
Randu tidak lagi datang, dia mengingkari janjinya malam itu. Hari-hari perempuan hamil tersebut terasa kosong, meski dia telah memiliki kesibukan sendiri. Namun, ketiadaan pria tersebut membuatnya tidak bersemangat.
Hampir seminggu tanpa kabar dari pria tersebut, Aileen pun tidak berani untuk mengunjungi rumah mereka atau tempat kerjanya. Dia takut jika saja kedatangannya menimbulkan kecurigaan, meski seharusnya tidak.
Aileen sadar diri, malam itu Randu berbeda. Randu mengetahui Amee berbohong, begitu pun dirinya walau pria tersebut tidak mengetahui.
"Kenapa aku jadi pengin banget peluk tubuh Kak Randu?" Aileen merasa frustrasi. Pekerjaannya tidak beres, pikirannya selalu saja tertuju kepada satu objek. Dia menutup laptopnya.
Tidak tahan terus menunggu ketidakpastian, dia memutuskan untuk pergi menemui saja pria tersebut. "Dia harus menepati janjinya!" Berbekal tekat, dia mengabaikan panggilan bibi yang memintanya untuk makan siang.
"Sepertinya kamu merindukannya juga." Aileen mengusap perutnya sambil keluar dari lobi apartemen dan memasuki taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.
Aileen meminta untuk diantar ke tempat kerja Randu, dia yakin pria itu ada di sana. Tidak peduli dengan penampilannya yang hanya mengenakan pakaian rumah dan cardigan rajut over size untuk melindungi tubuhnya dari dingin.
Panggilannya tetap saja tidak dipedulikan, bahkan pesan-pesan yang dia berikan pun tetap saja tidak mendapat balasan atau pun centang biru.
"Pak, kita berhenti di toko roti depan dulu, ya!" pinta Aileen. Dia ingin mendatangi Randu dengan alasan yang membuat semua orang tidak bertanya-tanya, meski begitu pikirannya benar-benar kacau. Dia menatap jalanan yang masih basah setelah hujan sambil menggigit jarinya untuk mengurangi kegelisahan.
"Sudah sampai, Nona!" Aileen menoleh ke samping kirinya. Taksi sudah berhenti di toko yang dimintanya.
Aileen mengangguk. "Tunggu sebentar, Pak!" Dengan cepat dia keluar dari taksi dan memasuki toko yang langsung disambut dengan aroma wangi kue-kuenya.
"Selamat datang, mau beli kue apa?" Seorang perempuan muda berpakaian seragam menghampiri mereka.
Aileen bingung, dia tidak tahu harus membeli apa. Dia tidak tahu kue apa yang Randu suka, selama ini dia hanya tahu Randu yang mengetahui banyak tentang dirinya dan dia hanya sebagian kecil saja mengetahui tentang Randu.
Aileen memperhatikan rainbow cake di depannya dengan ragu dan menunjuknya, perempuan muda itu hendak mengambilnya. "Ah, tidak. Suamiku gak suka yang terlalu manis!" Perempuan itu paham dan hanya mengangguk saja.
"Bisakah bungkus untuk macam-macam kue tradisional yang ada di sini? Suamiku menyukainya!" Aileen memantapkan pilihan, dua kali dia melihat Amee membeli kue tradisional dan dia meyakini kue tersebut makanan yang Randu lebih sukai.
Perempuan muda itu dengan gesit mengerjakan tugasnya. Semalam menunggu, Aileen kembali mencoba menghubungi Randu, setidaknya saat dia datang nanti pria tersebut tidak terkejut.
Setelah melakukan pembayaran Aileen gegas kembali ke taksi. Dia sesekali melirik plastik yang berisi dua kotak kuenya dengan gamang.
Hanya butuh waktu tidak lebih dari dua puluh menit, taksi sudah sampai di depan showroom milik Randu. Dia langsung membayar taksi dan tidak lupa memberikan sekotak kue yang dibelinya kepada sopir taksi tersebut sebagai ucapan terima kasih.
Untuk menutupi kegelisahan, dia menghela napas berulang kali. Aileen memperhatikan gedung besar itu dengan saksama. Beberapa orang dengan pakaian rapi lalu lalang, entah itu pegawai atau orang-orang yang datang untuk melakukan pembelian.
__ADS_1
"Permisi, ada yang bisa dibantu?" Seorang pria berpakaian satpam menghampirinya. Dari tatapannya, Aileen tahu pria tersebut menatap heran kepadanya yang tidak beranjak masuk.
"Nona, silakan masuk!"
"Pak Randu ada?"
Pria di hadapannya itu mengerutkan kening dan menggeleng. "Dia tidak datang hari ini."
"Oh. Terima kasih!"
Aileen memilih pergi begitu saja. Dia menggerutu kesal, kepergiannya menjadi sia-sia saja. Namun, demi keinginannya untuk bertemu dan dapat melepas rindu Aileen memilih pergi ke rumah yang pernah menampungnya.
Harapan besar Aileen untuk dapat bertemu dengan pria tersebut, meski dirinya sadar kemungkinan keinginannya untuk memeluk Randu tercapai akan sangat mustahil.
