Skandal Termanis

Skandal Termanis
Malam Ini Milikku


__ADS_3

Bukan main senangnya Aileen ketika tamu yang datang tidak lain adalah Randu, pria itu kembali datang padahal dia mengatakan akan datang esok hari, meski dengan wajah yang terlihat kusut.


Kehadiran Randu membuat Adis memilih untuk pulang, apalagi setelah mengetahui hubungan Aileen dengan Randu membuatnya memilih untuk tidak hadir di antara mereka.


Adis cukup paham jika mereka berdua butuh ruang untuk berdua saja.


"Apa temanmu mengetahui sesuatu tentang kita?" Setelah terdiam beberapa saat sambil menikmati menonton film di layar televisi, Randu memulai membuka obrolan terlebih dahulu. Dia memperhatikan Aileen yang sedang duduk dengan kaki bersila di samping sambil memangku bantal.


Aileen hanya mengangguk tanpa menoleh sambil menikmati ice cream yang tadi dibelikan oleh Adis, selain makanan yang habis olehnya sendiri. "Lalu apa tanggapannya?"


"Tentu saja terkejut. Awalnya. Dia juga marah sebenarnya saat mengetahui alasan aku hilang karena apa, tapi setelah tahu siapa pria yang buat aku begini dia malah lega!" Aileen memberikan sesuap ice cream kepada Randu dan pria itu tidak kuasa menolaknya.


"Enak?" Aileen hendak memberi sesuap lagi kepada Randu, tetapi pria itu menahannya. "Kenapa? Gak enak, ya?" tanya Aileen heran. Suapan itu akhirnya dia nikmati sendiri.


"Saya merasa Amee sedang menyembunyikan sesuatu!"


Randu mengambil alih sendok dari tangan Aileen dan menikmati ice cream tersebut saat Aileen lengah karena pernyataannya tentang Amee.


"Apa itu alasan Kakak ke sini? Terus di mana Mbak Amee sekarang? Di rumah mama?"


Randu berdeham. "Kamu tidak suka saya datang ke sini karena Amee?" Dengan cepat Aileen menggeleng. Dia tidak mau kesempatan yang bagus untuk membuat Randu makin dekat dengannya sia-sia karena ketidaksukaannya dari alasan Randu datang.


"Siapa bilang! Aku suka, dia juga suka!" Aileen meraih tangan Randu dan meletakkan di perutnya. "Bahkan aku sudah berpikir malam ini gak akan bisa tidur karena gak ada Kakak!"


"Kamu menjadi perempuan manja dalam beberapa hari ini!" Randu mendorong pelan kening Aileen dengan telunjuknya.


Aileen langsung memeluk Randu, tidak peduli cup ice cream yang masih dipegangnya itu terjatuh dan isinya mengenai tubuh Randu. "Tapi Kakak suka, kan?" Randu tidak menjawab. Dia membalas pelukan Aileen.


"Ah, aku baru ingat sesuatu!" Saat Randu tengah menikmati aroma wangi pada tubuh Aileen, perempuan itu tiba-tiba melepaskan pelukannya.


Kening Randu berikut samar, dia melirik cup ice cream yang miring dan langsung mengambilnya. "Tentang apa?" Randu meletakkan cup tersebut di meja.


Aileen menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum usil. Dia bangkit berdiri dan mengajak Randu ke kamar.


"Setidaknya matikan dulu televisinya!"


Randu pasrah saja saat Aileen memintanya duduk di atas kasur dan perempuan itu mengambil sesuatu di laci meja riasnya.


"Untuk apa benda itu?" tanya Randu heran. Aileen menghampirinya sambil membawa dua sachet masker wajah.


"Aku mau kita pakai ini. Lihat deh, selain mata Kakak yang berkantung, wajah Kakak juga tampak gak segar. Jadi kita pakai ini untuk menyegarkan kembali wajah Kakak biar makin ganteng!"

__ADS_1


Aileen menyusul Randu duduk di atas kasur. "Ah, aku lupa. Wajah Kakak harus dibersihkan dulu. Tolong ambilkan pembersih wajah dan kapas di sana!" pinta Aileen sambil menunjuk meja riasnya.


Randu menghela napas pelan, meski dirinya enggan melakukan apa yang Aileen inginkan. Namun, melihat wajahnya yang ceria membuat pria itu tidak kuasa menolak.


Tanpa merasa kesusahan, Randu sudah menemukan pembersih wajah yang Aileen inginkan. Dia kembali bergabung dengan istrinya itu.


"Wah, Kakak tanpa tanya langsung tahu saja pembersih wajahnya yang mana!" Aileen langsung membasahi kapas dengan air pembersih wajah. Dia mendekatkan diri pada wajah Randu dan mulai membersihkan wajah pria tersebut.


Selama Aileen membersihkan wajah Randu, pria tersebut tidak hentinya memperhatikan wajah serius Aileen. Sudut bibirnya bahkan terangkat sedikit.


Mengetahui tengah ditatap oleh suaminya, Aileen membalas tatapan tersebut dan tanpa Randu sangka dengan berani Aileen memberi kecupan singkat pada sudut bibirnya.


Aileen tersenyum saat melihat Randu yang amat terkejut dengan kelakuannya itu.


"Sekarang waktunya Kakak berbaring, aku akan pasang maskernya di wajah Kakak!" Aileen memaksa Randu berbaring. Dia langsung memasang masker pada wajah Randu.


"Jangan langsung dilepas. Tunggu setidaknya lima belas menit!" Randu tidak menjawab, dia memilih memejamkan mata menikmati sensasi dingin yang dia rasakan di wajahnya.


