Skandal Termanis

Skandal Termanis
Kapan Pertemuan Pertama Kita?


__ADS_3

Aileen merasakan perubahan sikap Mira beberapa hari setelah kejadian pagi itu. Mira tidak lagi bersikap abai dan bahkan mengajarkan banyak hal kepada Aileen. Terutama tentang mengurus Safira.


"Besok Tante akan pulang!"


Aileen yang sedang sibuk dengan laptopnya menoleh ke arah Mira yang duduk tidak jauh darinya. Aileen meletakkan laptopnya dengan sedikit ragu mulai bertanya, "Pulang, Tante? Apa gak kecepatan?"


"Kenapa?"


Aileen menggeleng. Dia tersenyum canggung kepada Mira yang sedang menatapnya lekat. "Kamu merasa kehilangan perempuan tua ini?" Aileen mengangguk. "Benarkah? Tante kira kamu akan senang mengetahui perempuan tua ini akan pergi dari sini!"


Aileen menggeleng. Dia dengan ragu mendekati Mira yang sedang duduk di karpet bulu di sisi Safira yang sedang tidur siang. Dia duduk menghadap Mira dan meraih tangan perempuan paruh baya itu. "Tante pergi cepat apa karena aku?" tanya Aileen penasaran.


Rasa penasaran Aileen makin menjadi saat Mira tertawa pelan dan mengusap lembut rambutnya. "Kenapa kamu bisa berpikir begitu?"


"Entah. Hanya saja ...."


Alis Mira berkerut lalu menghela napas pelan. Dia menepuk pelan punggung tangan Aileen yang mengenggam tangan kirinya. "Hanya?"


"Tentang Mbak Amee!"


"Kenapa dengan dia? Kamu berpikir Tante masih berpihak dengan kakakmu itu?" Mira tersenyum tipis.


"Iya. Lagipula sejak awal Tante selalu bilang ...."


"Tante minta maaf, Aileen. Semenjak kejadian itu, Tante sadar kalau ternyata Tante yang salah. Kamu memang hadir di hidup Randu dengan waktu yang salah, tapi kamu selalu tulus mencintai dia. Tante bisa lihat itu beberapa hari ini!"


Mata Aileen berkaca-kaca mendengar ucapan Mira. Dia tidak menyangka akan mendengarkan ungkapan tersebut begitu cepat. Aileen mengira usahanya masih belum membuahkan hasil, sikap Mira kepadanya beberapa hari ini hanya karena rasa kasihan.


"Tante jangan minta maaf, dong. Lagipula Tante gak salah! Aku tahu banget, Tante lakuin itu juga karena sayang sama Kak Randu!"


"Kamu benar. Syukurlah kamu memahaminya." Mira terdiam, dia terus saja mengusap rambut Aileen dan memandangi wajah Aileen dengan lamat. "Tante restui kalian."


"Tante ...."


"Jangan cengeng. Kamu sekarang seorang ibu dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri juga!"


"Istri?" Mira mengangguk dan terkekeh pelan melihat wajah Aileen yang bersemu merah. "Kak Randu bilang apa sama Tante?"


"Apa? Oh, dia bilang akan mempersiapkan semuanya dengan baik dan menikahi kamu. Tante kasih waktu dia satu bulan untuk melakukannya." Mira mendekatkan wajahnya pada telinga Aileen dan berbisik, "Ini rahasia kita. Anggap kamu belum tahu apa-apa!"

__ADS_1


Aileen mengangguk senang. "Siap Tante!"


Mereka sama-sama tertawa. Tidak lupa mengajak Safira turut ikut dalam pembicaraan yang bayi itu masih belum mengerti.


***


"Ada apa ini sebenarnya? Aku melihat ada yang berbeda denganmu dan mama sejak tadi?" Randu merasa heran kepada keakraban Mira dan Aileen. Sejak dia pulang kerja dan langsung memutuskan datang ke apartemen Aileen, dia melihat kedekatan mereka yang begitu kentara.


"Apa ada yang kalian sedang sembunyikan?" Randu merapatkan tubuh mereka agar Aileen makin dekat dengannya. Dia memeluk dan membiarkan kepala Aileen bersandar di pundaknya.


Aileen mendongak dan mencium sekilas rahang Randu lalu kembali fokus menonton film. "Menurut Kakak begitu?"


Randu berdeham sambil menikmati camilan. "Apa aku salah?"


"Gak!"


"Jadi?"


"Entahlah. Terjadi begitu saja." Aileen mengubah posisinya duduk sedikit menjarak dari Randu lalu berkata, "Yang jelas sekarang hubunganku dengan Tante Mira sudah membaik. Dan ... yang buat aku terkejut, Tante Mira merestui hubungan kita!"


Aileen cemberut saat melihat Randu yang biasa saja dan terlihat seperti sudah mengetahuinya. Padahal dia ingin Randu terkejut dan antusias bertanya. "Kenapa?"


