
Seto menepati janjinya menemani Amee seharian kemarin. Dia bahkan sengaja tidur di sofa kamar Amee daripada tidur di kamar tamu yang sudah disiapkan. Pria tersebut ingin mengenang tempat di mana kesalahannya membuat Amee dan Randu berakhir dengan kata perceraian.
Seto sudah bangun beberapa menit lalu, dia melihat Amee yang menggeliat. Perempuan itu mulai terjaga dalam tidur panjangnya. Dia menghampiri Amee dan menjadi orang pertama yang dilihat Amee ketika membuka mata.
"Pagi!" sapa Amee dengan senyum yang mengembang. Perempuan tersebut seolah tidak peduli dengan permasalahan yang saat ini sedang dia hadapi atau memang tidak mengingatnya.
Dia bangun dan menarik tangan Seto sampai pria tersebut terduduk di sisinya. "Makasih karena kamu gak pergi!"
Seto hanya mengangguk. Dia terus saja memperhatikan Amee dengan tatapan kasihan. "Kenapa?"
"Apa kamu butuh sesuatu? Mungkin sebaiknya kamu kembali untuk memeriksakan diri!" Amee mengerutkan keningnya lalu menggeleng. "Tapi, saat ini kamu butuh itu. Obat-obatan saja tentu gak cukup!"
"Daripada obat atau kembali datang ke psikiater aku lebih butuh kamu di sini!" ucap Amee tanpa beban sama sekali.
Seto menghela napas pelan. Dia memilih diam dan mengusap lembut rambut berantakan Amee yang baru bangun tidur itu.
Pria tersebut sadar, saat ini percuma untuk mengatakannya kepada Amee jika perempuan itu memerlukan untuk kembali berkonsultasi mengingat apa yang terjadi kemarin kepada perempuan tersebut. Namun, saat ini dia memilih untuk menuruti saja dulu apa yang Amee inginkan.
"Kenapa?" tanya Seto heran saat melihat wajah Amee yang berubah cepat menjadi murung. "Merindukan bayimu?"
Amee tidak menjawab, Perempuan tersebut memilih memeluk tubuh Seto yang sama-sama baru bangun tidur. Dia memejamkan mata, menyembunyikan rasa sedihnya karena kehilangan bayi yang amat disayanginya itu dan juga kehilangan Randu.
Amee menggeleng saat Seto hendak melepaskan pelukannya. Dia makin mengeratkan pelukan tersebut. "Jangan dilepas, tolong!" pinta Amee penuh harap. "Aku suka aroma tubuh kamu. Apa bisa setiap hari begini?" gumam perempuan tersebut yang jelas masih terdengar oleh Seto.
"Am, bisakah dilepaskan? Aku merasa sesak!" Karena ucapan Seto membuat Amee terpaksa melepaskan pelukannya. Dia menjauh dan memperhatikan Seto lekat.
"Ada apa?" Amee menggeleng. "Baiklah!" Seto mengacak rambut Amee dan bangkit berdiri. Dia membuka pintu dan mempersilakan Sika masuk dengan membawa sarapan untuk Amee.
"Mama!" Amee terlihat tidak menyukai kedatangan Sika. Dia lalu beralih menatap Seto yang diam saja. "Mau ke mana?"
"Maaf, Am. Tapi aku harus pulang. Aku janji akan ke sini lagi secepatnya. Aku janji!" Pria tersebut tanpa sungkan mengecup pelipis Amee dan tentu saja membuat perempuan tersebut begitu girang, bahkan Sika yang melihat pun merasa senang.
"Permisi!"
***
__ADS_1
"Sekarang waktunya kamu sarapan. Mama harap drama kamu menangis kayak kemarin gak ada lagi sekarang. Lupakan Randu dan mulai hidup baru dengan Seto atau siapa pun yang kamu mau!"
Sika menyodorkan piring berisi nasi goreng kepada Amee. "Mau Mama suapi?" Sika bertanya dengan tatapan tajam kepada Amee yang diam saja.
Amee mendengkus kecil lalu mengambil kasar piring tersebut. Dia hanya memangkunya dan menatap tanpa minat. "Kenapa? Kamu takut rasanya gak enak?"
"Mama gak ada rasa empati sama sekali? Mama kira kesedihanku cuma kemarin saja dan sekarang gak?"
"Tentu. Nyatanya hari ini kamu sudah seperti biasanya. Lagipula apa yang kamu buat sedih? Randu? Bahkan kamu gak cinta sama dia. Kalau Safira, lupakan bayi itu. Mengingat asal-usulnya buat Mama marah!"
Amee tidak membalas ucapan dari Sika. Dia memilih mengabaikan begitu saja Sika yang sedang meluapkan emosinya. Dia mencoba menikmati sarapannya yang tetap saja terasa hambar.
***
Tanpa sepengetahuan Sika, Amee keluar dari rumah. Kali ini dia mencoba tegar walau rasanya begitu sulit. Dia tidak bisa begitu saja bercerai dengan Randu bukan karena mencintai pria yang masih berstatus suaminya itu. Namun, karena dia tidak tahu kapan Seto akan menerima dirinya. Dia terlalu takut melangkah sendiri setelah selama ini ada Randu yang selalu memberi kekuatan.
Dengan ragu Amee mengetuk pintu apartemen Randu. Dia menunggu dengan rasa cemas.
"Neng Amee!" sapa Bi Siti yang berdiri di belakangnya.
Amee menoleh dan melihat perempuan baya itu membawa beberapa belanjaannya di kiri dan kanan tangannya. "Kenapa gak masuk? Mas Randu ada di dalam loh!"