***
Aileen sama sekali tidak menyangka, perempuan yang sangat dia cintai tengah terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Pergelangan tangan kirinya diperban, wajahnya memar, dan parahnya dia melihat mata kiri Amee membiru, meski sudah sedikit memudar.
Aileen tidak kuasa menahan tangisnya, dia menghambur memeluk tubuh Amee yang lemah itu, tidak peduli dengan larangan Sika kepadanya untuk menemui Amee.
"Apa yang terjadi, Mbak? Kenapa bisa sampai begini?" Aileen menyeka air matanya sendiri. Dia menatap nanar tubuh Amee yang terluka. Perempuan yang usianya lima tahun lebih tua darinya itu hanya tersenyum sambil menahan sakit karena sudut bibirnya yang terluka.
"Aku merasa buruk sekali sebagai adik. Mbak Amee terluka dan aku sama sekali gak tahu apa-apa." Aileen mengenggam tangan kanan Amee yang terasa dingin itu.
"Jangan salahkan dirimu. Mbak yang meminta Mas Randu untuk gak kasih tahu kamu. Kamu gak boleh banyak pikiran."
Aileen kembali memeluk hati-hati tubuh Amee dan menangis. Dia menyesal telah mencurigai Randu melupakannya, ternyata pria tersebut sedang sibuk mengurus Amee yang dirawat. Seharusnya dia tahu diri.
"Pergilah, tidak lihat tubuh putriku terluka!" Sika datang dan menarik begitu saja tangan Aileen tanpa peduli jika Aileen akan terjatuh.
"Mama!"
"Jangan marah sama Mama. Selama ini Mama sudah sabar dengan sikapmu yang selalu membela anak gak tahu diri itu. Sekarang lihatlah, karena dia kalian bertengkar sampai kamu terluka parah begini!"
Aileen menutup mulutnya, dia tidak mengerti maksud mamanya mengatakan hal itu. Dia membiarkan saja seseorang membawa tubuhnya keluar dari ruangan tersebut.
"Kenapa kamu datang ke sini?" Aileen kembali menangis. Dia sudah berada di taman rumah sakit. Ucapan Sika terus saja berulang-ulang berputar di pikirannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Aileen di sela tangisnya.
Dia menoleh ke sebelah kiri, Randu tengah duduk di sana dengan pandangan lurus ke depan. Wajahnya terlihat jelas gurat-gurat kelelahan.
Aileen menyeka air matanya. Dia lalu memberikan sebungkus tisu kepada Randu. Pria itu mengambil tanpa mengucapkan apa pun lagi.
"Aku sudah selesai menangis, sekarang giliran Kakak yang menangis. Tisu itu bisa untuk menghapus air mata Kakak."
Randu menatap Aileen yang matanya sudah sembap karena menangis. Dia menghela napas pelan lalu berujar, "Maafkan saya. Kamu pasti bingung kenapa saya tidak datang beberapa hari ini!"
Aileen mengangguk membenarkan ucapan suaminya itu. "Apa yang terjadi? Apa benar kalian bertengkar karena aku?"
Randu menggeleng, dia kembali menatap lurus ke depan. "Kak!" Aileen menyentuh lengan Randu.
"Kami bertengkar tapi bukan karena siapa-siapa."
"Lalu? Kenapa Mama bilang kalau aku penyebabnya?"
"Jangan percaya!" sanggah Randu. "Mama hanya mengira karena kamulah kami sampai bertengkar dan membuat Amee kecelakaan."
"Aku tahu, mama akan selalu menyalahkan aku atas apa yang terjadi sama Mbak Amee!" Randu kembali menatap Aileen dan memeluknya. Bahkan tanpa memintanya, Aileen akhirnya dapat merasakan keinginannya tadi.
Perempuan itu tidak mau kehilangan kesempatan, dia membalas pelukan Randu sambil mengirup dalam-dalam aroma tubuh Randu. Namun, dia langsung mendorong tubuh suaminya itu sampai pria tersebut melepaskan pelukannya.
"Ada apa?" tanya Randu heran ketika melihat Aileen menutup hidungnya. Dia lalu mengendus aroma tubuhnya sendiri dan terkekeh. "Maaf, saya belum sempat mandi!"
"Gak kok, aku tetap suka! Kakak tetap keren dan ganteng walau belum mandi." Aileen tidak lagi menghiraukan aroma tubuh Randu yang menganggu penciumannya dengan kembali memeluk pria tersebut. Dia mendongak untuk melihat wajah lelah suaminya.
"Apa aku sudah bisa mendengar alasan kenapa Mbak Amee sampai kecelakaan?"
Randu berdeham. Dia memalingkan pandangan ke sisi sebelahnya, menghindari tatapan Aileen kepadanya.
"Kakak!" Aileen menangkup wajah Randu untuk kembali menatapnya.
"Saya yang membuat Amee marah, dia tidak terima ketika saya menginginkan anak darinya saat ini. Menurutnya anak dari rahimmu sudah cukup untuk keluarga kami."
Aileen menelan ludahnya kasar. "Apa Kakak sendiri berubah pikiran? Apa Kakak sebenarnya menolak anak ini?"
__ADS_1
"Bukan begitu!" Aileen mengangguk, meski dirinya merasa sangat terluka. Hatinya terlalu sensitif mendengar ucapan Randu tersebut.
"Aku tahu!"