Randu mengangguk. "Tentu. Mama memberitahukanku terlebih dahulu. Anggap saja aku yang memaksanya meminta maaf denganmu!"


Aileen langsung memukul lengan Randu membuat pria tersebut terkejut. "Akh, sakit!"


"Rasain. Itu balasan karena Kakak tega suruh Tante minta maaf duluan. Harusnya Kakak kasih tahu aku biar aku bisa mulainya dulu!"


"Tapi, kan, mama memang salah!" Aileen masih saja memukul lengan Randu.


"Tapi karena Kakak paksa Tante Mira begitu sampai buat Tante mau pulang cepat!"


Randu langsung menangkap tangan Aileen agar berhenti memukul lengannya. "Kamu kenapa suka sekali kekerasan, sih? Gimana kalau Safira meniru?"


"Gak akan!"


"Oke, baiklah!" Randu menghela napas pelan lalu kembali bicara, "mama pulang bukan karena marah aku paksa minta maaf, mama pulang karena waktunya!"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Mama sakit, Aileen. Dan setiap bulan harus kontrol. Sebenarnya bisa saja melakukannya di sini, tetapi ditakutkan akan berpengaruh dengan pengobatannya yang sudah berjalan!" Randu mencubit gemas ujung hidung Aileen. "Masih belum paham?"


Aileen dengan polosnya menggeleng. "Bisa dikatakan mama sudah cocok dengan dokter yang menanganinya saat ini. Lagipula di sana ada kakak ipar yang merupakan perawat dan pengobatan di sana lebih maju."


"Aku berharap Tante Mira bisa cepat sembuh dan dia menyaksikan saat kita menikah nanti, terus punya anak!"


"Tentu, itu pasti akan terjadi. Tapi, memang kamu benar-benar siap menikahi kembali mantan suamimu ini?"


Aileen pura-pura berpikir, dia menelengkan kepalanya ke kiri sambil mengetuk rahangnya dengan telunjuk. Dia tidak bisa menahan tawanya saat melihat Randu yang menunggu dengan serius.


"Astaga, kenapa dengan wajah Kakak ini? Tentu aku mau, dong. Aku mau Safira memiliki orang tua yang lengkap."


"Syukurlah."


Aileen mengangguk lalu memeluk Randu erat. Namun, pelukan itu segera berakhir saat melihat Mira yang keluar dari kamar dan berjalan ke arah mereka. "Ada Tante!" bisik Aileen.


Randu menoleh ke belakang dan melihat Mira sudah berada di dekatnya. "Kalian belum tidur? Randu kenapa masih di sini?"


"Tante, jangan marahi Kak Randu, oke?" Aileen menghampiri Mira dan menuntun perempuan paruh baya itu untuk duduk di sofa. "Aku yang minta Kak Randu temani untuk menonton film!"


Mira melirik sekilas ke arah televisi, kembali menatap Randu dan Aileen bergantian. "Mama kenapa belum tidur?"


"Mama haus, tapi penasaran dengan apa yang kalian lakukan sekarang di sini!"


Aileen meringis mendapat tatapan penuh selidik Mira. Dia lalu beranjak pamit ke dapur mengambilkan minum untuk Mira.


"Mama senang melihatmu bisa tersenyum lepas begini saat bersama dengan Aileen. Maaf kalau selama ini kamu tertekan, Mama yang memaksamu untuk menikah dengan Amee saat itu!"


Mira menghela napas, dia menyesal menyadari jika dia ada andil dalam pernikahan Randu dan Amee. "Aku juga mencintai Amee, saat itu. Dan Mama yang memuluskan jalannya, lalu apa yang salah?"


"Mama yang salah, Ran. Mama tahu kamu mencintai Aileen sejak awal, sayang Mama egois dengan memintamu mempercepat pernikahan kalian."


"Sudahlah. Kita lupakan masa itu. Lagipula sebentar lagi Aileen akan menjadi milikku!" Randu memeluk tubuh Mira. Hal yang sudah lama tidak pernah dia lakukan.


Memang dulu dia mencinta Aileen, tetapi rasa cintanya masih kalah dengan perasaan cintanya kepada Amee. Sehingga ketika Mira mendesaknya menikahi Amee, Randu setuju begitu saja.


Aileen bergeming sambil mendengarkan apa yang mereka katakan. Dia sama sekali tidak menyangka jika Randu telah mencintainya sejak dulu. Dia kira cinta untuknya hadir karena dirinya yang tidak pantang menyerah dan karena pengkhianatan Amee.


"Mungkin jika saat itu kami menikah, ceritanya tidak akan begini!"

__ADS_1


Aileen menghampiri mereka dan mengagetkan dengan pertanyaannya. "Memang kapan pertemuan pertama kita? Bukankah setelah kakak menikah dengan Mbak Amee?"


__ADS_2