamarnya sendiri.
Amee menghampiri Randu dan membantu suaminya itu saat mengenakan dasi. "Sepertinya kamu lagi banyak pikiran, Mas! Sampai tadi aku tanya saja gak kamu jawab!" ucap Amee sambil merapikan kemeja Randu.
Perempuan itu mendongak untuk menatap wajah Randu yang terlihat serius menatapnya. Dia tersenyum lembut dan mengusap rahang Randu yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. "Kenapa belum dicukur, Mas? Biasanya kamu rajin melakukannya?"
Randu menyentuh tangan Amee dan menggenggamnya erat. Pria itu mengecup lama punggung tangan Amee. Penuh sayang. "Mas ada apa?"
Randu melepaskan tangan Amee dan menatap perempuan itu dalam. "Bisakah kamu yang melakukannya?" tanya Randu yang terdengar membingungkan untuk Amee. Terlihat jelas dari raut wajah perempuan itu yang kebingungan.
Alis Amee berkerut karena pertanyaan tersebut. "Saya ingin kembali diperhatikan oleh kamu."
Randu menggenggam kembali tangan Amee dan menyentuhkan tangannya pada rahangnya. "Aku akan lakukan! Tapi, sekarang kamu berangkat kerja dulu. Jangan biarkan kamu jadi telat dan malah diikuti karyawan kamu, Mas!"
"Baiklah."
Amee merapikan sekali lagi kemeja yang dikenakan Randu. Dia mengantar kepergian Randu bekerja. Sebelum pria itu benar-benar keluar dari rumah, dia kembali menatap lekat Amee dan bertanya hal yang tentu saja sudah tahu jawabannya apa. "Apa kamu akan tetap pergi ke distro?"
__ADS_1
"Mas, kamu tentu tahu kalau aku akan tetap ke sana!"
Randu mendengkus kasar. Dia sangat tidak suka Amee yang tidak bisa patuh dengan larangannya untuk tidak lagi menyibukkan diri di distro dan bersama pria seperti Seto. "Mas, kamu marah?"
Randu menyingkirkan tangan Amee yang hendak menyentuh wajahnya. Dia tersenyum tipis lalu mengecup singkat bibir Amee. "Saya tidak bisa memaksa kamu. Jadi untuk apa saya marah?"
"Biarkan Amee bekerja seperti biasa, Ran. Lagian ada Mama yang bisa jaga Safira. Bayi kalian akan baik-baik saja di sini!" Sika keluar kamar dengan membawa Safira.
"Mama mau jemur Safira?" tanya Amee sambil mengecupi wajah Safira.
"Iya. Kamu bersiaplah dan pergi bareng suamimu!" Amee dan Randu saling pandang, lalu dengan cepat Amee menolaknya.
"Kita beda arah, Ma. Aku bisa minta jemput Seto atau pakai taksi!" Tanpa mengatakan apa pun lagi Randu memilih pergi.
Pria itu hanya berpamitan kepada putrinya. Randu masih mencinta Amee, tetapi tidak ada gairah seperti yang dulu lagi.
***
"Kenapa dengan wajah cemberut kamu itu? Lelah merawat bayi?" tanya Seto kepada Amee yang terlihat tidak bersemangat.
Seto mendengkus kasar lalu menyingkir dari perempuan itu. "Aku sudah beri kamu jawabannya. Fokus sama suami dan anakmu itu. Lupakan perasaanmu dan aku!"
Amee menatap Seto kesal. Namun, dia tidak bisa melakukan apa pun. "Bertahanlah dengannya. Lupakan perasaanmu itu!" Seto mendekat, dia memegang pundak Amee. "Meski sekarang aku menyadari, tapi semua itu sudah telat untuk kita!"
Belum lama ini Seto memberitahu kepada Amee tentang perasaannya kepada perempuan itu. Dia akhirnya sadar jika hanya Amee satu-satunya yang selalu ada untuknya di saat keluarganya hanya bisa memberi tekanan.
