
Aileen mencoba untuk menikmati liburan mereka. Dia sendiri heran, padahal Randu mengajaknya pergi sampai ke luar negeri untuk menjenguk mamanya, tetapi suaminya itu lebih banyak mengajaknya menikmati keindahan Kanada.
Sudah tiga hari mereka di sana, Randu belum pernah mengajak Aileen ke rumah sakit. Setiap Aileen menanyakan tentang kondisi Mira, Randu akan mengatakan hal yang sama 'Kondisi mama tetap sama!'
Beruntungnya, Aileen bisa mendapatkan informasi tentang Mira dari Lisa yang merupakan perawat mertua mereka di rumah sakit. Dia merasa lega karena Randu mengatakan yang sebenarnya, Mira masih tetap sama.
Lisa juga menyarankan agar Aileen tidak ke rumah sakit dulu, apalagi Safira enggan ditinggalkan Aileen.
"Apa kita gak kemalaman sampai rumah, Kak?" tanya Aileen. Mereka baru saja selesai berkeliling di salah satu museum yang terletak lumayan jauh dari rumah Mira.
Safira sudah tertidur lelap. Bayinya itu sama sekali tidak rewel walau selalu diajak berkeliling dan bertemu dengan banyak orang. Safira malah terlihat menikmati, asal tidak berjauhan saja dengan Aileen.
"Malam ini kita akan menginap di hotel saja. Seperti katamu tadi, sekarang sudah sangat malam jika sampai rumah!"
Aileen memilih menurut. Dia membiarkan saja Randu melakukan apa yang diinginkannya. Walau sebenarnya Aileen sendiri melihat ada jejak-jejak kesedihan di wajah Randu yang disembunyikannya.
Mereka sama-sama saling Menyembunyikan kesedihan.
Tidak lama kemudian, taksi yang mereka tumpangi tiba di sebuah hotel mewah. Aileen tidak tahu kapan Randu memesannya, yang jelas saat mereka sampai Randu ternyata sudah memboking sebuah kamar untuk mereka.
Mereka memasuki lift dan pergi ke lantai dua puluh. Saat memasuki kamar, Aileen dibuat kagum dengan keadaan kamar yang luas.
Dia beralih ke arah balkon, saat membuka pintu balkon Aileen disuguhkan dengan pandangan Kota Toronto yang begitu indah.
__ADS_1
"Kamu suka?" tanya Randu yang menyusulnya. Safira sudah terlelap di kasur empuk. Saat ini giliran mereka menghabiskan waktu berdua di balkon.
"Hotelnya mewah banget, Kak! Pasti Kakak keluarin banyak uang, kan?"
"Tidak masalah. Lagipula semua ini juga untuk kalian!"
Aileen mendengkus pelan. Dia membiarkan Randu memeluknya sambil menyaksikan keindahan malam di kota tersebut. "Aku boleh tanya sesuatu?"
"Tentu!" jawab Randu tanpa mengalihkan pandangan pada bangunan yang megah dan lampu-lampu kota.
"Kakak ada masalah apa? Maksud aku, kenapa Kakak seolah lupa tujuan kita ke sini untuk apa! Kakak bahkan larang aku untuk jenguk mama!"
Randu makin mengeratkan pelukannya. Dia menunduk untuk bisa menatap mata teduh Aileen. "Aku mengemaskan mama, sangat bohong kalau tidak. Hanya saja, kita tidak bisa terus terpuruk dengan memikirkan kondisi mama yang sedang berjuang. Lagipula kita belum sempat pergi berbulan madu setelah menikah, kan?"
"Cuma itu?"
"Ah, rasanya aku gak mau pulang, deh! Kita menetap di sini gimana, Kak?"
"Kamu yakin? Apa kamu tidak merindukan sahabatmu itu?
Aileen cemberut. lalu menenggelamkan wajahnya pada dada Randu yang dibalas dengan pelukan makin erat.
Udara dingin membuat pelukan mereka menjadi hangat. Mereka enggan beranjak masuk ke kamar dan masih ingin berlama-lama berdua seperti itu. Namun, saat mendengar suara rengekan Safira dengan terpaksa Aileen melepaskan pelukannya dan berlari menemui Safira.
__ADS_1
"Aku kira dia bangun, ternyata gak!" Aileen merasa lega. Dia mencium pipi Safira.
"Kamu belum mengantuk?" Aileen memperhatikan Randu yang masuk dan menutup pintu balkon. "Aku ingin kita bercerita kalau kamu belum mengantuk!"
Aileen sebenarnya ingin tidur, tetapi karena ucapan Randu dia memilih untuk menemani suaminya itu.
Mereka berdua duduk di sofa, menghidupkan televisi tanpa suara. Aileen merasa hangat berada di dalam pelukan Randu.
"Kak, sekarang Mbak Amee pasti kesepian. Dia sudah gak punya siapa-siapa selain aku, aku berpikir mau mengenalkan dia sama seseorang. Apa Kakak punya kenalan?"
Randu menggeleng. "Biarkan dia cari sendiri. Kita tidak perlu ikut campur dan juga aku harap kamu tidak terlalu dekat dengannya lagi!"
"Kenapa? Kakak takut Mbak Amee akan goda Kakak?"
"Bukan. Tapi, itu akan lebih baik daripada kita terlalu dekat dengannya!"
"Apa Kakak masih kesal dan marah karena tahu kalau Mbak Amee gak pernah cinta sama Kakak?" Aileen menjauhkan dirinya dari Randu. Dia ingin mempertahankan Randu dengan keseluruhan. Mengamati apa yang akan Randu katakan.
Randu berdeham lalu mengganti saluran. "Kenapa gak jawab?" tanya Aileen kesal. Dia mengambil remot dari tangan Randu dan menjauhkannya.
"Aku marah, tetapi aku juga sadar kalau sejak awal perasaanku untuknya pun hanya karena pelampiasan."
"Tentang?"
__ADS_1
"Sudahlah. Kenapa kita harus membahas hal yang sudah lalu. Kalau kamu mau aku mencarikan pria untuk Amee, aku akan bantu!"
"Nah gitu, dong!" Aileen kembali memeluk Randu. Sebenarnya dia hanya ingin Randu menerima usulannya, tidak ada niatan untuk mengungkit masalah Amee sama sekali.