"Mas Randu gak kerja, Bi?"
"Tadi katanya mau kerja dari rumah saja dulu, Neng. Kasihan Safira semalam demam, tapi subuh tadi sudah diperiksa sama dokter dan katanya gakpapa!"
Bi Siti membuka pintu dan mengajak Amee masuk, tanpa merasa ragu perempuan itu mengikutinya.
Dia memperhatikan apartemen yang masih tampak sama seperti terakhir dirinya datang. Tatapannya tertuju ke arah pintu yang dia yakini ada Randu di dalamnya.
"Neng. Mau minum apa?" tanya Bi Siti membuyarkan lamunan Amee.
"Ah, eem, terserah Bibi!" Perempuan itu mengangguk. "Aku ke kamar dulu!" Amee meninggalkan Bi Siti yang memperhatikan dirinya dengan tatapan iba.
"Aku yakin kamu di sini, Mas," gumam Amee. Dengan perasaan ragu perempuan tersebut memegang gagang pintu, tetapi saat gagang pintu tersebut bergerak ke bawah dia melepaskannya dan mundur.
__ADS_1
Senyumnya mengembang saat melihat wajah pria yang seharian kemarin tidak dia lihat sama sekali. "Mas!"
"Kenapa di sini?" Tatapan Randu terlalu datar. Pertanyaannya pun membuat Amee merinding.
Perempuan itu menggeser tubuhnya dan memberi jalan kepada Randu yang pergi menjauh dengan membawa botol susu kotor. Mendengar suara rengekan Safira membuat Amee gegas masuk ke kamar dan menemui bayinya itu.
"Hai, kamu tahu Mama datang, ya?" Amee melepas tasnya dan meletakkan di nakas. Dia duduk di tepi ranjang dan memperhatikan Safira yang menggeliat tidak nyaman.
"Kamu pasti tahu Mama datang, kan? Rindu Mama?" Amee hendak menyentuh Safira, tetapi urung dilakukan saat mendengar suara Randu yang melarangnya menyentuh bayi tersebut.
"Kenapa kamu ke sini? Hari ini pengadilan akan mengirimkan surat gugatan ke rumahmu!"
Amee menatap Randu dengan tidak percaya. Dia berusaha menguatkan diri, tetapi mendengar kata perceraian itu kembali dari mulut Randu membuatnya kembali lemah. "Mas, aku mohon jangan begini. Kita bisa perbaiki semuanya!"
"Jangan memaksa. Saya melepasmu agar kamu bisa bersama pria yang kamu cintai itu!" Randu mengabaikan tangisan Amee dengan keluar dari kamar setelah Bi Siti masuk.
Amee menyeka air matanya, dia mengambil tasnya dan keluar dari kamar begitu saja.
"Lebih baik sekarang kamu pulang." Randu sudah berdiri di depan pintu keluar. Dia memegang gagang pintu dan hendak membukanya. Namun, dengan cepat Amee menarik tangan Randu.
"Aku masih mau di sini, Mas. Mana mungkin aku pergi saat tahu anakku sakit. Dia butuh aku!" Amee menatap Randu dengan tatapan memohon.
"Baiklah. Tapi, lepaskan!" Amee menurut. Dia melepaskan tangan Randu. "Saya harap ini terakhir kali kamu di sini. Setelah itu, jalani hidupmu sendiri."
"Kenapa kamu jahat banget, Mas? Apa karena dia anakmu sama Aileen?"
Randu berdeham. Dia sama sekali tidak mau menatap Amee yang terlihat begitu rapuh saat ini. "Tapi, dia anakku, Mas. Aku sayang sama dia."
"Setelah kamu tahu semuanya? Kamu masih yakin dengan rasa sayangmu itu untuk Safira?" tanya Randu dengan tatapan tidak terduga, seolah meragukan perasaan sayang Amee untuk Safira. "Apa kamu sedikit pun tidak membenci bayi itu?"
Amee menggeleng. "Kalau aku benci, sudah sejak awal, Mas. Aku sayang sama Safira terlepas dia memang anakmu dan Aileen. Aku bahkan gak bisa benci Aileen walau tahu dia perempuan yang sekarang kamu cintai, bukan aku!" Amee menggigit bibirnya kuat. Dia menunduk.
"Perempuan seperti apa kamu ini? Seharusnya kamu membenci kami dan memulai hidupmu dengan melupakan kami mulai sekarang!" Randu mulai merasa frustrasi. Dia mendekati Amee dan memegang kedua bahunya dengan meremas kuat. Mengabaikan Amee yang meringis sakit karena ulahnya.
"Aku gak bisa, Mas. Melepasmu sama saja bunuh diri buatku. Karena sejak awal cuma ada kamu, gak ada yang lain!"
__ADS_1
"Hah. Saya izinkan kamu tetap di sini saat ini. Tapi, semua itu tidak bisa merubah apa pun. Kita akan tetap bercerai dan saya berharap kamu bisa melupakan semuanya atau bahkan membenci saya, setidaknya!" Randu menatap mata Amee yang berbinar dan mengangguk. "Agar rasa bersalah saya bisa banyak berkurang!"
"Makasih, Mas." Amee berbalik dan beranjak pergi ke kamar, tetapi baru beberapa langkah dirinya berhenti dan kembali berbalik menatap Randu. "Aku gak bisa benci kamu, Mas." Setelah itu dia kembali melangkah pergi. Dia bahkan tersenyum begitu manis dengan sisa-sisa air mata di pipinya.