"Kenapa gak bisa? Karena aku su–"
"Jangan salah artikan ucapanku saat itu. Lupakan apa yang pernah kukatakan dan yang perlu kamu ingat hanya aku seorang pria yang menyukai kakak iparku saja!"
Amee menggeleng. Dia memeluk Seto tanpa izin. "Kenapa begitu? Apa kamu sama sekali gak memikirkan aku? Selama ini aku selalu ada di sisimu cuma biar kamu sadar kalau aku ... ak–"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan suamimu? Mulai belajar mencintai dia, Am. Jangan berlarut dengan perasaanmu sama aku!" Seto melepas pelukannya saat melihat salah satu karyawannya memasuki gudang.
"Ada apa?" tanya Seto yang beralih berdiri membelakangi Amee, menyembunyikan Amee yang saat ini sedang menangis.
"Itu, cuma aku ambil barang!" Seto mengangguk dan mempersilakan karyawannya itu melakukan pekerjaannya. Dia mengabaikan lirikan dan tatapan bingung karyawannya itu karena melihat Amee yang menangis.
"Kamu lanjutkan pekerjaanmu, aku akan keluar!" Tangan Seto dicengkeram erat oleh Amee. Perempuan itu tanpa rasa malu mengecup bibir Seto dengan kaki berjinjit.
Terlihat wajah tegang Seto karena ulahnya. Perempuan itu hanya tersenyum tipis dan mengabaikan tatapan tajam Seto yang terlihat tidak terima dengan tingkahnya barusan. Amee mengabaikan Seto yang langsung pergi tanpa mengucapkan apa pun lagi.
"Cuma di depanmu aku bisa jadi diriku sendiri. Aku akan tetap buat kamu menyadari artinya aku dan minta agar aku melepaskan Mas Randu!"
Amee memang gila. Dia pantas menyandang gelar itu. Di saat semua orang mengetahui dirinya perempuan yang berhati besar karena sudah merawat bayi Aileen. Terlihat begitu mencintai Randu, tetapi nyatanya perempuan itu menyimpan perasaannya sendiri kepada pria lain.
"Maafkan aku, Mas. Kamu sunggu pria baik dan suami yang baik untukku, tapi jujur dari awal kamu cuma jadikan pengalihanku saja tentang perasaanku sama Seto!" Amee terkadang merasa lelah dengan kepura-puraan yang dia lakukan. Sehingga dirinya mengabaikan saja permintaan Randu, tidak pernah berinisiatif untuk memperbaiki hubungan dengan suaminya itu.
Di toko, Seto gegas menghampiri Aileen yang terlihat sibuk celingukan dengan tangan sedang memilah pakaian yang akan diambilnya.
Seto menghampiri Aileen dengan tatapan tidak sukanya. Pria itu makin terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Aileen setelah insiden Amee kecelakaan.
"Sedang apa kamu di sini?" tegur Seto sambil menghentikan tangan Aileen.
"Untuk apa lagi? Kakak kira aku ke sini karena mau makan?" tanya Aileen ketus. Mendengar nada bicara Aileen yang tidak seperti biasanya, pria itu mengangkat satu alisnya. Heran. "Kenapa? Kaget aku berubah?" tanya Aileen sambil menarik tangannya.
"Aku ke sini untuk mencari baju dan ketemu sama Mbak Amee. Tapi, lihat Kakak mengingatkanku dengan kejadian beberapa hari lalu!"
"Apa maksud kamu?"
"Kenapa Kakak kelihatan jadi orang yang penasaran begitu? Apa harus aku beritahu?"
Seto berdeham kesal. "Terserah kamu saja!" jawab Seto tenang.
__ADS_1
"Aku cuma mau bilang sama Kakak. Aku bisa memaafkan Mbak Amee dan menganggap hal itu gak pernah terjadi, tapi untuk Kak Seto rasanya sulit aku lakukan. Jadi, harus gimana?" tanya Aileen sambil tersenyum miring.
Aileen seketika menjadi ramah saat Amee menghampirinya dan membawa dirinya pergi ke ruangannya. "Apa maksud dia?"