
Setelah sarapan Randu berencana akan ke rumah sakit tanpa mengajak istri dan anaknya, tetapi Aileen terus saja merengek meminta ikut. Aileen berpikir dia pasti akan jenuh berada di rumah besar dalam keadaan sepi, hanya ada seorang pembantu yang baru dia tahu dan seorang tukang kebun yang merangkap menjadi supir juga.
Sebenarnya bisa saja Randu pergi dengan mereka dan setelah pulang dari rumah sakit akan mengajak mereka berkeliling Kota Toronto. Namun, mengingat Safira yang masih bayi dan rentan terkena virus jika berada di rumah sakit terlalu lama membuat Randu memilih pergi sendiri.
"Di sini ada bibi. Sebentar lagi Sasa akan pulang dari sekolahnya. Kamu tidak akan kesepian!"
"Aku mau jenguk mama juga, Kak! Ayolah!"
Randu gemas sekali, dia tidak tahu Aileen akan begitu manja seperti ini. Padahal yang dia tahu selama ini, Aileen termasuk perempuan mandiri walau beberapa hal memang tidak dia kuasai. Namun, dia gigih untuk bisa melakukannya dan di sini istrinya itu mulai memperlihatkan sisi manjanya.
"Baiklah, tapi bagaimana dengan Safira? Apa harus kita bawa? Rasanya tidak mungkin!"
Aileen menghela napas pelan. Dia mengangguk paham dan menyerah merengek kepada Randu agar diperbolehkan ikut. "Aku janji tidak akan lama. Setelah aku pulang, kita pergi jalan-jalan. Bagaimana?" Randu memegang kedua bahu Aileen dan meremasnya pelan. Dia membuat Aileen hanya menatapnya seorang dan itu menyenangkan.
"Janji?"
"Tentu!" Randu menjauhkan diri. Dia mencubit ujung hidung Aileen gemas. "Jadi sekarang aku boleh pergi?" Aileen hanya mengangguk. "Baiklah, kalau kamu bosan berkelilinglah dengan Safira. Lihatlah dia sepertinya betah di sini?"
Aileen menoleh ke tempat di mana Safira berada sekarang. Bayi itu sama sekali tidak rewel, selain saat kemarin ketika kelelahan saja. "Kakak benar."
"Saat aku pulang, aku harap kalian sudah bersiap dan kita langsung berangkat!" Aileen mengangguk. Dia mengantar kepergian Randu hanya sampai pintu kamar. Tidak mungkin dia meninggalkan Safira sendirian di kamar, sedangkan dia pergi sampai di ruang tamu.
Rumah orang tua Randu begitu luas.
"Hati-hati!"
"Baiklah. Sekarang aku pergi!" Randu mencium kening Aileen sebagai perpisahan pagi itu. Randu memilih pergi ke rumah sakit diantar sopir daripada menggunakan mobil sendiri.
__ADS_1
"Sekarang tinggal kita berdua di sini. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Aileen kepada Safira. "Ah, sebentar. Mama akan siapkan pakaian untuk kita nanti jalan-jalan!"
Aileen lekas membongkar kopernya. Mereka hanya membawa satu koper berukuran besar saja, Randu melarang membawa banyak pakaian karena dia berjanji akan mengajak Aileen dan Safira belanja di negara orang ini.
"Pakaian ini cocok untuk kamu, kan?" Aileen memperlihatkan pakaian berwarna kuning kepada Safira dan bayi itu merespons dengan tertawa dan hendak menghampirinya dengan merangkak.
Aileen meraih Safira dan memangkunya. "Kamu mau pakai baju ini? Baju ini memang cocok digunakan waktu musim panas begini, kan?"
Safira mencoba meraih bajunya dan mengoceh. Aileen gemas dan menciumi pipinya. "Hah, kapan kamu akan panggil aku mama? Hem?"
Aileen dan Safira sama-sama terkejut saat pintu kamar tiba-tiba dibuka. Seorang remaja cantik masuk ke kamar dan terlihat begitu senang. "Wow. Mama benar. Aku punya sepupu!" ucapnya begitu girang.
Remaja itu mendekat dan langsung mencium gemas Safira. Aileen ingin melarangnya, tetapi dia urungkan karena takut menyinggung gadis manis itu.
