
Adis bertamu ke rumah baru Aileen dengan gampang asem. Bagaimana tidak, baru saja Aileen membuka pintu dengan menyambut wajah cemberut Adis.
Adis tidak berhenti mengomel, mengatakan ini dan itu tentang El yang sangat menyebalkan. Dia bahkan lupa menawari Aileen untuk gabung menikmati camilan yang wadahnya dipeluk erat.
"Kamu gak malu sama Safira? Dia lihatin kamu terus dari tadi, pasti dia lagi mikir keras tantenya kenapa!"
Adis memanyunkan bibirnya. Dia meletakkan toples berisi camilan kacang telur yang sekarang tersisa setengahnya, menghampiri Safira dan berjongkok di depannya. "Kamu tuh ngerti banget Tante lagi kesal, kan? Gak kayak mamamu yang malah ketawain Tante terus!"
"Loh kok gitu. Aku juga kasihan loh sama kamu, miris banget kisah cintamu!" Aileen tidak terima atas ucapan Adis barusan.
"Huh. Kamu jadi anakku aja, sih. Biar aku gak perlu hamil anak orang yang gak cinta sama aku!" Adis mencium pipi gembul Safira.
"Enak aja. Buat sendiri, dong!" seru Aileen tidak terima lalu mendorong tubuh Adis sampai terjatuh. "Lagian, kalau memang kamu gak mau sama persyaratannya dan dia gak mau ubah, cari yang lain saja, sih. Segampang itu loh!"
Adis duduk menghadap Aileen lalu menggeleng. "Aku gak bisa gitu saja nyerah. Aku udah kepalang malu sekarang, aku udah nyatain perasaan sama dia, ajak dia nikah biar gak galau terus, masa aku pergi. Ah, malunya nanggung, dong!"
Aileen hanya geleng-geleng mendengarkan ucapan Adis. "Terus maunya gimana?"
"Dia balas perasaan aku. Masa gak bisa!"
Aileen melihat Adis begitu nelangsa. Dia menjadi kasihan lalu mengusap lembut pundak Adis. "Aku tahu sih pasti sakit banget rasanya. Tapi, ya, semua butuh proses. Kamu harus bisa buat dia cinta sama kamu, kasih perhatian!"
"Ngomong sih gampang, Ai. Tapi, jalaninnya yang sulit. Kamu tahu sendiri dia dari awal sukanya sama kamu. Mana pernah dia liat aku, lirik aja deh, lirik. Gak pernah!" ucap Adis dengan wajah memelas.
Aileen menghela napas pelan dan menjadi merasa bersalah. "Maaf, Dis. Aku juga maunya dia move on dan terima perasaan kamu, tapi ...."
"Bukan salah kamu, Ai. Tapi memang dia aja yang kayak monyet, dicintai sama perempuan secantik dan semandiri aku malah gak mau buka hati!"
Aileen melotot kepada Adis dengan menutup kedua telinga Safira. "Aish, bisa gak, sih, kalau mau ngumpat orang lihat-lihat," omel Aileen. "Duh, maafkan Mama. Semoga kamu gak terkontaminasi sama Tante sablengmu ini!"
Safira yang belum mengerti hanya mengoceh sendiri. "Tuh, Safira saja enjoy. Lagian biar Safira tahu sejak dini pilih-pilih suka sama laki. Jangan sampai suka sama orang yang gak mau move on!"
"Udahlah, terserahmu. Tapi, ingat jangan mengumpat orang lagi di depan Safira!"
Adis tidak menjawab ucapan Aileen dan memilih kembali memeluk wadah kacang telurnya. "Kak Randu pulangnya masih sore, kan?"
"Iya, kenapa? Jangan bilang kamu mau gangguin dia!"
__ADS_1
Adis manyun, kesal karena dituduh yang tidak-tidak oleh Aileen. "Gak ah. Males gangguin suami sahabat sendiri, mana Kak Randu orangnya kaku lagi, kayak kanebo kering!"
"Terus mau apa tanya-tanya suamiku?"
"Aku mau numpang tidur. Mau ngerasain bisa tidur di rumah baru!"
***
Aileen kira Randu yang mengetuk pintu, dia sampai terburu-buru mematikan kompor dan beranjak membukakan pintu. Namun, alangkah terkejutnya Aileen karena yang datang perempuan yang bahkan saat pernikahannya tidak datang.
"Mama!" cicit Aileen sambil memperhatikan Sika membawa koper. "Mama tahu dari mana rumah ini?"
"Kamu tega biarin Mama berdiri lama-lama di sini?" tanya Sika ketus.
Aileen menggeleng lalu menggeser tubuhnya agar Sika bisa masuk. Aileen menghela napas pelan lalu membawa masuk koper Sika yang ditinggalkan begitu saja.
"Rumah kamu luas, beda sama Rumah Amee. Randu pilih kasih begitu, ya!" ucap Sika sambil memperhatikan sekeliling rumah lalu duduk di sofa ruang tengah.
