Skandal Termanis

Skandal Termanis
Setiap Kita Pasti Ada Saja Kecacatan


__ADS_3

"Aku senang kamu masih di sini, kemarin waktu kamu bawa barang-barangmu aku sedih!"


Aileen membalas ucapan Adis dengan senyuman yang sebenarnya hanya untuk menutupi perasaannya kini yang sedang kacau. "Ada yang lagi kamu pikirkan, ya? Safira?"


"Bukan!"


"Oh. aku kira Safira. Lalu apa rencana kamu selanjutnya?" Aileen mengembuskan napas kasar.


Pertanyaan yang Adis lontarkan begitu sulit untuk dia putuskan. Rahasia yang baru saja didengar tentang Amee tadi membuat dirinya merasa makin sulit untuk melangkah pergi.


Bisa saja Safira yang akan menjadi korban. "Aileen, kenapa?" tanya Adis sambil menyentuh punggung tangannya lembut.


Aileen mengembuskan napas lalu menggeleng. "Apa kamu ada saran? Aku harus apa?"


"Kenapa tanya begitu? Kamu masih sulit untuk lepaskan Safira dan Kak Randu?"


"Tentu!"


Aileen mengangkat kedua bahunya. "Ada banyak sekali hal yang sebenarnya bisa kamu lakukan!" Aileen menatap Adis dengan serius. "Tapi, sekarang yang perlu kamu lakukan ikuti kata hatimu!"


Kembali Aileen mengembuskan napasnya. "Kata hatiku minta agar aku di sini." Dia mencondongkan dirinya ke arah Adis dan kembali berkata, "Hampir saja aku ingin menyamar dan melamar menjadi pengasuh untuk bayiku. Tapi, aku terlalu takut gak bisa membawa diri kalau di dekat Kak Randu!"


Dia mundur dan mendesah kesal.


Melihat keresahan hati sahabatnya, Adis menatapnya kasihan. "Kalau begitu pergilah yang jauh. Terima saja tawaran Bang El. Dia pasti akan membantumu karena dia masih cinta sama kamu!"


"Lalu kamu?" Aileen menatap lekat Adis yang bingung dengan pertanyaannya. "Kamu mencintai Bang El, apa kamu akan baik-baik saja aku sama dia?"


"Lagian kalau aku cinta sama dia, bukan berarti aku harus sama dia, kan? Sudahlah, lagipula aku sekarang cuma mau fokus sama karirku saja!"


Aileen mengangguk. "Aku akan pikirkan lagi."


"Tentu!"


Malam ini dia akan memikirkan hal yang harus diambilnya. Benar yang dikatakan Adis, ada banyak yang bisa dia lakukan. Menjadi pengasuh untuk Safira, menerima tawaran El, menetap dan mengajar di rumah ajar, atau pergi jauh tanpa mereka tahu dia akan ke mana.


"Aku harus ke kamar dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan!"


"Iya. Biar aku yang bereskan semuanya!" Aileen membiarkan Adis ke kamar, sedangkan dirinya akan membersihkan piring kotor setelah makan malam mereka.

__ADS_1


"Aku merindukan kalian!" gumam Aileen. Dia menyeka air matanya yang mengalir tanpa permisi.


***


Paginya Aileen pamit kepada Adis akan pergi menemui Faiz dan ibunya. Dia juga ingin berkunjung ke rumah ajar yang sekarang makin maju.


Randu benar-benar serius dengan ucapannya, dia membantu pendidikan masyarakat di sana dengan mendatangkan guru-guru yang bisa mengajari mereka. Bahkan Faiz dan kedua temannya Randu bantu untuk biaya sekolah mereka.


Aileen mengetuk pelan pintu rumah sederhana di hadapannya itu. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bu Siti, orang yang selalu saja bisa menenangkan dirinya. Namun, sampai setengah jam dirinya menunggu tidak ada satu pun yang membukakan pintu.


"Permisi, Bu. Maaf saya mau tanya. Bu Siti atau Faiz tidak ada di rumah?" tanya Aileen kepada salah seorang ibu muda yang lewat.


Perempuan itu menatap Aileen kasihan lalu berkata, "Bu Siti dan Faiz tiga hari yang lalu pergi sama pria yang katanya suaminya!"


Aileen terkejut mendengarnya. Yang dia tahu suami Bu Siti sudah meninggal, lalu siapa pria yang membawa mereka?


"Ibu yakin?" Perempuan itu mengangguk. "Tapi, bukannya ...."


"Saya sendiri gak paham sih orangnya yang mana, tapi memang sebelum itu rumah Bu Siti kedatangan orang-orang yang lumayan ramai. Dan waktu kemarin pamit mereka bilang gak akan lagi tinggal di sini!"


