
Aileen dan Randu mendapati Adis yang sedang duduk di sofa sambil menangis. Ada Bi Siti di sisi Adis yang terus mencoba menenangkannya.
Aileen mencoba untuk tetap tenang walau perasaannya begitu gundah. Dia menghampiri mereka yang tidak menyadari kedatangannya. "Adis!"
Adis mendongak, menatap lurus kepada Aileen lalu dia berdiri dan memeluk tubuh Aileen. "Maaf, aku tadi sudah coba larang Tante Sika, tapi dia tetap paksa dan berhasil bawa Safira!"
Aileen menghela napas pelan. Dia mencoba untuk tenang. Dia mengusap lembut punggung Adis dan memintanya untuk juga bisa tenang.
"Maafin Bibi juga, Neng, Mas. Tadi Bibi gak bisa tolong Neng Adis!"
Aileen mengangguk. Dia melepaskan pelukan Adis dan meminta sahabatnya itu untuk duduk. "Tenanglah. Aku yakin mamaku gak akan macam-macam sama Safira. Dia pasti cuma kangen sama cucunya saja," ujar Aileen sambil mencoba tersenyum walau terasa sulit.
Aileen berdiri, menghampiri Randu yang hanya diam saja dan hendak pergi meninggalkan mereka. "Mau ke mana, Kak?" Aileen mencegah Randu dengan memegang pergelangan tangannya. "Kak Randu harus percaya, mama pasti gak akan sakiti Safira. Kita tenangkan diri dulu di apartemen, besok kita ke rumah mama!"
Randu menatap Aileen lamat dengan begitu tajam, dia menghela napas pelan lalu mengangguk. Randu melepaskan cekalan tangannya dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun.
"Mas Randu pasti marah banget sama Bibi, Neng," ucap Bi Siti penuh penyesalan.
"Bibi jangan berpikir begitu. Lagian gak ada yang tahu apa kalau bakal ada kejadian begini!" Dalam hati Aileen merasa begitu cemas. Dia takut kalau Sika akan melakukan hal buruk kepada Safira walau dirinya tahu bagaimana Sika yang begitu menyayangi Safira.
Dia menghela napas pelan. "Bibi lebih baik istirahat saja. Biar aku yang tenangkan Adis!"
"Neng ...."
Aileen mengangguk dan tersenyum kepada Bi Siti untuk menenangkan perempuan baya itu. Tubuh tuanya terlihat begitu lelah.
Bi Siti menurut dan langsung pergi ke kamarnya. "Baiklah. Kalau ada apa-apa jangan sungkan panggil Bibi!" Aileen hanya mengangguk, dia lalu memeluk kembali Adis yang belum juga berhenti menangis.
"Dis, daripada kamu terus begini lebih baik kamu tenangkan diri dan cerita sama aku apa yang terjadi sampai mamaku bawa Safira!"
"Tadi Tante Sika langsung masuk ke kamar kamu dan ambil Safira gitu aja. Aku sudah coba larang dia, apalagi safira yang kelihatan ketakutan sampai menangis. Tapi, Tante Sika gak peduli." Adis meraih tangan Aileen dan menggenggamnya erat. "Maaf, Aileen. Aku gak bisa jaga Safira. Tante dorong aku dan dia kunciin aku di kamarmu. Aku ...."
"Oke. Aku ngerti sekarang. Aku harap kamu bisa tenang dan berhenti menangis!"
Adis menatap Aileen lamat lalu bertanya, "Kenapa kamu gak marah sama aku?"
Aileen terkekeh pelan walau terasa hambar. Dia menyentil kening Adis pelan, tetapi begitu sahabatnya itu mengaduh kesakitan. "Sebenarnya aku lebih takut dan panik dari kalian, Dis. Tapi, aku juga percaya kalau mama gak akan berbuat yang buruk sama Safira."
Adis menggeleng. "Aku malah takut kalau Tante Sika akan berbuat nekat. Tadi saja Tante sempat bilang kalau dia mau bawa Safira pergi jauh. Dia mau pisahkan kalian!"
Mendengar ucapan Adis baru saja membuat Aileen mendadak lemas. Walau begitu dia mencoba untuk tetap terlihat tenang di depan Adis.
__ADS_1
***
Setelah memastikan Adis tertidur pulas, Aileen memutuskan untuk keluar dari apartemennya dan pergi ke unit apartemen yang dihuni Randu.
Butuh waktu lima menit menunggu pria tersebut membuka pintu. Aileen bernapas lega saat melihat Randu yang masih terjaga, bahkan masih mengenakan pakaian yang tadi dia pakai saat pergi ke restoran walau terlihat tampak kacau.
"Kak, kita harus ke rumah mama sekarang!" Aileen menarik tangan Randu dan mengajaknya pergi. Namun, dirinya hampir terjatuh saat Randu tiba-tiba saja menyentaknya kuat.
"Kak!" Aileen menatap Randu tidak percaya. Dia sama sekali tidak menyangka Randu akan melakukan hal seperti itu.
Pria tersebut menatap Aileen dengan tajam lalu memilih untuk menutup pintu tanpa mengatakan apa pun.
"Kak!" teriak Aileen tidak peduli jika ada penghuni apartemen yang lain terganggu dengan suaranya. Dia terus saja mengetuk dan memencet bel pintu apartemen Randu.
"Kak, aku minta maaf. Tapi, sekarang bukan saatnya kita bertengkar. Mama mau pisahkan kita sama Safira, Kak!" Aileen berbicara seolah Randu bisa mendengarnya. Dia kembali mengetuk pintu dan tidak ada respons apa pun. "Aku akan pergi ke rumah mama. Terserah Kakak mau ikut apa gak!"
