
Randu benar-benar melakukan apa yang dia katakan semalam kepada Amee. Dia membawa Safira keluar dari rumah dan pergi ke apartemen.
Di apartemen, sudah menunggu Bi Siti yang Randu minta untuk kembali bekerja dengannya. Sedikit pemaksaan membuat perempuan baya itu akhirnya luluh juga.
"Bibi tolong jaga Safira sebentar saja, aku mau buatkan susu untuk dia!"
"Biar Bibi saja. Mas Randu di sini saja jaga Safira!" tolak Bi Siti.
Randu mengangguk, dia memilih untuk menurut alih-alih tetap keras kepala dengan memaksa kehendaknya.
"Di kamar ini dulu Papa sama mama sering bersama. Kamu rindu mamamu?"
Safira mengangkat tangannya seperti hendak menyentuh wajah Randu. Dia tertawa tanpa suara saat tangan mungilnya digenggam oleh Randu dan menyentuh wajah pria tersebut.
"Saya merindukan kamu!"
Randu menutup mata, merasakan jika sentuhan kecil dari tangan mungil Safira itu sentuhan dari Aileen yang menenangkan dirinya.
"Mas Randu ini susunya!"
Randu menoleh saat Bi Siti menghampiri dan menyerahkan botol susu kepada Randu. "Ah, makasih, Bi!"
Bersamaan dengan itu ponsel Randu berbunyi, pria tersebut merogoh saku celananya dan menatap layar ponselnya. Dia menghela pelan lalu memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
"Tolong jaga Safira!" Tidak lupa dia menyerahkan botol susu tersebut kepada Bi Siti sebelum keluar dari kamar.
"Randu, ke mana kamu pergi sama Safira?"
Randu menghela napas pelan. Dia tahu, Sika pasti cemas saat ini ketika mengetahui Safira tidak berada di rumah. Sayup-sayup dia mendengar suara tangisan Amee.
"Tenanglah, Am, Mama sedang bicara sama suamimu!"
Randu memilih diam dan menjadi pendengar suara mereka saja.
"Sekarang katakan di mana kalian? Jangan gila kamu, Ran, pergi begitu saja saat sedang ada masalah!"
"Maaf, Ma. Tapi, ini sudah keputusan kita berdua."
"Keputusan kalian atau cuma kamu? Kamu di apartemen?"
"Iya. Tapi, Mama gak perlu khawatir. Safira baik-baik saja. Saya tidak mungkin membiarkan putri saya dalam bahaya!"
"Huh. Dia putri Amee juga."
__ADS_1
Randu berdeham. Dia lalu kembali berkata, "Tapi, saya berhak membawanya pergi karena saya ayah kandungnya!"
"Apa? Jangan mengada-ada kamu. Mama akan ke sa–"
Randu menyela ucapan Sika dengan melarang mertuanya itu tidak perlu ke apartemen. "Mama tidak perlu repot-repot ke sini. Sekarang lebih baik tenangkan Amee dulu. Maaf, saya harus mengakhiri panggilan ini karena Safira menangis!"
Setelah mengatakannya Randu langsung memutuskan panggilan dari Sika. Pria tersebut menghela napas pelan lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kembali.
Dia kembali untuk menemui Safira, tetapi memilih berdiri di ambang pintu dengan bersandar di pintu, memperhatikan Safira yang tengah menikmati susu formula dibandingkan dengan asi dari Aileen.
"Apa Bibi sama sekali tidak tahu di mana Aileen?" Bi Siti menoleh ke arah Randu yang tiba-tiba saja bertanya hal seperti itu. Dia lalu menggeleng.
"Huh. Di mana dia?" Randu berjalan menghampiri mereka. Memperhatikan dari dekat Safira. "Dia pasti sudah bahagia sekarang. Hidup jauh dari kami!"
Bi Siti hanya diam saja.
Sementara di rumah yang kini sudah kehilangan dua orang, terdengar suara tangisan yang begitu histeris.
Sika kewalahan menenangkan Amee yang menangis di kamar Safira. Dia baru saja pulang dari rumahnya yang saat ini dia sewakan alih-alih dijual seperti ucapannya saat itu kepada Aileen.
"Tenanglah, Am. Kalau kamu begini terus Mama bingung harus buat apa!" Keadaan Amee tampak kacau. Dia memeluk guling kecil yang selalu berada di sisi Safira saat bayi itu tidur terlelap dan sekarang bayi tersebut tidak ada di sana.
"Gimana aku bisa tenang, Ma. Mas Randu bawa Safira pergi. Dia serius sama ucapannya mau ceraikan aku!"
Sika memeluk tubuh rapuh Amee, dia membiarkan pakaiannya basah oleh air mata putrinya itu. "Aku gak bisa kehilangan dia, Ma. Aku gak bisa kehilangan Safira juga. Aku sayang sama Safira!"
"Mas Randu gak akan berubah pikiran. Dia sudah gak cinta lagi sama aku, dia cinta sama ... Aileen, Ma!"
"Tenanglah. Mama yakin Randu cuma gertak kamu. Bahkan Mama gak percaya saat dia bilang Safira anak kandungnya!"