Aileen mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada perempuan tadi. Dia terduduk lemas di kursi dan merasakan sedih karena ditinggal dua orang yang begitu peduli dengannya.


Tidak dapat bertemu dengan seseorang yang ingin ditemuinya, Aileen memilih segera pergi dari sana.


Dirinya memilih pergi ke apartemen untuk mengambil beberapa barangnya yang tertinggal. Sepanjang perjalanan Aileen terus terpikir dengan Bu Siti dan Faiz yang ternyata telah pergi jauh entah ke mana.


"Bu, mau diantar ke mana?" tanya sopir taksi kepada Aileen.


"Antarkan ke apartemen di jalan X, Pak!"


Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Aileen kembali dalam lamunannya sendiri.


Dia memperhatikan jalanan yang tampak lengang di siang hari. Tidak membutuhkan waktu lama taksi sudah sampai di tempat yang ditujunya. "Ambil saja kembaliannya, Pak!" ujar Aileen yang langsung keluar dari taksi.


Dia tidak langsung masuk ke dalam gedung apartemen di depannya itu. Dia masih memperhatikan lamat gedung tersebut yang tampak kokoh, setelah puas dia memutuskan untuk melangkah memasuki gedung tersebut.


"Huh. Kenapa ramai sekali orang menunggu lift!" gumam Aileen merasa tidak nyaman, di saat dirinya hanya ingin sendiri malah harus berdesakan begini.


Dia akhirnya memilih mundur dan tidak sengaja menabrak seseorang di belakangnya.

__ADS_1


"Oh, maaf," ucapnya penuh rasa penyesalan. Namun, dirinya sedikit terkejut dan senang mengetahui siapa orang yang tidak sengaja ditabrak.


"Bi Sri!" Aileen tanpa canggung memeluk tubuh renta itu.


"Neng Aileen!" balas Bi Sri sambil mengusap sayang punggung Aileen.


"Ya ampun, aku gak nyangka akan ketemu Bibi di sini!" ucap Aileen setelah melepaskan pelukannya. Saat itu lift terbuka dan beberapa orang yang sejak tadi menunggu sudah masuk.


"Neng sudah lahiran?" tanya Bi Sri saat memperhatikan perut Aileen yang sudah rata. Aileen mengangguk senang lalu berubah sedih.


Perempuan baya itu menghela napas pelan, seolah mengetahui apa yang terjadi kepadanya. Dia lalu mengusap lengan Aileen pelan. "Kita bicara di apartemen saja, ya. Sekarang kita masuk lift dulu!"


"Iya, Bi!"


***


"Bibi seminggu sekali atau dua Minggu sekali datang ke sini untuk bersih-bersih." Perempuan itu menyerahkan teh hangat kepada Aileen.


"Tapi, Mas Randu gak bilang kalau Neng Aileen sudah melahirkan. Pasti dia sibuk banget!" Aileen hanya mengangguk sambil menyesap pelan teh tersebut.


Aileen meletakkan cangkir tehnya dan menatap lamat Bi Sri yang duduk di sebelahnya. "Bibi apa aku boleh egois?"


"Kenapa, Neng? Masih sulit buat lepaskan mereka?"


Aileen mengangguk. "Aku dan Kak Randu sudah bukan lagi suami istri, tapi aku merasa sulit melepaskan mereka apalagi setelah aku tahu sesuatu tentang Mbak Amee!" Aileen mengembuskan napasnya pelan.


"Neng Aileen harus bisa melakukannya. Lagipula itu konsekuensi yang harus kalian hadapi, walau Bibi tahu pasti memang begitu berat!"


"Mbak Amee gak mencinta Kak Randu, Bi. Aku takut dia akan membuat hidup Safira gak sempurna!" Aileen menunduk.


Perempuan itu tersenyum lembut lalu berujar, "Tidak ada seseorang yang hidupnya sempurna. Setiap kita pasti ada saja kecacatan, entah dalam segi apa. Begitu juga dengan Safira. Apakah itu nama anak kalian?"


Aileen mengangguk. "Bibi benar. Jadi, apa aku benar-benar harus pergi meninggalkan mereka walau aku tahu tentang Mbak Amee?"


"Iya!" Aileen hanya diam. "Bibi mengatakan ini bukan karena gak suka dengan hubungan kalian, tapi sejak awal apa yang terjadi itu semua kesalahan. Neng Amee punya keburukan, bukankah Neng Aileen dan Mas Randu juga? Kalian memiliki hubungan di belakang mereka!"


Aileen tersentak mendengarnya. Dia lalu mengangguk lemah. "Bibi benar. Bahkan kami sama-sama punya hal buruk. Makasih, sudah menyadarkanku!"


"Bibi selalu berharap kebahagiaan untuk kalian." Aileen tersenyum masam mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2