Di sana ada Adis yang sedang tertidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Rumah sebesar ini gak ada pembantu?" Aileen menggeleng. Sengaja Aileen melarang Randu untuk mencari pembantu.
"Ck. Suamimu ternyata pelit, ya. Padahal dulu sama Amee punya pembantu loh." Sika memandang Aileen dengan meremehkan.
"Kak Randu bukannya pelit, Ma. Tapi, aku yang minta untuk gak dulu memperkerjakan pembantu!"
Sika menatap Aileen yang berdiri di hadapannya itu dengan lamat lalu mengangguk tanpa minat. Dia menyalakan televisi begitu saja. "Tapi, tetap saja kamu dan Amee diperlakukan Randu beda. Di mana-mana orang akan bandingkan kalian dan mereka akan tahu, kalau Randu begitu memanjakan Amee!"
Aileen mengembuskan napas kasar lalu bertanya, "Mama kenapa ke sini? Bahkan saat pernikahanku saja gak datang? Ke sini bukan mau numpang, kan?" Aileen kesal karena Sika terus saja memojokkannya, memandangnya dengan pandangan merendahkan.
Walau dia menyayangi dan menghormati Sika, tetapi dia juga punya harga diri. Sudah cukup untuknya terus saja direndahkan dan hanya diam menerima.
Sika melempar remote televisi ke arah Aileen dan malah jatuh mengenai kepala Adis.
"Aduh!" seru Adis yang kesakitan. Dia yakin kepalanya pasti benjol, saking kuatnya benda itu mengenai kepalanya.
Aileen menelan ludahnya kasar, dia merasa kasihan kepada remote yang menghantam kepala Adis. Aileen menatap Sika yang terkejut mendengar suara teriakan barusan lalu menatap Aileen meminta penjelasan.
__ADS_1
"Temanku di sini! Mama ada urusan apa ke sini sampai bawa koper? Gak mungkin mau tinggal di sini, kan?"
"Mama akan menginap di sini beberapa hari. Amee usir Mama karena marah pas Mama mau jodohkan sama anak teman Mama!"
"Cuma itu? Mbak Aileen rasanya gak mungkin lakuin hal seperti itu cuma karena perjodohan!"
Sika mendengkus kesal. "Huh. Bilang saja kamu gak mau Mama tinggal di sini!"
Sika berdiri, menghentakkan kakinya dan pergi membawa kopernya. Sesampainya di ambang pintu dia menoleh dan menatap Aileen yang mengabaikannya dan membantu meniup pelipis Adis yang terkena remot.
"Kamu gak ada niatan mau tahan Mama?"
Pertanyaan Sika membuat Aileen dan Adis sama-sama menatap Sika bingung. "Dasar anak gak tahu balas budi!"
Aileen menghampiri Sika dan berkata, "Mama yang mau pergi, aku gak akan larang. Itu hak Mama. Kalau Mama memang mau tinggal di sini, harusnya Mama bilang baik-baik. Bukannya langsung marah waktu kutanya!"
"Kamu masih saja menyalahkan Mama!" Sika bersedekap menatap Aileen kesal.
Aileen menggeleng lalu membawa koper Sika menuju ke salah satu kamar tamu. "Sementara Mama tinggal di sini. Aku harap Kak Randu kasih izin Mama menginap. Kalau Kak Randu gak kasih izin, Mama harus pergi dari sini!" Setelah mengatakannya, Aileen memilih meninggalkan Sika dan menghampiri Adis.
"Aku pulang deh, kayaknya bentar lagi akan ada perang besar!" Adis mengambil tasnya. "Makasih untuk tumpangannya, tuh suami kamu sudah pulang. Dia di dapur sekarang!"
Aileen mengangguk dan pergi ke dapur. Benar saja, ada Randu di sana yang sedang menggunakan celemek. "Kakak ngapain?"
"Mau bantu kamu masak. Kamu pasti capek, kan?"
Aileen menghampiri Randu dan melepaskan celemek tersebut lalu melipatnya. "Kenapa? Aku cuma mau bantu!"
"Kakak pasti juga capek. Lagian, kerjaan di dapur sudah kelar. Mending sekarang Kakak mandi, nanti setelah itu main sama Safira!"
"Safira di mana? Kok rumah sepi?"
"Lagi tidur dia. Habis mainan lama sama Adis." Randu mengangguk lalu mendekatkan tubuhnya pada tubuh Aileen. Pria itu menarik sebelah sudut bibirnya. "Kakak mau ngapain?"
"Cuma mau ini!" Randu mencium pipi Aileen. Namun, saat akan memeluk dengan cepat Aileen mendorongnya. "Mama!"
"Mama?" tanya Randu bingung lalu menoleh, rahangnya lalu mengeras dengan gigi bergelutuk saat melihat siapa yang telah memergokinya.
__ADS_1
"Kenapa dia di sini?"