Skandal Termanis

Skandal Termanis
Benihnya yang Disemai


__ADS_3

Randu begitu kesal mengetahui Aileen tidak jadi memeriksakan kehamilannya. Padahal dia berharap akan mendengarkan Aileen bercerita apa saja yang dikatakan dokter. Jika saja saat itu dirinya tidak ada urusan mendesak, sudah dipastikan Aileen akan melakukannya.


Randu hanya bisa menatap kesal kepada Aileen karena ada Amee di sekitar mereka. Randu sangat tidak mungkin membuat Amee curiga jika dirinya bertindak gegabah.


"Besok kamu antar sama dia, mungkin dia merasa gugup!" usul Randu, pria itu tidak menyadari Aileen yang merasa kesal dengannya.


"Aku bisa pergi sendiri. Hari ini cuma sedikit sial saja!" tolak Aileen tegas. Dia merasa Randu sama sekali tidak peduli kepadanya, meski kenyataannya Randu memang hanya menginginkan banyinya saja.


Amee menghela napas pelan. "Yang dikatakan Mas Randu benar, lebih baik besok Mbak temani kamu. Mbak akan bilang sama Seto kalau besok telat datangnya!"


Aileen menggeleng. "Mbak, gak perlu. Lagipula kenapa aku harus banget periksa kandungan? Selama ini aku cuma sekali melakukannya dan janinku aman-aman saja!" Mata Randu berkilat penuh amarah. Dia sudah sangat ingin memarahi Aileen mengetahui jika perempuan itu begitu abai dengan kandungannya sendiri.


"Aileen, meski kamu gak menginginkan bayi kamu nantinya, bukan berarti kamu mengabaikan keselamatannya! Lagipula memeriksakan kandungan itu setidaknya agar kamu mengetahui perkembangannya!" Amee berbicara dengan hati-hati. Dia mengusap perut Aileen penuh sayang.


"Iya, Mbak. Tapi, aku gak perlu diantar. Lagipula ayahnya saja gak peduli, jadi aku merasa gak nyaman mendapatkan perhatian dan kepedulian dari kalian!" Setelah mengatakan itu Aileen memutuskan pergi ke kamarnya.


Sudah cukup dirinya didesak untuk mengikuti setiap ucapan dari Amee ataupun Randu. Padahal dia sudah cukup puas telah membuat El malu di depan banyak orang karena ulahnya.


"Aku cuma takut kalau nanti bayinya kenapa-kenapa, Mas!" Amee merasa sedih karena Aileen yang begitu keras kepala dengan pendiriannya. Randu mencoba menenangkan istrinya yang bersedih. Dia akan bicara dengan Aileen untuk mengubah sikapnya, baik itu saat bicara dengan Amee ataupun tentang ketidakpeduliannya kepada kandungannya sendiri.


"Kamu tenanglah, besok kita bicarakan lagi dengannya. Saat ini lebih baik kita istirahat. Kamu pasti lelah seharian di distro!" Amee mengangguk pasrah. Dia membiarkan saja saat Randu mengangkat tubuhnya membawa ke kamar.


Randu begitu lembut memperlakukan Amee, dia bahkan membuat Amee yang sedang sedih karena kekhawatirannya kepada Aileen sampai terbuai.


Mereka melakukannya seperti pasangan yang baru menikah. Setelah memastikan Amee terlelap dalam tidurnya, Randu membenahi selimut dan menariknya sampai leher Amee. Dia memandangi wajah lelah istrinya dan mengecup kening Amee dengan lembut.


Randu gegas keluar dari kamarnya, dia pergi ke kamar Aileen ketika sudah tengah malam dan mendapati pintu kamar tersebut dikunci dari dalam. Randu terpaksa mengetuk pintu kamar Aileen berulang kali, dia tidak peduli jika Aileen sudah tertidur karena keinginannya memberi Aileen hukuman.


"Kak ...." Setelah ketukan yang entah ke berapa, Aileen akhirnya membukakan pintu dengan wajahnya yang masih segar.


Aileen melengos masuk membiarkan Randu mengikutinya. Tidak lupa pintu kamar ditutup, Randu tidak mau kecolongan jika tiba-tiba saja Amee memergokinya dan Aileen di kamar.


"Kamu belum tidur?" Randu memperhatikan kamar Aileen yang terlihat sedikit berantakan. Pria itu melihat gorden yang belum tertutup sempurna dan sepatu yang ditaruh asal.


