
"Aku gak ngerti sama pria macam Bang El. Maksud aku kenapa dia sebegitu gigih dan yakin kalau kamu pasti akan menyusul dia ke Paris setelah melahirkan!" ujar Adis.
Mereka baru saja keluar dari bandara setelah mengantar kepergian El bersama juga dengan Lisa. Namun, merekam harus berpisah karena Lisa ada urusan lain. Walau begitu Aileen tidak begitu yakin dengan Lisa yang langsung pergi begitu saja.
Biasanya mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ketika berkumpul, meski Lisa dan Aileen tidak terlalu dekat dan selalu saja meributkan sesuatu. Tatapan Lisa yang berbeda kepada Aileen menambah keyakinan jika Lisa sengaja menghindar.
"Es krim kamu sampai meleleh begitu!" Aileen melihat es krimnya sudah mencair dan meleleh mengotori tangannya. Dengan sigap Adis memberikan tisu kepadanya.
"Makasih!"
Adis hanya berdeham dan tetap menikmati es krim miliknya. "Apa yang kamu pikirkan? Sedih Bang El pergi!" ledek Adis.
Aileen melirik kesal kepada sahabatnya itu. Dia bahkan menyerahkan es krim miliknya dan langsung Adis terima. "Wah, makasih loh kamu baik banget!"
"Dis, menurut kamu apa aku harus terima ajakan Bang El untuk menetap di sana juga?" tanya Aileen sambil memandang jalanan yang lumayan padat dengan suara klakson yang saling bersahutan.
Adis memperhatikan Aileen lekat tanpa berucap apa pun. "Kamu kenapa diam, sih?" gerutu Aileen kesal. Dia lalu mengambil paksa cone yang sudah digigit sedikit oleh Adis dan menikmatinya.
"Kamu gak mau mempertahankan hubunganmu sama Kak Randu?"
Aileen menghela napas pelan. Dia membersihkan sudut bibirnya dari sisa cone yang bisa saja menempel. Dia lalu menggeleng.
"Aku gak mau menjadi begitu jahat. Aku sudah mengkhianati Mbak Amee, Dis, mana mungkin aku terus buat dia menderita dengan merebut suaminya. Lagipula orang tua Kak Randu gak menyukai aku juga!"
Aileen menoleh dan tersenyum tipis menanggapi Adis yang mengusap pundaknya. "Aku tahu kamu kuat. Tapi, jujur aku merasa di sini yang menderita itu kamu. Kamu yang harus mengandung anak dari Kak Randu dan nantinya harus meninggalkan anaknya yang sembilan bulan kamu kandung!"
"Aku gakpapa. Seperti kata kamu barusan, aku kuat. Aku sudah melewati hal yang lebih buruk lagi dari saat ini, kan?"
"Iya." Adis memeluk Aileen dari samping. Dia lalu menatap wajah Aileen lekat. "Kamu mencintai Kak Randu?"
Aileen terkekeh membuat Adis melepaskan pelukannya. "Kamu cinta sama dia?"
"Apa aku harus kasih tahu? Tapi, masalahnya aku gak akan bisa dapatkan dia!"
"Kalau begitu pergilah jauh dan lupakan Kak Randu juga anakmu nantinya."
__ADS_1
***
"Kenapa Kakak menginap di sini lagi? Apa karena Kakak yakin Mbak Amee gak akan curiga dan mengira Kakak menginap di apartemen yang satunya?" tanya Aileen penasaran sambil melipat kemeja Randu.
"Saya lebih nyaman di sini!" Aileen mengerutkan keningnya dan menatap Randu dengan tatapan ragu. Dia lalu menghela napas pelan dan memalingkan wajahnya.
"Kamu tidak percaya?" Aileen mengangguk.
"Tapi Kakak juga harus memikirkan perasaan Mbak Amee. Meski dia terlihat biasa saja, bukan berarti dia akan begitu. Bisa saja dia memendam perasaan sedih karena Kakak lebih nyaman tidur tanpa dia!"
Randu terlihat tidak peduli. Dia beranjak pergi ke balkon.
Aileen langsung menyusul suaminya itu setelah merapikan kemeja yang besok akan dipakai Randu bekerja. "Kakak cinta sama Mbak Amee?" tanya Aileen yang memilih berdiri di samping pria tersebut.