Amee melepas paksa pelukan Sika. Dia menyeka air matanya dengan kasar dan menatap Sika tajam. "Safira memang anak Mas Randu!"
"Apa maksudnya? Kamu percaya begitu saja sama ucapan suamimu? Mama yakin dia bohong!" Sika sama sekali tidak mengerti bagaimana mungkin putrinya akan percaya begitu saja dengan ucapan Randu yang bisa saja karena kemarahan, bahkan dia saja tidak mempercayai ucapan Randu beberapa menit lalu di telepon.
Amee menunduk. Tangisnya kembali pecah, dia kembali mengangkat wajahnya dan menatap Sika saat kedua bahunya dipegang dengan erat. "Aku ... aku tahu apa yang terjadi antara mereka. Aku terima Safira biar Mas Randu gak lagi minta agar aku hamil, tapi aku gak tahu kalau ternyata mereka saling cinta!" Amee menggigit bibirnya kuat. Tubuhnya didorong oleh Sika sampai punggungnya mengenai pinggiran ranjang.
Amee meringis merasakan punggungnya sakit, tetapi dia abaikan saja. "Kamu tahu? Astaga. Kalian sama saja. Sekarang untuk apa kamu menangis, hah? Kamu harusnya senang Randu melepasmu dan lupakan bayi itu!"
Sika berdiri dan pergi begitu saja setelah mengatakannya. Dia meninggalkan Amee dalam kehancuran karena keputusan Randu yang sudah tidak bisa lagi dibantah untuk menceraikannya.
***
Amee baru saja merasa tenang setelah kedatangan Seto. Dia baru saja tertidur setelah Seto meyakinkan jika dia tidak akan pergi. Pria tersebut akan menginap.
__ADS_1
"Maaf, semua terjadi karena perbuatanku, Tante!"
Seto merasa menyesal. Saat ini mereka berada di ruang tamu, Sika mengajaknya bicara empat mata jauh dari Amee yang tidur di kamar milik Safira.
"Tante gak bisa lagi menyalahkan kamu dan Amee atas permasalahan yang terjadi. Apalagi setelah Tante tahu kalau Randu juga berkhianat!"
Seto hanya menghela napas dan mengangguk saja. "Reaksi kamu seakan kamu tahu tentang mereka juga!"
"Kalau mengenai Aileen yang mencintai Randu, aku mengakui memang tahu. Tapi, selain itu ... gak!" Seto menatap lekat Sika yang tampak terluka.
"Seto, kamu gak pernah sedikit pun cinta sama Amee?"
Seto bergeming. Pria tersebut bingung harus mengatakan apa. "Kamu pasti tahu kalau Amee mencintai kamu, dia bahkan mengorbankan perasaannya dengan menikah sama pria yang gak dia cintai dan berakhir dikhianati. Apa Tante bisa minta tolong sama kamu? Tolong tetap berada di sisi Amee, bukan sebagai sahabat seperti biasa. Tapi, sebagai pasangan."
"Tante ...."
"Tante gak akan melarang perceraian mereka karena Amee berhak bahagia tanpa adanya pengkhianatan. Kamu bisa?"
Seto hendak menjawab pertanyaan dari Sika. Mulutnya sudah terbuka, tetapi kembali tertutup rapat saat mendengar suara Amee yang memanggilnya.
"Temui dia dan Tante minta tolong pertimbangan permintaan Tante!" Tanpa memberi respons apa pun terhadap permintaan Sika barusan, Seto pergi menemui Amee dan mendapati perempuan itu bersandar di ranjang. Menatapnya dengan senyuman yang menghiasi wajah lusuhnya.
"Baru sepuluh menit aku keluar, kenapa sudah bangun?" Seto menghampiri Amee dan duduk di sisinya. Pria tersebut menatap lekat mata sembap Amee.
"Aku gak bisa tidur." Amee meraih tangan Seto dan menggenggamnya erat. "Jangan pergi. Aku gak mau kehilangan lagi!"
"Am, ada apa?"
Amee menggeleng. "Di mana suami dan anakmu?"
"Safira?" Seto mengangguk. Amee tampak bersedih lalu kembali menggeleng. "Mas Randu bawa dia pergi dari rumah. Mereka di apartemen!"
"Mau temui mereka?"
Amee lagi-lagi menggeleng. "Kenapa? Takut Randu melarang kamu temui Safira?"
"Bukan!"
"Terus?"
"Aku mau sama kamu!"
Seto menghela napas pelan. Dia membiarkan Amee memeluknya dan dia mengusap lembut rambut Amee. "Aku pengen tenang beberapa saat. Kamu jangan pergi!"
__ADS_1
"Baiklah. Maafkan aku karena gak bisa mengontrolnya sampai buat kamu begini. Aku mengaku salah dan aku janji akan perbaiki hubungan kalian!"
Amee tidak mengatakan apa pun. Perempuan itu memejamkan mata sambil mengirup rakus aroma tubuh Seto. Aroma tubuh pria yang amat dicintainya itu sampai tertidur kembali.