"Kamu siapa?" tanya Aileen penasaran.
"Oh, Hai, Tante. Aku Sasa anaknya mama Lisa dan Papa Ardi!" Aileen mengangguk, melihat dari dekat terlihat sekali gadis manis itu begitu mirip dengan Lisa. Apalagi senyumnya.
"Iya, dong. Tante juga cantik. Aku gak nyangka Om Randu bisa punya anak!" Sasa terkekeh pelan setelah mengatakannya, sedangkan Aileen hanya tersenyum menanggapi remaja di depannya itu. "Ups, maaf. Aku lupa belum cuci tangan dan sudah peluk, cium dia!" Sasa tiba-tiba menjauh.
Aileen mendesah pelan. Dia juga merasa salah karena tidak berani menegurnya. "Gakpapa. Semoga Safira gak terkena bakteri!"
"Namanya Safira?" Aileen mengangguk membalas pertanyaan Sasa. "Nama yang bagus. Aku akan ke kamarku untuk ganti pakaian dan ke sini lagi!" Sasa lekas pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa dia gak sekolah? Kenapa sudah pulang?" gumamnya. Dia lalu mencari ponselnya yang berdering dan lupa meletakkannya di mana.
"Kak Randu? Apa dia sudah sampai rumah sakit?" Aileen begitu senang mendapat panggilan dari Randu, padahal belum ada satu jam mereka berpisah.
__ADS_1
***
Randu baru saja sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke tempat mamanya dirawat, kebetulan di sana dia langsung bertemu dengan Lisa yang kebetulan merupakan perawat yang ikut merawat Mira. "Bagaimana keadaan mama?"
"Mama sudah melewati masa kritisnya. Ini suatu keajaiban, mungkin saja mama merindukan kalian. Di mana Aileen?" tanya Lisa sambil mencari keberadaan Aileen yang tidak terlihat.
"Aku tidak membawanya ke sini. Dia di rumah!"
"Oke. Lebih baik juga begitu, dia masih lelah dan mungkin saja masih mengalami jetlag. Aku sudah membuat minuman untuk kalian. Minuman itu sangat bagus untuk kalian yang telah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan, sudah kalian minum, kan?" Randu hanya mengangguk saja. Dia memperhatikan tubuh Mira yang berbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit, lewat kaca pembatas.
"Apa kamu mau menemui mama, Ran?"
Randu menoleh dan menatap Lisa lalu menggeleng. "Mama butuh istirahat. Kita masih lama di sini, jadi masih ada waktu!"
"Tapi, bukankah setidaknya kamu jenguk mama dulu walau sebentar? Mungkin dengan begitu mama akan cepat sadar. Aku yakin sekali, dia merindukan kalian walau baru beberapa waktu bertemu."
"Benarkah?" Lisa mengangguk, meyakinkan Randu untuk melakukannya. "Baiklah!"
"Mau aku temani masuk ke ruangan itu?" Seorang rekannya memanggil, Lisa tidak bisa menemani Randu menjenguk Mira. "Maaf, aku masih ada kerjaan lain!" Lisa pergi meninggalkan Randu seorang diri setelah sebelumnya menawarkan diri untuk menemaninya menjenguk Mira.
Pria itu bergeming di tempatnya. Dia lalu memilih untuk menghubungi Aileen. Melihat kondisi Mira membuatnya merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Dia butuh bicara dengan Aileen.
Beruntung Aileen dengan cepat menerima panggilannya. Mereka berbincang sebentar dan Randu memilih untuk pergi, dia tidak jadi menjenguk Mira.
"Kamu sudah jenguk mama?" tanya Lisa yang kembali menghampiri Randu saat akan masuk lift.
"Tidak sekarang. Besok aku akan datang lagi. Tolong jaga mama!"
__ADS_1
"Tentu. Kamu jangan khawatir." Randu tidak menanggapi lagi ucapan Lisa. Dia memilih berlalu masuk lift untuk kembali pulang, menjemput istri dan anaknya.
"Dia banyak berubah, padahal dulu dengan Amee dia gak begitu deh! Benar yang mama bilang, seharusnya sejak awal Randu menikahnya dengan Aileen."