Skandal Termanis

Skandal Termanis
Kesempatan Itu Tidak Pernah Ada


__ADS_3

Mereka kembali menuju ke ruang rawat inap Amee berada. Randu terus saja mengenggam tangan Aileen, meski perempuan itu berusaha melepaskan.


Aileen terus saja mengingatkan Randu jika ada Sika yang bisa saja melihat mereka dan menjadi curiga. Atau bahkan menuduh kembali Aileen telah merebut pria yang sebenarnya saja sudah menjadi suaminya.


"Kak, kita sudah sampai. Lepaskan!" bisik Aileen ketika mereka keluar dari lift. Ruangan Amee berada di lorong sebelah kanan kamar paling ujung.


"Tidak. Saya tidak akan melepaskannya!"


"Kakak yakin?" Randu mengangguk dan tidak disangka Aileen mencubit pinggang Randu sampai pria tersebut meminta ampun. Aileen tidak peduli dengan Randu yang terus saja meminta dilepaskan, dia tertawa senang melupakan kekesalannya tadi. Namun, tawanya seketika berhenti ketika Randu melepaskan genggamannya dan menghampiri pria yang baru saja keluar dari ruangan Amee.


Aileen dengan jelas melihat bagaimana Randu bersikap kasar kepada Seto, suaminya itu menarik kerah kemeja Seto dan menyudutkannya ke dinding. Tidak ada perlawanan sama sekali dari Seto.


Aileen tidak berani untuk lebih dekat, dia merasa tubuhnya lemas melihat tindakan kasar Randu kepada pria yang dikenalnya selalu berperilaku lembut kepada Amee dan selalu manja kepada pria.


"Siapa yang menyuruhmu ke sini?" Randu menekan lengannya pada leher Seto. Aileen hendak mendekat, merasa kasihan kepada Seto yang terlihat kesulitan bernapas itu.


"Kak," panggil Aileen pelan. Randu menoleh ke arahnya, tetapi hanya sebentar dan langsung kembali menatap tajam Seto yang terus memukul lengan Randu.


"Sudah saya katakan jangan lagi menemui istri saya!" Setelah mengatakannya, Randu melepaskan Seto yang langsung membungkuk sambil terbatuk.


"Ada apa ini?" Sika tiba-tiba saja keluar. Aileen yang sedang menenangkan Randu memilih menjauh. Tidak mau Sika mencurigainya. Sika mendekat dan menatap Aileen tajam. "Kamu lagi? Kamu gak puas buat masalah?" Perempuan itu mengangkat tangan akan melakukan sesuatu kepada Aileen, tetapi dengan cepat Randu menahan tangan Sika.


"Bukan salah Aileen, tetapi pria itu!" Randu melepaskan cekalannya. Dia langsung masuk ke ruangan Amee disusul dengan Sika yang tidak mengatakan apa-apa lagi.


Aileen lekas menghampiri Seto yang masih saja terbatuk dan membantunya untuk duduk.


"Makasih! Kakak iparmu itu kuat sekali tadi!" Seto berbicara seakan apa yang terjadi baru saja, bukan hal yang besar. Pria itu terkekeh melihat wajah pias Aileen yang bungkam.


"Aileen!"


"Ya?" Aileen menoleh dan membalas senyum Seto. Dia tidak mau Seto banyak bertanya, meski pria tersebut sering menatapnya tidak suka, tetapi Aileen tahu dia sebenarnya baik. "Ada apa?"

__ADS_1


Seto menggeleng sambil mengusap lehernya yang sedikit memerah. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kak Randu begitu marah sama Kakak? Apa Kakak melakukan sesuatu?"


Pria kemayu tersebut mengembuskan napas kasar. Dia lalu merogoh saku celananya. Kening Aileen berkerut tipis melihat tingkah pria tersebut yang menggerutu karena kesusahan.


"Apa ini, Kak?"


"Buka saja!" Aileen membuka lipatan kertas yang diberikan Seto kepadanya. Dia membacanya, tetapi tidak memahami apa maksud sampai Seto memberikan kepadanya. "Ini punya Mbak Amee!" Pria itu mengangguk.


"Itu resep-resep obat miliknya. Sebenarnya dia sudah lama gak pernah konsumsi lagi. Tapi, sebelum kecelakaan dia bilang dia butuh obat itu lagi untuk menenangkan diri!" Pria tersebut lalu menghela napas pelan. Dia kembali terbatuk lalu melirik ke arah pintu yang tertutup.


"Amee, sebenarnya kesehatan mentalnya terganggu dan sudah mendapatkan dianogsa!" Ucapan Seto membuat Aileen membelalak. Dia tidak pernah menyangka Amee memiliki masalah dengan kesehatan mentalnya. "Jangan menatapku dengan biji matamu yang mau keluar itu!" Seto mendorong kasar kening Aileen.


"Huh. Kakak yang buat aku seperti itu Sekarang katakan, kenapa resep obat ini ada sama Kakak dan apa yang terjadi? Mbak Amee selama ini selalu kelihatan sehat! Dia orang yang ceria."