Saat gilirannya memakai masker, ponsel Randu berdering. Aileen dengan cepat mengambil ponsel tersebut di saku celana Randu.


"Mbak Amee," gumam Aileen. Dia melirik Randu yang seolah tidak terganggu dengan suara dering ponselnya. Aileen lalu memutuskan menolak panggilan dari Amee dan meletakkan ponsel tersebut jauh dari Randu.


'Malam ini dia milikku, Mbak!'


***


"Semalam Kakak tertidur saat maskernya masih menempel di wajah. Pasti gak sadar aku pijat wajahnya!"


"Saya menikmatinya. Kamu memanjakan saya, di saat Amee memilih menolak melayani saya!"


Senyum Aileen meredup. Langkahnya terhenti membuat Randu keheranan. "Ada apa?"


Aileen melepaskan genggamannya pada Randu. Akhirnya dia tahu alasan Randu semalam datang karena apa. "Ayo kita duduk dulu. Kamu pasti lelah!" Aileen menurut. Mereka duduk di bangku tidak jauh dari mereka.


Aileen berusaha mengatur emosinya karena cemburu mengetahui alasan Randu menginap di apartemen.


"Aku mau minum!" Aileen menatap Randu dengan tatapan memohon. "Aku mau minum, Kak!"


"Baiklah. Kamu tunggu di sini sebentar!" Aileen hanya mengangguk. Dia memperhatikan Randu yang menjauh darinya.


Kini dia dilanda kecemasan. Bisa saja dirinya mengatakan agar Randu bisa meminta haknya juga kepadanya, tetapi bayangan penyatuan yang menyakitkan itu sangat mengganggunya, walau saat itu dia dalam keadaan tidak sadar penuh. Apalagi dia yakin jika Randu pun tidak akan memintanya dilayani karena sedang hamil.

__ADS_1


Aileen cemas, saat itu dia melihat sepasang suami istri yang sedang berjalan-jalan santai. Sang istri sedang hamil dan terlihat bahagia, begitu pun suaminya. Berbeda dengan Randu yang tidak menikmati kebersamaan mereka saat berdua.


Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Randu yang sudah kembali dengan membawa sebotol air mineral untuknya. Dia membalas senyum Randu yang menurutnya semu.


"Ini, minumlah!" Randu menyerahkan minuman tersebut setelah membuka botolnya.


Aileen menenggak sampai setengahnya. Dia menyerahkan kembali minuman tersebut kepada Randu.


"Masih mau jalan-jalan atau balik ke apartemen?" Pria itu melihat arlojinya sejenak. "Kita balik saja, ya!" Dia berdiri, tetapi Aileen menarik tangannya.


"Kak, aku ...." Aileen gugup. Randu kembali duduk, dia mencoba menenangkan Aileen. Wajahnya sedikit pucat.


"Kamu sakit?"


Aileen menggeleng. "Kak!"


"Katakanlah. Ada apa?"


Perempuan itu menelan ludahnya kasar saat Randu menatapnya dengan lekat. Dia memalingkan wajah sejenak ke sebelah kirinya lalu kembali menatap Randu yang menunggunya dengan setia.


"Aku mau bilang, kalau aku mau melakukan hal yang Mbak Amee gak mau untuk melakukannya!" Alis Randu terangkat sebelah. "Aku mau Kakak bahagia, meski aku tahu Kakak cuma menginginkannya sama Mbak Amee, tapi setidaknya kasih aku kesempatan untuk berbakti sebelum kita berpisah!" ucap Aileen sungguh-sungguh.


Randu terhenyak mendengarnya. Dia lalu mengacak rambut Aileen dan tertawa. "Kenapa bilang begitu? Saya sangat bahagia di dekat kamu, bisa menemani kamu yang mulai kesusahan berjalan karena hamil. Mana mungkin saya memintanya juga saja kamu, jangan pedulikan ucapan saya tadi!"


Aileen menghela napas kasar mendengar jawaban Randu untuknya. "Kakak harus kerja, kan? Kita pulang!" Aileen mengajak Randu untuk kembali ke apartemen dengan menyembunyikan kekecewaannya karena penolakan tersebut.


***


"Suami kamu benar-benar keterlaluan, Am. Kenapa dia gak mau menginap di sini saja, malah pulang!" gerutu Sika kesal. Padahal dia ingin mengatakan sesuatu kepada Randu, tetapi menantunya itu malah pamit pulang begitu saja.


"Memang kenapa Kalau Mas Randu pulang, Ma? Lagipula aku tahu Mas Randu gak pernah betah menginap di sini karena sering mendengar sindiran Mama yang buatnya risih!" bohong Amee, dia tahu jelas alasan Randu pulang ke rumah mereka.


Amee menolak Randu, bukan hanya karena dia tidak nyaman melakukannya di rumah mamanya, tetapi dia ingin menjaga hati Seto yang mulai menerima perhatiannya. Bukan sebagai sahabat, tetapi perempuan yang memiliki perasaan lebih kepadanya.


Ah, mengingat kembali pria kemayu itu membuatnya tidak bisa menahan senyum. Pria tersebut entah dalam keadaan sadar atau tidak saat mengatakannya, sudah berhasil membuatnya seolah memiliki kesempatan untuk mereka bisa bersama.


"Kenapa kamu?" tanya Sika heran. Amee hanya menggeleng saja.


"Aneh!"


"Aku ke kamar dulu!" Amee langsung meninggalkan Sika dengan pergi ke kamarnya. Amee langsung menghubungi Seto. Dia sudah tidak sabar membuat Seto sadar jika dirinya tulus.

__ADS_1


"Persetan dengan Mas Randu!"


__ADS_2