"Insomnia!" jawab Aileen santai. Dia merangkak ke ranjang dan duduk bersila di saja. Aileen menutupi pahanya yang sedikit terekspos dengan bantal. "Kenapa?"


Randu menyentil kening Aileen dan duduk di sisi Aileen. "Kenapa kamu melakukannya?"


Aileen menatap tanpa minat pria yang sudah menjadi suaminya itu. "Yang mana? Bukankah hari ini aku banyak salah? Jadi katakan yang jelas, dong!"


"Syukurlah kamu menyadari kesalahan kamu. Saya harap besok kamu meminta maaf kepada Amee karena sudah membuatnya sedih!" Randu menatap Aileen lekat. "Amee sangat khawatir dengan janinmu. Dia tidak mau terjadi hal buruk dengannya!" lanjut Randu.


Aileen terkekeh pelan. Dia melepaskan ikat rambutnya dan membiarkan rambutnya yang sebatas punggung tergerai. "Jadi yang Mbak Amee dan Kakak khawatirkan cuma dia?" Aileen menunjuk perutnya sendiri. "Oke! Mulai besok aku gak akan buat kalian khawatir lagi dan akan aku pastikan dia gak akan lahir cacar!" Aileen memalingkan wajahnya menutupi kesedihannya.


Meski dia mengetahui keberadaannya kembali di rumah tersebut hanya karena kehamilannya, Aileen tetap merasa sedih diabaikan. "Sekarang Kakak pergilah!"

__ADS_1


"Ada lagi yang harus kita bicarakan!" Randu menyentuh rahang Aileen dan langsung ditepis.


"Kakak bilang saja, gak perlu sentuh segala!" Aileen menatap tajam kepada Randu yang terlihat sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan dan sikapnya itu.


"Kenapa kamu pergi dari rumah sakit?"


"Kakak mau tahu?" Randu mengangguk. "Aku tadi bertemu dengan orang yang menjebakku. Apesnya dia malah terkena muntahan!" Aileen menutupi wajahnya menahan tawa mengingat betapa dirinya yang merasa puas melihat wajah merah padam El.


"Kenapa bisa sampai muntah?" Aileen melihat wajah Randu yang berubah begitu panik. Dia bahkan menyingkirkan bantal di pangkuannya dan mendekatkan kepalanya pada perut Aileen. Pria itu berhasil membuat Aileen gugup hanya tengah sentuhannya saja.


"Dia kenapa?" tanya Randu menatap Aileen yang menunduk.


"Memang dia kenapa?" tanya Aileen kebingungan. Randu gemas. Dia kembali menyentil kening Aileen.


"Kakak, sakit!" seru Aileen tidak terima.


"Rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan rasa khawatir saya mendengar kamu muntah!" ungkap Randu.


Aileen tertawa kencang. "Astaga, lebay banget, deh! Kakak harusnya senang karena bayi ini tahu caranya balas dendam!" Kening Randu berkerut mendengar ucapan Aileen. "Aku mual sampai memuntahkan isi perutku karena melihat rambutnya!"


Bibir Randu sedikit terbuka mendengar ucapan Aileen, dia terkejut. Namun, beberapa detik kemudian keterkejutan itu membuatnya perlahan merasa senang dan damai hanya karena melihat tawa dari Aileen.


"Kak ... Kakak!" seru Aileen saat melihat Randu yang menatapnya sambil senyum-senyum sendiri. Dia melambaikan tangannya di depan wajah Randu, tetapi tidak direspons. Aileen lalu mencubit pinggang Randu gemas. "Kakak melamun?"


"Kakak kesambet apa?"


Randu akhirnya menyadari dirinya yang berkata asal. Dia lalu mencubit pipi Aileen dan membuat perempuan itu cemberut kesal. "Sekarang tidurlah. Besok kamu harus pergi ke rumah sakit lagi!."


Aileen menggeleng. "Aku gak ngantuk!"


"Tapi sekarang sudah terlalu malam untuk wanita hamil seperti kamu begadang!"


Alis Aileen terangkat. "Kakak khawatir sama aku atau sama dia?"


"Jangan banyak tanya. Sekarang tidurlah!" Aileen menggeleng. Dia bersikukuh belum mengantuk dan enggan memejamkan mata.


"Mau saya temani?" Aileen terkesiap. Dia menatap Randu penuh rasa curiga lalu menggeleng. "Kalau begitu tidurlah!"