"Menurutmu semua orang yang memiliki masalah sama mentalnya akan terlihat kacau? Gak, Sayang. Terkadang mereka bisa bersikap biasa saja. Dia pintar menutupi trauma yang dialaminya karena keluarganya yang berantakan. Pertama kali dia mengetahui kalau kesehatan mentalnya benar-benar bermasalah saat SMA. Dia hampir mengakhiri hidup ketika melihat kekacauan di rumahnya dan amarah Sika kepadamu. Beruntung, aku punya sepupu seorang psikiater dan dia bisa mendapatkan penanganan. Saat itu dia merasa sudah sembuh, tapi kambuh lagi setelah mengalami keguguran."


Aileen mendengarkannya secara saksama. "Dia memerlukan obat itu lagi ketika suaminya terus saja memintanya untuk kembali hamil. Gak peduli dengan penolakannya sama sekali." Seto menatapnya lekat lalu beralih ke perutnya. "Padahal dia sudah memilih untuk merawat saja bayimu itu. Tapi, Randu tetap saja belum puas. Suami yang katanya cinta sama istri, tapi gak paham sama sekali dengan keinginan dan masalah istrinya!"


"Jadi sebenarnya akar masalah yang Mbak Amee alami karena aku?"


Pria itu mengangguk saja, tidak membantah. Tatapannya menyiratkan jika memang dalang atas semua yang terjadi karena Aileen. "Tapi, anehnya suaminya menyudutkan Amee dengan menuduhnya berselingkuh denganku! Huh! Pria payah!" Pria tersebut bangkit berdiri dan memilih pergi meninggalkan Aileen begitu saja.


***


Aileen mengurungkan diri setelah pulang dari rumah sakit tanpa memberitahu Randu sama sekali. Dia juga mematikan ponselnya agar tidak ada yang menghubunginya. Terutama Randu.


Aileen terus menerus membuang napas kasar. Pikirannya benar-benar kacau, dia tidak menyangka Amee menyembunyikan sesuatu yang sangat penting itu seorang diri dan hanya Seto yang tahu.


Dia lalu mengaitkan kejadian-kejadian yang terjadi dengan ucapan Seto. Aileen sadar, dulu Amee sempat tidak mau mengajaknya bicara beberapa waktu, padahal saat itu yang dirinya punya hanya Amee. Papanya pun tidak peduli. Namun, semua itu hanya sebentar dan berakhir saat dirinya sakit.


Sejak saat itu juga, Seto seakan menyiratkan ketidaksukaan kepadanya. "Lalu aku harus melakukan apa? Apa aku gak bisa merasakan bahagia dengan pilihanku?" Aileen mengacak rambutnya sendiri. Dia kesal dan marah telah menjadi penyebab Amee mengalami masalah yang berat.

__ADS_1


Dia turun dari ranjang dan membuka laci tempatnya menyimpan map file yang El berikan. "Apa lebih baik bukan hanya aku yang pergi? Tapi, kita berdua?"


***


Aileen kembali menjenguk Amee. Dia begitu beruntung karena Sika baru saja pulang sepuluh menit sebelum dirinya sampai, sedangkan Randu pergi ke perusahaan di mana dirinya menanamkan saham besar karena ada sesuatu yang harus diurus.


Amee baru saja selesai makan dengan disuapinya. Perempuan itu sudah lebih tampak sehat dari kemarin. "Mbak, aku boleh tanya sesuatu?"


"Tentu, untuk adikku ini apa pun itu. Katakan!"


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Mbak bisa sampai kecelakaan seperti ini? Apa yang dikatakan Kak Seto benar?" Amee menatap Aileen dengan sorot penuh tanda tanya.


"Dia bilang Mbak Amee menolak untuk hamil lagi. Atau sebenarnya karena Mbak kasihan sama bayi ini makanya mau merawatnya saja dan akhirnya menolak hamil?"


"Kamu bilang apa? Mbak memang belum siap untuk hamil lagi setelah keguguran itu. Tapi, bukan karena alasan bayimu."


"Tapi Mbak memiliki masalah sama kesehatan mental, kan? Dan itu semua karena aku!"


Amee menghela napas panjang. Dia menyentuh lengan Aileen dan mengusapnya lembut. "Jangan dengarkan apa pun ucapan Seto. Dia cuma asal bicara. Mbak memang benar-benar belum atau bisa jadi gak akan pernah siap untuk hamil lagi. Mbak cuma mau merawat anakmu saja."


"Mbak yakin?" Amee mengangguk yakin. "Kalau gitu aku akan benar-benar pergi setelah melahirkan. Aku harap kalian benar-benar bahagia setelah kelahirannya! Dan semoga saja, Mbak ada keinginan untuk hamil anak sendiri. Karena bagaimanapun merawat anak orang lain dan anak sendiri sangat berbeda. Kak Randu sadar itu!"


"Kamu bicara apa? Mbak janji akan merawat anakmu setulus hati begitu pun dengan Mas Randu."


"Harus!" Aileen membiarkan saja Amee mengusap perutnya.


"Mungkin memang takdir gak akan pernah berpihak kepadaku. Aku memang benar-benar harus pergi."


Dia tersenyum miris mengingat impiannya itu. Padahal sudah jelas lebih baik memberi kenangan-kenangan indah sebelum pergi, daripada memikirkan untuk bertahan.


"Mbak Janji!"

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca tulisan sederhana ini. Salam hangat dari penulis remahan🌷🌷


__ADS_2