
"Kamu mau kerja?" tanya Amee terkejut. Perempuan itu melepas pelukan Randu darinya dan menghampiri Aileen yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Mau kerja apa?"
"Aku gak tahu, tapi kemarin aku sudah kirim lamaran kerja di rumah makan!"
"Jadi apa?"
"Pelayan," jawab Aileen lugu. Setidaknya dia memiliki keahlian menjadi seorang pekerja di cafe. Selama masa pelariannya di pinggiran kota, untuk menyambung hidup dia terpaksa bekerja di sebuah rumah makan sederhana.
"Gak boleh. Mbak gak akan biarin kamu kerja jadi pelayan! Kamu lagi hamil, gimana kalau kecapekan atau yang lebih ngeri lagi kamu ...."
Aileen meraih tangan Amee dan menggenggamnya erat. Dia menatap Amee yang terlihat cemas kepadanya. "Mbak jangan begitu, ah! Aku juga cuma keahlian itu saja. Mbak tahu sendiri selama ini aku selalu bergantung sama pemberian kalian. Kuliah juga bukan di jurusan yang kumau!"
Amee tetap menolak. "Kamu kerja di toko Mbak saja, ya," bujuk Amee.
Aileen menjadi bimbang. Dia merasa tidak nyaman bekerja bersama dengan Amee. Lagipula dirinya sangat ingin mandiri dan dia baru saja menyadari jika menerima upah dari hasil jerih payahnya sendiri itu sangat memuaskan.
"Mas, gimana kalau Aileen kerja sama kamu!" Usulan Amee membuat Aileen merinding. Padahal salah satu tujuannya bekerja agar tidak selalu dekat dengan Randu dan sekarang Amee dengan mudahnya meminta hal yang dia hindari.
Randu sudah menyuruhnya bekerja dengannya semalam saat diam-diam pria itu masuk ke kamar Aileen dengan alasan untuk mengecek keadaannya.
Aileen menggeleng dan menatap Randu berharap pria itu tidak menerima usulan Amee. "Mbak akan kasih kamu izin kerja asal kamu kerja di toko Mbak atau kerja sama Mas Randu!"
"Tapi aku mau kerja tanpa bantuan kalian, Mbak. Mbak Amee dan Kak Randu sudah baik banget tampung aku di sini, biayai kuliah aku sampai lulus, masa sekarang aku masih jadi parasit kalian? Gak mau deh!" Aileen melepaskan genggamannya. Tanpa memedulikan keduanya dia memilih kembali ke kamar.
Tujuannya bicara sudah disampaikan. Dia hanya ingin memberitahu saja, bukan meminta izin meski Randu memiliki hak atasnya saat ini.
"Mas, aku gak bisa biarin Aileen kerja di cafe. Pekerjaan begitu berat. Dia juga lagi hamil dan itu bisa beresiko banget!" Amee merajuk kepada Randu yang sejak tadi hanya diam saja karena menahan kesal kepada Aileen yang keras kepala.
Permintaannya ternyata tidak dituruti oleh Aileen.
"Kamu tenang saja, kamu dengar sendiri dia baru saja melamar kerja. Belum diterima." Amee merasa lega. Karena panik mendengar ucapan Aileen membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
"Dia baru seminggu di rumah, tapi sudah gak betah saja. Pasti dia tertekan banget, Mas. Harusnya selama ini aku peka, kan? Tapi aku malah sibuk sama kamu dan toko!" Amee merasa perubahan Aileen penyebabnya karena dirinya juga.
Randu memeluk Amee dan menenangkannya. Dia begitu geram karena ulah Aileen yang sudah berhasil membuat istrinya sedih.
"Tenanglah. Saya akan mencoba bicara dengannya."
"Makasih banyak, Mas."
***
Sejak percakapan di ruang tengah itu, Aileen sama sekali tidak keluar kamar. Hal itu salah satu bentuk protesnya kepada Amee. Dia bahkan melewatkan jadwal makan malamnya, meski dirinya benar-benar lapar.
Aileen hanya membaringkan saja tubuhnya yang terasa lemah, ketukan pintu dari Amee dia abaikan.
Tubuhnya sudah sangat lelah, tetapi matanya tidak mau terpejam. Merasa lapar dan tiba-tiba saja ingin makan sesuatu yang panas membuatnya memilih mengakhiri masa protesnya.