"Aku gak bisa tidur, Kak. Kenapa harus dipaksa! Mending Kakak balik ke kamar, jangan sampai Mbak Amee kebingungan! Untuk besok jangan khawatir, aku gak akan melakukan kebodohan seperti hari ini!"


Aileen turun dari ranjang hendak mengantar kepergian Randu dari kamarnya. Namun, pria itu menahan dirinya. "Tidurlah, saya akan menemani kamu!"


Aileen awalnya ragu menuruti permintaan Randu, tetapi melihat tatapan Randu yang tulus dia luluh. Aileen merebahkan tubuhnya dan membiarkan Randu yang duduk di sampingnya sambil mengusap perutnya tersebut.


Perlahan Aileen merasakan kantuk, matanya terpejam dengan senyum tipis yang terbit di kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


Memastikan jika Aileen sudah tertidur pulas Randu memutuskan kembali ke kamar. Pria itu tidak menyadari jika Aileen kembali terjaga dengan perasaan hampa.


Aileen merasa kepedihan hidup yang dihadapinya selama ini. Semua orang menyayangi Amee, Sika yang dia anggap sebagai mama kandungnya saja membenci dirinya. Papanya pun lebih menyayangi Amee, meski tidak seperti Sika yang terkadang berlaku kasar kepadanya.


Saat ini, di saat dia mulai berharap bisa menggantungkan hidupnya meski sementara dengan Randu, nyatanya kedudukan Amee tetap saja tidak bisa dia kalahkan.


***


Aileen mengabaikan kemesraan yang diperlihatkan terang-terangan oleh Randu dan Amee saat mengantarkannya periksa. Di ruang tunggu, Amee tahu caranya membuat semua mata tertuju kepada mereka.


Dia bahkan mengabaikan keberadaan Aileen di sampingnya. Diam-diam Aileen merasa risih dan kesal. Dia melirik tidak suka dengan keduanya.


"Mau ke mana?" tanya Randu menyadari Aileen yang hendak pergi.


"Masuk. Sudah bagianku!" jawab Aileen ketus. Dia mengabaikan Amee yang memanggilnya karena dia juga ingin ikut.


Di ruangan, setelah pemerikasaan dokter menyampaikan jika kandungan Aileen baik-baik saja. Hanya saja Aileen harus lebih banyak memakan makanan yang bergizi.


Aileen begitu biasa saja mendengarkan penjelasan dokter, berbeda dengan Amee yang tampak antusias dan banyak bertanya membuat Amee mengumpat kesal.


"Terima kasih, Dok!" Mereka akhirnya keluar dari ruangan. "Kamu dengarkan apa kata dokter?" Aileen mengangguk malas. Dia berjalan cepat, bahkan mengabaikan Randu yang menghampirinya.


"Mau ke mana?" tanya Randu sambil menahan pergelangan tangannya.


"Lepas, Kak!" bisik Aileen agar Amee tidak curiga. Dia memaksa melepaskan diri, tetapi cekalan Randu begitu kuat.


Amee sama sekali tidak menyadari keanehan antara Aileen dan suaminya. Dia masih sibuk membaca resep dokter yang harus ditebus. "Mas!" Randu lekas melepaskan Aileen yang kesakitan pada pergelangan tangannya.


"Aku ke apotik dulu. Kamu sama Aileen tetap di sini saja!"


"Mbak gak perlu, biar aku saja. Kalian pulang saja sekarang!" Aileen hendak mengambil kertas resep obat yang harus ditebus, tetapi dia kalah cepat dengan Amee yang sudah memasukkannya ke dalam tas.


"Apotiknya ada di sana!" tunjuk Amee di sisi kanan mereka. "Kamu tunggu saja di sini! Mas, jaga adikku sebentar, ya!" Amee mengecup pipi Randu sambil mengerling sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Duduklah! Saya ingin tahu apa kata dokter!"


Aileen melirik kesal, tetapi dia menurut. "Dia baik dan kamu gak perlu khawatir!"


"Kamu marah?"


"Gak! Aku cuma gak suka dengan cara kalian yang pamer kemesraan di sini, dengan cara Mbak Amee yang terlalu berlebihan, dan ...." Amee tidak melanjutkan ucapannya. Dia membiarkan saja Randu yang menunggunya.


"Kenapa diam?"


"Bukan hal penting. Mbak Amee datang!"

__ADS_1


__ADS_2