Setelah mengatakannya Aileen memutuskan untuk pergi. Dia tidak mau terus saja menunggu Randu yang marah kepadanya hanya karena dirinya mencoba terlihat tenang saat kabar Safira dibawa pergi.
Dia langsung masuk lift, dia terus berharap agar Randu akan menyusulnya dan mereka berdua pergi ke rumah Sika. Namun, dia berlari di lobi saat dia melihat taksi yang baru saja mengantar penumpangnya, Randu tidak juga kunjung datang.
"Ah, sial!" Aileen begitu kesal karena sudah ada yang lebih dulu masuk ke dalam taksi.
"Masuklah!" Senyum Aileen mengembang sempurna, dia mengangguk lalu masuk ke dalam mobil Randu.
"Aku kira Kakak gak akan mau temani aku ke rumah mama!"
Randu tidak menghiraukan ucapan Aileen dan memilih diam saja. Setelah memastikan Aileen mengenakan sabuk pengamannya dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Selama perjalanan, Randu sama sekali tidak menanggapi ucapan Aileen. Dia memilih mendengarkan saja apa yang Aileen katakan.
"Aku akan keluar dan Kakak tunggu di sini saja!"
"Kita pergi bersama!" Aileen menatap Randu lega. Dia langsung melepas sabuk pengamannya dan gegas ke rumah Sika.
Daripada pergi ke rumah Amee, Aileen malah merasa yakin jika Sika berada di rumahnya sendiri saat ini.
"Kamu yakin mama bawa Safira ke sini?" Aileen mengangguk. Dia mengetuk pintu rumah tersebut berulang kali, tetapi tidak ada respons apa pun.
"Aku yakin mama pasti bawa Safira ke sini, Kak. Sebulan lalu yang aku tahu rumah ini sudah gak disewakan lagi!" Randu beralih ke samping rumah untuk mengecek dengan mengintip lewat jendela. Namun, dia tidak dapat melihat apa pun karena terhalang gorden. Apalagi semua lampu dimatikan dan hanya lampu di teras yang menyala.
"Kita pergi ke rumah Amee. Bisa saja Safira ada di sana!" Randu menarik tangan Aileen dan mengajaknya pergi ke rumah Amee dan dengan terpaksa dia menurut.
__ADS_1
***
"Apa yang kalian lakukan dengan datang ke rumah orang malam-malam begini?" tanya Amee kesal. Tidurnya terganggu karena gedoran dan suara bel yang tidak kunjung berhenti.
Padahal dia baru saja tidur satu jam lalu karena sulit tidur. "Mbak maaf sudah ganggu. Tapi, aku mau cari Safira! Dia ada di sini, kan?"
Amee mengerutkan alisnya, dia lalu mendorong tubuh Aileen kasar saat adiknya tersebut hendak masuk begitu saja ke rumahnya. "Jangan macam-macam kamu, Aileen. Aku gak akan izinkan kamu masuk lagi ke rumah ini!" bentak Amee kesal.
"Kamu kira safira jalan sendiri ke rumah ini?"
Aileen menggeleng. "Mbak, mama bawa Safira pergi. Dia ...."
"Mas, kamu gak bisa ajarin dia sopan santun? Aku gak sembunyikan Safira di sini!"
Randu yang sejak tadi memilih diam menjadi geram dengan pertanyaan Amee barusan. Dia melarang Aileen yang hendak menjawab. "Kalau memang Safira tidak ada di sini seharusnya kamu biarkan kami periksa!"
Amee menggeleng. "Gak! Aku gak sembunyikan Safira. Kenapa kalian gak pergi cari mamaku saja, dia yang bawa Safira!"
"Mbak, mama gak ada di rumah!"
"Am, biarkan kami masuk dan periksa!" ucap Randu dengan sorot tajam. Amee tanpa mengatakan apa pun mempersilakan mereka masuk dengan menggeser tubuh.
Kesempatan tersebut tidak disia-siakan Randu dan Aileen. Mereka mencari keberadaan Safira di setiap ruangan dan sama sekali tidak menemukan keberadaan bayi mereka.
"Sekarang kalian percaya?" tanya Amee. Dia menatap keduanya dengan tatapan sinis, bahkan menyunggingkan senyumnya. "Sekarang lebih baik kalian keluar dari rumahku. Atau lapor ke polisi saja dan asal kamu tahu, rumah itu sudah mama jual untuk bayar utangnya!"
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Randu membawa Aileen yang menangis keluar dari rumah tersebut.
Melihat Aileen yang begitu hancur membuat Randu menyesal telah sempat menyalahkannya dan mengira jika Aileen sama sekali tidak cemas dengan kepergian Safira.
"Saya yakin kita akan menemukan Safira!" Randu mengusap lembut punggung Aileen dan mengecup pucuk kepalanya penuh kasih sayang.
Saat ponselnya berdering. Aileen melepaskan diri dan mengambil ponselnya di saku celananya. Dia menatap Randu terkejut dan langsung menerima panggilan dari orang yang saat ini sedang dia cari. "Ma, Mama bawa Safira ke mana? Ma!"
Tidak terdengar jawaban apa pun, Ailee hanya mendengar suara tangis Safira lalu ponsel diambil paksa oleh Randu. Sialnya, belum sempat Randu berkata apa pun panggilan tersebut terputus. "Sial!"
***
Terima kasih sudah membaca karya yang masih amatir ini. Oh, ya, selain karya ini ada lagi cerita yang baru saja dipublish dan yang sudah tamat. Semoga kalian berkenan juga untuk berkunjung dan meninggalkan jejaknya di karya tersebut.
__ADS_1