Skandal Termanis

Skandal Termanis
Bernyanyilah Untukku Malam Ini


__ADS_3

Randu merasa akhir-akhir ini Amee benar-benar menjadi berubah. Istrinya itu, bahkan selalu menolak ajakannya dengan alasan kelelahan.


Bisa saja pria itu memaksa karena dia memiliki hak kepada Amee, tetapi dia tidak ingin Amee menjadi membencinya dan memilih untuk mengalah.


Sudah satu jam Amee terlelap dengan berbaring miring memunggungi Randu yang sedang sibuk dengan laptopnya. Dia sengaja mengalihkan kekesalannya dengan mengerjakan pekerjaannya.


Dia meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena terlalu lama memangku dan fokus pada laptop, bahkan matanya pun menjadi lelah. Baru saja menutup laptopnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk di malam hari dia terima.


Sudut bibir pria itu tertarik ke atas membentuk lengkungan bulan sabit yang sempurna saat melihat nama pengirim pesan untuknya. Dengan cepat dia menghubungi si pengirim pesan daripada membalasnya.


"Kak, kenapa telepon?" Tidak butuh waktu lama, panggilannya segera diterima.


Pria itu melirik ke samping kirinya memastikan jika Amee masih terlelap, tetapi untuk menghindari resiko yang bisa saja terjadi Randu memilih beranjak ke balkon.


"Belum tidur?"


"Bukan belum, tapi gak bisa! Kakak sekarang di mana?"


"Di balkon. Amee sudah tidur!"


"Kenapa gak tanya kenapa aku gak bisa tidur?" Terdengar jelas Aileen yang sedang mendengkus kasar yang membuat Randu terkekeh pelan. Dia sendiri tidak mengerti mengapa tidak menanyakannya.


"Baiklah, katakan kenapa kamu belum tidur?"


Kening Randu mengerut dalam mendengar kembali mendengkus. "Ada apa? Maafkan saya tadi tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit!"


Randu benar-benar merasa bersalah, karena kesibukannya membuat dia tidak memiliki waktu mengantar Aileen memeriksakan kandungannya, bahkan sekadar datang menengok seperti biasanya di pagi hari pun, hari ini dia tidak bisa.


Beruntung saja ada Amee yang tetap bisa menemani Aileen sehingga dirinya tidak merasa khawatir. "Besok saya akan datang!"


"Pagi?"


"Semoga!"


"Huh. Kakak pasti gak mau Mbak Amee curiga, kan, kalau sering pergi pagi-pagi? Tapi tadi Mbak Amee juga gak bisa antar aku!"


"Benarkah?" Randu melirik ke ranjang di mana Amee tengah meringkuk dengan memeluk gulingnya. Jelas sekali istrinya itu mengatakan jika siang tadi dia mengantar Aileen ke dokter kandungan. Amee pun menjelaskan apa saja yang dokter katakan tadi. Namun, dia menjadi tidak mengerti alasan Amee membohonginya tanpa sedikit pun terlihat mencurigakan telah berbohong?


"Kak? Ada Mbak Amee?"


"Ah, tidak! Maaf, tadi saya sedang membalas pesan. Tapi kamu yakin Amee tidak mengantarmu?"

__ADS_1


"Tentu! Mbak Amee bohong sama Kakak?"


Randu tidak menjawab pertanyaan Aileen tersebut. Dia memilih menutup pintu agar angin malam yang masuk ke kamar tidak membuat Amee terbangun. Dia ingin berbicara dengan Aileen tanpa merasa takut Amee akan mendengarnya.


"Katakan, apa yang dokter katakan?"


Terdengar suara tawa kecil Aileen yang menular kepadanya. Raut wajah keras Randu mengendur mendengar suara perempuan yang seharian ini tidak bisa ditemuinya.


"Aku harap Kakak tidak terkejut atau mengatakan aku berbohong. Dokter bilang walaupun sedang hamil seorang istri masih boleh melayani suaminya. Jadi, Kakak ...."


"Aileen, bisakah jangan membahas hal itu? Saya tahu niatmu baik, tapi saya merasa kamu tidak seharusnya melakukan hal itu hanya untuk menyenangi saya." Randu memotong ucapan Aileen ketika membahas perihal sesuatu yang beberapa waktu ini sulit untuk dia dapatkan dari Amee.


"Baiklah, maafkan aku!" Suara yang terdengar ceria itu menjadi lesu. Randu sadar ucapannya telah melukai Aileen. Namun, dia merasa benar-benar tidak bisa melakukannya.


Randu berdeham. "Sekarang apa yang bisa saya lakukan untuk membuatmu tidur?"


"Bernyanyilah untukku malam ini. Mbak Amee bilang suara Kakak bagus. Aku penasaran, setidaknya aku bisa mengenang suara Kakak nanti saat kita bukan lagi suami dan istri!"


***


"Bisakah kamu berhenti minum?" Adis merebut paksa gelas dari pria yang sudah menghabiskan sebotol minuman berakohol dengan kadar tinggi itu.


Adis berhak memberi julukan cengeng kepada pria yang sudah kehilangan kesadaran itu dan terus saja meracau memanggil nama pujaannya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana pria tersebut menangis kencang, seperti seorang anak yang mainannya direbut sambil mengelap ingus dan air matanya dengan lengan kemejanya.