Randu berdeham. "Tapi kenapa malah terus-terusan menghindar dari Mbak Amee? Kakak harus bisa selesaikan masalah kalian!" Randu menatap Aileen lekat lalu melingkarkan tangannya pada pundak Aileen. Pria tersebut merapatkan tubuh mereka.
"Setidaknya saat kita bersama jangan membahas siapa pun!"
"Kenapa? Kakak mau memiliki kenangan banyak sama aku sebelum kita berpisah?" Randu diam saja dan Aileen menganggap jawaban suaminya itu sebagai bentuk persetujuan.
"Kenapa kamu sangat ingin melakukannya?" Randu bertanya tanpa menatap Aileen. Dia lebih senang memperhatikan bintang-bintang di langit.
"Karena aku istri Kak Randu juga sama seperti Mbak Amee. Lagipula Kakak gak mungkin minta aku melakukannya setelah melahirkan. Saat itu aku bukan lagi istri Kakak, kan?"
Randu melirik Aileen yang tersenyum. Dia menghela napas pelan lalu mengurai pelukannya. "Sebaiknya kamu masuk. Udara malam tidak bagus untuk perempuan hamil!"
"Apa Kakak marah?"
"Tidak!"
"Kalau begitu biarkan aku temani Kakak di sini," pinta Aileen dengan tatapan memelasnya yang berhasil membuat Randu luluh.
Beberapa detik dan menit mereka sama-sama terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesekali Aileen yang bosan melirik Randu. Pria tersebut hanya terus saja memandang langit malam yang makin indah.
__ADS_1
"Kak ...."
Randu beralih menatap Aileen. "Kita masuk sekarang!"
"Kamu masuklah lebih dulu!"
Mereka kembali diam. Namun, Aileen lekas pergi meninggalkan Randu dan membukakan pintu untuk tamunya.
Adis dengan mata sembapnya datang ke apartemen saat ada Randu. Perempuan itu langsung memeluk Aileen dan menghiraukan Aileen yang tidak sengaja pinggangnya menyenggol pinggiran sofa.
Aileen meringis menahan sakit, tetapi dia berusaha menahannya. "Aku boleh menginap di sini?" tanya Adis setelah dia melepas pelukannya.
Aileen menjadi bingung. Walau ada dua kamar di apartemen tersebut, tetapi dia tidak mungkin membiarkan Adis tidur di kamar yang saat ini sedang digunakan oleh bibi untuk tidur. Aileen juga tidak mungkin mengajak Adis ke kamarnya, sedangkan ada Randu.
"Boleh, kan?"
"Kamu kenapa? Sekarang kamu duduk dulu, aku akan ambil minum!" Adis mengangguk. Dia membiarkan saja Aileen yang pergi ke dapur. Dia kembali menangis.
"Saya akan pergi!" ujar Randu yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya. Pria tersebut sudah berpakaian lengkap lagi.
"Kakak mau ke mana?"
"Saya akan pulang. Kamu tenangkan temanmu itu. Dia butuh kamu untuk mendengarkan ceritanya!"
Aileen menghela napas berat. Padahal dia telah berharap malam ini akan merasakan kehangatan dari pelukan Randu. Dia tidak akan kesulitan lagi saat merasa pegal di tubuhnya karena Randu akan siap membantu mengurangi rasa pegalnya itu dengan pijatannya.
"Aku minta maaf. Karena temanku Kakak sampai harus pergi!"
Randu mengusap rambut Aileen yang terurai. Dia menarik kepala Aileen dan mengecup lama kening istrinya itu. "Saat ini dia butuh kamu. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saya!"
Aileen hanya mengangguk. Dia hanya berdiam diri memperhatikan langkah Randu yang menjauh.
Aileen lekas menghampiri Adis untuk memberikan air minum dan menenangkannya.
"Apa yang terjadi? Kamu menangis sepanjang jalan?" Adis mengangguk. "Kenapa?"
__ADS_1
Bukannya menjawab, Adis meletakkan gelas yang masih terisi air minum itu dengan kasar sehingga membuat airnya muncrat dan membuat Aileen terkejut. "Aileen, apa aku gak pantas dicintai?"