
"Mas, kamu kenapa sih, diamin aku dari kemaren." kesal Lilis.
"Pikir aja sendiri." Sahut Kardi dengan ketus, andai dia tidak abai dengan istri dan anaknya dulu, mungkin dia tidak akan bercerai dari sang istri, sungguh dia masih mencintai Bu Siti, namun karena ancaman sang ibu, dia malah lebih kehilangan sang istri, mendengar jeritan hati anaknya kemaren membuat hati Kardi tercubit nyeri, memang dia tidak dekat dengan sang anak, dan jarang memberi uang kepada anak istrinya, karena semua uangnya di sita oleh sang ibu, andai dia tegas dan tidak terlalu pengecut menjadi laki laki, mungkin anak dan istrinya tidak akan pergi dari dirinya, dia tidak akan melihat anaknya bermanja manja dengan orang lain yang di akui sang anak, calon Ayah barunya, sakit sungguh sakit rasanya hati kardi mendengar posisinya sudah di gantikan oleh orang lain.
"Mas.... kamu mau kemana? jangan bilang kamu masih ingin menemui wanita sialan itu, aku ngak rela ya mas," pekik Lilis yang ketakutan, bagaimana tidak takut, tidak ada laki laki lain selain kardi yang mau dengan dirinya, andai dia tidak mengiming imingi ibu mertuanya dengan uang dan perhiasan, belum tentu saat ini dia sudah menikah.
"Jangan atur atur saya! gara gara kamu iblis betina, saya berpisah sama anak istri saya, dasar perempuan si alan, perawan tua tidak laku, saking ngak lakunya kau menyogok ibu saya, si Alan kau, perempuan tidak tau diri, kalau bukan kerena kau, istri saya tidak akan minta cerai sama saya, klau bukan ulah kau, anak saya tidak akan kehilangan kasih sayang seorang ayah, kini anak saya mencari ayah baru, itu gara gara kau si alan!" bentak kardi.
Deg....
Sakit sungguh sakit hati Lilis mendengar hinaan laki laki yang selama ini hanya diam saja, tanpa banyak bicara apapun yang dia lakukan, dia pikir sudah bisa menguasai sang suami, nyatanya suaminya masih cinta sama mantan istrinya.
"Kardi....! apa apaan kamu ini, kenapa bentak bentak istri kamu ha...!" marah sang ibu.
"Ini semua juga gara gara ibu, aku anak ibu, karena tidak ingin berdosa dan ingin berbakti sama ibu, tapi ibu dengan sesuka hati mengatur aku, sampai sampai aku ke hilangkan istri dan anak aku bu, apa ibu sudah puas dengan semuanya, apa ibu sudah puas melihat rumah tangga aku hancur, apa ibu sudah puas melihat aku menderita, ibu sudah puas!" pekik Kardi yang kesakitan, sungguh dia juga tersiksa dengan keserakahan sang ibu."
"Kardi, kamu kenapa sih, jadi begini, apa kamu masih mikirin tukang pengeretan itu, dan sama anak pembangkang itu, kamu jangan main main ya Di, ingat istri kamu, lihat dia sampai menangis gitu, hanya karena perempuan miskin itu kamu jadi gini." marah dang ibu.
"Klau iya kenapa, cukup ya bu, selama ini aku selalu menuruti kemauan ibu, sekarang ngak lagi, wanita yang aku cinta itu Siti bu Siti, bukan perawan tua yang tidak laku itu, biarin aja dia menangis, gimana rasanya rasanya, sakit ngak hati dia melihat suaminya memikirlan wanita lain, sakit ngak hatinya, suaminya bersama wanita lain, sekarang coba rasain bagaimana hancur hati istri aku saat tau aku menikah dengan sundel itu, sakit bu, sakit, bukan hanya istri aku yang sakit, anakku juga, bahkan aku jauh lebih sakit bu, aku bagai makan buah simalakama, di sana istri dan anak aku, di sini ibuku, dan ibu menekan saya dengan penyakit ibu, sekarang aku ngak mau lagi kalian atur atur lagi, terserah ja..ng itu mau tetap bertahan atau ngak, aku ngak maksa, lagian aku ngak pernah anggap dia istri aku, dan aku ngak pernah tuh menggauli dia." sinis Kardi pergi dari rumah orang tuanya.
Duar....
Hati Lilis semakin hancur, apa yang menjadi rahasia rumah tangganya malah di beberkan di depan orang ramai oleh sang suami, malu pasti lah sangat malu, ingin rasanya Lilis pergi dari sana, namun mana bisa, lihat lah mata mata orang itu melihat dirinya, seperti sedang mentertawakan dirinya.