"Babe, ikutlah denganku!" Pria itu menyentuh wajah Adis dan menepuk-nepuk sambil tertawa.


"Ish, nyusahin saja!" Adis dengan kasar mendorong tubuh pria tersebut sampai terjatuh dan malah tertidur di sofa. Dia segera menghubungi seseorang untuk dimintai tolong karena tidak mungkin membawa sendiri tubuh besar itu.


"Sial, kenapa gak diangkat, sih?" Adis menatap miris pria yang tertidur sambil menangis itu. Tidak tega membiarkan pria tersebut tetap di tempat itu, Adis menarik tangannya dan mencoba memapahnya.


"Diamlah, menyusahkan saja!" omel Adis ketika pria tersebut terus saja mengganggunya sehingga membuatnya kesulitan untuk membawa tubuh itu keluar.


Dengan segala usaha dan tenaga, Adis berhasil membawa pria tersebut keluar dari tempat berisik itu. Dia lalu memasukkan tubuh besar itu ke dalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang tepat di dekatnya.


"Ke Perumahan Asri, Pak!"


Adis melirik kesal pria di sampingnya yang tertidur pulas itu. Dia tidak menyangka, harinya harus berurusan dengan seorang pria yang sedang patah hati. Tidak seharusnya juga dia menawarkan diri untuk menemani jika pada akhirnya malah disusahkan.


"Lis, Bang El mabuk berat. Aku sekarang bawa dia pulang!" Akhirnya Adis berhasil menghubungi Lisa adik dari pria yang tertidur di sampingnya itu.


"Jangan bawa dia ke rumah!"

__ADS_1


"Hah, terus mau dibawa ke mana? Aku gak mau, ya, dia menginap di rumahku!" protes Adis yang kesal karena Lisa malah melarangnya membawa pria tersebut pulang ke rumah mereka.


"Aku gak mau Bang El kenapa marah papa dan mamaku. Kamu bisa bawa dia ke apartemennya saja. Kamu tahu, kan, di mana? Untuk membuka pintu kamu minta tolong satpam saja atau siapa yang bisa dimintai tolong!"


Adis membuang napas kasar. "Aku buang saja dia di pinggir jalan!" Setelah mengatakan itu Adis mematikan panggilannya dengan Lisa. Lisa sama sekali tidak bisa diandalkan di saat kakaknya sendiri butuh bantuan.


"Huh, apa di mata kamu cuma ada Aileen saja, Bang? Masih banyak perempuan lain yang pastinya mau sama kamu!" Aileen menyingkirkan tangan pria tersebut yang memeluknya begitu saja.


Lisa menghubunginya, tetapi Adis yang sudah begitu kesal memilih mengabaikan saja panggilan itu.


Merasa terganggu dengan suara nada dering di ponsel Adis, pria tersebut mengibaskan tangan dan meracau tidak jelas. "Berisik, Lisa, Matikan!"


"Huh. Menyebalkan banget!" Tidak lama pesan masuk dari Lisa yang hanya dibacanya saja tanpa berniat membalasnya.


***


"Pokoknya ini terakhir kali aku bantu kamu urus dia. Aku gak mau lagi. Dia Abang kamu, bukan abangku!"


Akhirnya pria tersebut sudah berada di kamarnya dan tidur nyenyak dengan memeluk guling. Beberapa hari ini Adis selalu direpotkan, tetapi malam ini sudah terlalu merepotkan.


"Sorry, Dis. Aku cuma bisa mengandalkan kamu untuk temani Bang El. Aku ada urusan penting tadi!"


Lisa menghela napas pelan, dia memperhatikan wajah damai pria yang sudah membuatnya kepayahan itu dan berganti menatap Lisa yang sedang berbalas pesan dengan seseorang.


"Kamu masih sama pria tua itu, Lis?" tebak Adis. Lisa mengangkat wajahnya dan menatap Adis dengan wajah serius. "Jadi masih?" Tidak ada jawaban.


"Aku nyaman sama dia!"


Adis mengibaskan tangannya. "Terserah kamu, sih. Aku cuma tanya saja. Jangan memasang wajah memelas sama aku. Aku pulang!"


Baru juga dirinya berbalik badan, terdengar suara seseorang yang sedang muntah-muntah di kamar mandi.


"Bang El!" Adis berbalik dan berlari mengikuti Lisa ke kamar mandi. Dia melihat pria tersebut mengeluarkan semua isi perutnya di kloset.


Adis tidak sanggup melihatnya karena membuat dirinya mual juga. Dia memilih segera pergi dari apartemen tersebut dan tidak peduli dengan keadaan pria payah itu.


"Orang patah hati bisanya buat susah orang lain!" Adis tersenyum miris mengingat tangisan pilunya tadi.


Padahal dia kira dengan memberitahu tentang Aileen yang sudah menemukan kebahagiaannya dengan menikahi pria yang sudah menghamilinya, membuat pria itu sadar jika takdir memang tidak pernah berpihak kepada mereka. Sayangnya, pikirannya salah.


"Pria yang malang!"

__ADS_1


__ADS_2