"Mau ke mana?" Aileen berjingkat agar tidak ada yang mendengar suara langkah kakinya menuju dapur. Sayangnya dia malah kepergok Randu yang menekan saklar lampu. Ruangan yang awalnya temeram menjadi terang.
Aileen berbalik dan menemukan Randu berdiri di samping tembok dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Kak ...," cicit Aileen.
Randu mendekatinya dengan bersedekap. Tatapannya tidak pernah lepas pada tubuh Aileen.
"Kamu lapar?" Aileen mengangguk. "Duduklah di sana, saya akan membuatkan sesuatu!" suruh Randu agar Aileen duduk di kursi meja makan, tanpa peduli dengan Aileen pria itu berjalan ke arah dapur.
Aileen menarik ujung kaus Randu membuat pria itu berhenti tanpa berbalik. "Kak, aku bisa sendiri!"
Randu hanya menoleh dan menatap istrinya yang menunduk. "Kamu masih marah?" Aileen menggeleng.
"Aku lapar, tapi aku mau masak sendiri!"
"Katakan kamu mau makan apa? Biar saya siapkan!"
Aileen kesal. Dia membalas tatapan Randu dan melepas kausnya. "Kakak gak perlu perhatian sama aku. Aku mau buat makanan sendiri!"
"Saya bukan perhatian sama kamu, tapi bayi kita!" Aileen mengangguk. Dia sadar Randu memang hanya perhatian kepada calon penerusnya saja. "Jadi mau makan apa? Atau mau makan sesuatu atau masakan istri saya?"
Tanpa peduli dengan Randu, Aileen memilih meninggalkan pria tersebut dengan pergi ke dapur. "Amee meminta saya untuk memanaskan masakannya kalau kamu lapar. Dia satu jam lalu pamit harus pergi ke rumah mama!"
Aileen membiarkan saja Randu memanaskan masakan Amee. "Oh, memang mama kenapa?"
"Mama demam. Kamu ternyata peduli sama mama, ya?"
Aileen mengerutkan keningnya. Perkataan yang aneh, jelas saja dia peduli. Bagaimanapun Sika tetap mamanya, meski bermulut tajam. Namun, Aileen memilih diam saja.
"Aku tunggu di meja makan."
Pria itu memilih duduk bersama dengan Aileen untuk menemaninya makan malam. "Kenapa kamu bersikeras mau cari kerja? Usulan Amee ada benarnya! Kalau kamu menolak bekerja dengan saya, kamu bisa bekerja di distro Amee. Ya itung-itung membantu saya memantau dia!"
"Kenapa begitu? Kak Randu curiga Mbak Amee ada apa-apa sama temannya itu?" tanya Aileen selidik.
"Suami mana yang tidak curiga?"
"Tapi aku mau mandiri. Lagipula selama aku kabur, ya pekerjaanku jadi pelayan di warung makan! Aku gakpapa tuh!"
Randu menghela napas kesal. "Kasih saya alasan lain kenapa kamu bersikeras dengan pendirianmu?"
Aileen meletakkan sendoknya. Dia menjadi tidak selera makan karena ucapan Randu tersebut. "Kak Randu benaran mau tahu?"
Pria tersebut mengangguk. "Katakan!"
Aileen menatap lekat mata Randu yang diselimuti rasa penasaran. "Aku mau mandiri. Tapi, tujuanku jelas biar kita gak banyak ketemu!"
Randu memicingkan matanya. "Apa karena rasa bersalah kamu?"
Aileen mengangguk. "Salah satunya. Aku juga takut kalau perhatian Kakak buat aku malah jadi manja dan terus bergantung. Jadi, aku mau bekerja tanpa bantuan kalian!"
Randu membuang napas kasar. Dia mengepalkan tangannya karena ucapan Aileen yang terasa menyakiti dirinya. "Kamu berhak bergantung kepada saya selama kita menjadi pasangan suami istri, Aileen. Jangan lupakan itu!"
Aileen memalingkan wajahnya. Kata 'istri' yang baru saja keluar dari bibir Randu menggelitik ulu hatinya. Aileen tidak pernah terpikirkan akan mengalami kehidupan yang seperti ini.