__ADS_1
"Hahha....kasian, di kira sudah ngerasain suruh dunia, tapi tetap aja jadi perawan tua."
"Syukurin, klau dapat laki hasil rampasan mah ngak bakal bahagia."
"Karma lagi OTW, misahin istri dan anak dari bapaknya."
"Haduuuhhh... Neng, udah capek nyogok ibu mertua, ehhh tau tau gawang masih bersegel, ngak laku banget ya neng, ampe tega teganya ngerampas laki orang."
"Diam kalian.... pergi sana!" marah ibu mertua Lilis itu.
"Huuu.... ini juga nih, nenek kok ngak ada perasaan ya, punya cucu cantik, tapi ngak di aku, bisa bisanya menjandakan menantu demi perawan tua ngak laku." cibir orang orang di sana.
"Pantas gaya hedon, ternyata makan uang cucunya, dan hasil menjual sang anak."
Banyak sekali cemoohan yang di lontarkan oleh warga kepada dua perempuan beda usia itu.
"Ana..." panggil Kardi dengan pelan dan memandang sang putri dengan sendu, betapa cantiknya anaknya saat ini, karena hidupnya terawat, lihat lah betapa manisnya senyum sang putri yang tidak pernah dia lihat saat bersama dirinya.
Ana yang merasa di perhatikan, lansung menoleh ke arah jalan.
Deg...
Ana kaget melihat tatapan sendu sang bapak, Ana melangkahkan kakinya mendekati bapak kandungnya itu, walau bagaimanapun, dia tetap seorang anak yang haus kasih sayang dari bapaknya.
__ADS_1
"Ada apa bapak kesini?" tanya Ana, menatap sang bapak dengan tatapan sulit di artikan.
"Boleh kita bicara berdua nak, sebentar saja." pinta bapaknya itu.
"Emang mau ngomong apa?" tanya Ana.
"Baiklah, kita duduk di sana." tunjuk Ana ke arah bangku di dekat rumah lamanya, Kardi mengikuti langkah sang anak, dan menatap punggung anaknya dengan perasaan bergemuruh.
"Bapak mau ngomong apa?" tanya Ana yang tidak mau basa basi.
"Maafin bapak nak, maaf tidak bisa menjadi bapak yang baik untuk mu, dan jadi suami yang baik untuk ibumu, banyak luka yang sudah bapak torehkan di hati kamu dan ibu mu, maafkan bapak yang tidak berdaya ini, yang tidak bisa melawan perintah nenekmu, maafkan bapak yang tidak pernah memberi kamu nafkah nak, maaf." ucap Kardi dengan menahan sesak di dadanya.
"Mmm...." sahut Ana, hatinya ikut sakit mendengar curahan hati sang bapak.
"Jangan benci bapak Nak, bapak tau, bapak banyak salah, jujur di dalam hati ini, bapak sangat mencintai kamu dan ibu mu, tapi. Kamu tau sendiri nenek kamu nak, bapak tidak bisa berbuat apa apa hiks." pecah sudah tangis laki laki itu.
"Lupakan saja pak, aku sudah memaafkan bapak kok, sebelum bapak minta maaf, tiada guna pak, memendam benci, yang ujung ujungnya hatiku juga sakit, aku sudah melepaskannya semua sakit itu kemarin pak, sekarang aku sudah lepas, aku hanya ingin menjalani hidup bahagia dengan ibuku, tanpa gangguan dari istri bapak dan juga ibunya bapak." tutur Ana, iya, sejak menangis kemaren, dia di nasehati oleh Karyo dan Refandi dan juga Malika, kini hati gadis itu sudah plong.
"Boleh bapak minta peluk nak, sekali saja." pinta Kardi dengan ragu, takut anaknya menolak permintaannya.
Hap....
Tanpa di minta dua kali, Ana seorang anak tentu saja ingin merasakan pelukan ayah kandungnya. Ana lansung menghambur ke dalam pelukan sang bapak.
__ADS_1
"Hiks... hiks.... begini kah rasanya pelukan seorang bapak yang sesungguhnya hiks." Ana menangis memeluk sang bapak, Kardi mengeratkan pelukannya kepada anaknya itu, entah sudah berapa lama dia tidak memeluk anak gadisnya itu, dia pun sudah lupa, Kardi pun ikut menangis mendengar ucapan sang anak.
"Sekali lagi maafkan bapak." bisik Kardi.