__ADS_1
Randu mengenggam tangan Aileen. Merasa sentuhan dari pria tersebut membuat Aileen merasa lemah, beberapa hari dilaluinya dengan sederet perhatian Randu meski sembunyi-sembunyi sedikit membuatnya merasa lupa diri jika pernikahan mereka hanya sementara.
"Tatap saya, Aileen."
Aileen menurut. Dia menatap Randu yang tersenyum hangat kepadanya. "Meski saya membenci apa yang pernah terjadi di antara kita, saya sadar kalau sepenuhnya bukan kesalahan kamu. Saat itu saya juga mabuk dan tidak berhasil mengendalikan diri. Saya melakukan semuanya untuk menebus rasa bersalah itu."
Aileen memilih bungkam.
"Kamu tidak tahu seberapa saya menderita saat mengetahui kamu hamil dan menghilang. Saya ingin bertanggung jawab, setidaknya selalu ada di saat masa kehamilan kamu yang melelahkan itu dan setelah itu mari kita berpisah. Biarkan bayi itu saya yang akan mengurusnya bersama Amee!"
Aileen menunduk, dia menggigit bibirnya menahan isakan tangis yang tidak tertahan. Tubuhnya merasa hangat dalam pelukan Randu yang tiba-tiba itu.
"Jangan menangis. Meski pernikahan kita dirahasiakan, kamu tetap istri saya."
"Tapi, aku tetap gak mau dipaksa untuk kerja sama salah satu dari kalian. Aku tetap mau cari kerja sendiri!"
Randu melepaskan pelukannya. Dia kira dengan berkata dari hati ke hati, pikiran Aileen akan berubah. Nyatanya pria itu salah paham. Namun, dia tidak mau terlihat emosi di hadapan Aileen.
"Sekarang kamu habiskan makanmu, setelah itu kita istirahat. Besok kamu harus cek kandungan, kan?"
***
Aileen kira, kata kita istirahat artinya mereka akan tidur bersama, nyatanya mereka tetap tidur sendiri-sendiri.
Bahkan, dia mengira Randu akan mengantarnya ke rumah sakit untuk cek kandungan, tetapi pria itu hanya mengingatkan dan mengantarnya saja dan membiarkan dirinya melakukan sendiri dengan alasan pekerjaan.
"Huh, katanya suami. Ini sama saja kayak awal, kan?" Aileen terus menggerutu sepanjang koridor menuju ke ruangan dokter.
Setelah mendaftar dan menunggu sesuai nomor antrian, Aileen melihat hampir semua perempuan hamil datang dengan pasangan mereka. Hanya dirinya sendiri.
Seharusnya pemandangan itu tidak membuat hatinya sakit, bagaimanapun pada awalnya dia melakukannya seorang diri.
"El?" Sedang asyik memperhatikan seorang suami yang sedang mengelus perut istrinya, Aileen dikejutkan dengan sosok pria yang telah menjebaknya.
Tanpa berpikir panjang dia gegas mengejar pria tersebut dan mengabaikan namanya yang baru saja dipanggil.
"Bang El!" Teriakan Aileen tidak didengar oleh pria bertubuh tidak terlalu tinggi itu.
Geram karena tidak direspons, Aileen melepaskan sandalnya dan melemparkannya tepat mengenai tengkuk pria yang dipanggil.
"Perfect!" Dia berseru senang. Mengabaikan tatapan perawat dan mengunjung disekitar.
Dia menghampiri El yang sedang memegang sandalnya dan mengusap tengkuknya. "Sini!" Aileen merebut sandalnya dari tangan El. Terlihat pria itu terkejut dengan kehadiran Aileen di hadapannya.
"Ai!"
"Kenapa?" tanya Aileen ketus. Pria itu menggeleng dan tanpa rasa malu meraih tangan Aileen. "Apaan, sih! Lepasin!"
El menggeleng, bahkan poni lemparnya itu sampai goyang membuat Aileen mendadak mual. Dia yang sudah tidak tahan dengan rasa mualnya langsung memuntahkan sampai mengenai kemeja El.
"Astaga, Aileen!" seru El. Tanpa menghiraukan amarah El karena ulahnya, Aileen memilih pergi setelah memakai sandalnya.
__ADS_1