
"Kami hari ini kembali ke kota nak, apa kamu yakin akan tinggal di sini?" tanya Mami Retno membelai kepala Malika.
"Pulang lah, aku tau kalian banyak pekerjaan yang terbengkalai di sana, tak baik hanya aku kalian lalai sama tugas kalian, Lika akan tinggal di sini, karena Lika sudah nyaman di desa ini, Lika belum ada niat untuk kembali." ujar Malika,ternyata setelah memaafkan semua keluarganya Malika masih ingin tinggal di desa itu, karena sudah nyaman dari kerasnya ibu kota.
"Baiklah, kami tidak bisa memaksamu, kami akan sering sering ke sini mengunjungi kalian." putus Papi Aksa, dia pun tidak akan memaksa menantunya yang sudah terlanjur terluka, dan juga sudah nyaman di desa ini, dia pun berfikir ingin membuat villa di desa ini, dia akan sering berkunjung menemui menantu dan cucu cucunya.
"Nak, sebenarnya kami ingin kamu pulang ke kota, karena perusahaan orang tuamu membutuhkan kamu, dan semua sudah menjadi milik kamu sayang, selama ini Om hanya menjalankan saja, setelah kamu kembali tentu akan kembali ke tangan kamu." tutur Pak Indra.
"Kelola saja sama Om, aku belum berniat untuk mengambil alih perusahaan, aku masih ingin tinggal di sini, dan aku punya impian sendiri." ujar Malika.
Semuanya hanya bisa mendesah, karena Malika benar benar tidak ingin pulang kerumahnya.
"Mas klau mau pulang, pulang saja, aku mau tinggal di sini." ujar Malika menatap suaminya.
"Mas tidak akan kemana mana, mas akan berada dimana anak dan istri mas berada, mas masih bisa bekerja dari sini, paking sesekali mas akan ke kota, klau benar benar tidak bisa di wakilkan, tentu saja sama kalian, bukan mas sendiri yang pergi." mantab Refandi, mana mau dia jauh jauh dari istrinya, kapok sudah dia kehilangan istrinya beberapa bulan terakhir gara gara kebodohannya.
Malika hanya mengangguk, dia ingin melihat seberapa besar perjuangan sumainya itu untuk dirinya dan juga anak anak mereka, Malika tidak ingin sakit hati untuk ke sekian kalinya, urusan ke kota untuk pekerjaan suaminya ya Malika manut aja klah di aja, sesekali refresing ngajak anak mereka ke kota.
"Tama, kamu mau pulang nak?" tanya Tante Tania kepada anak bontotnya.
"Tidak, aku akan di sini, bersama Malika, aku lebih tertarik menjadi peternak dari pada kerja kantoran, dan di sini aku juga bisa membantu perekonomian masyarakat di sini, dan aku dan Malika punya rencana membuat tempat les gratis untuk anak anak di desa ini." ujar Tama.
__ADS_1
Mamanya hanya bisa pasrah dengan pilihan ke dua anak dan keponakannya itu, karena kesalahanya yang tidak bisa di toleransi itu membuat mereka tercerai berai.
"Maafin kakak dek." ujar Tomy mendekat kearah Malika, dia tau kesalahannya yang paling besar terhadap Malika.
"Aku sudah memaafkan kalian, sudah lah jangan di ungkit ungkit lagi, Lika sudah males mengingatnya." tutur Malika, mengingat semua yang terjadi, itu hanya akan membuat kembali menorehkan luka di hatinya, lebih baik dia melupakan semua itu dan tak mengingat ingat yang sudah terjadi, demi kenyamanan hatinya.
"Baiklah, kakak pulang ya, baik baik di sini." ujar Tomy mengelus kepala Malika dengan lembut dan menatap Malika dengan tatapan sendu.
"Tenang aja kak, di sini banyak orang yang akan menjaga ku." kekeh Malika, memang nyatanya begitu, semua orang selalu ingin membantu Malika, selama di sini, boleh di katakan, kebutuhan Malika masalah makanan, sayur sayuran, dan buah buahan itu di kasih oleh para warga kampung sini, kadang Nek imah kewalahan menerima itu semua.
Setelah kepergian keluarganya itu, Malika membawa Raya ke dalam kamar, karena ingin mimik, dan di ikuti oleh Refandi dari belakang dengan menggendong Rayyan.
"Sayang, kata Nek imah, rumah yang di samping mau di jual ya?" tanya Malika.
"Entah lah, mas ngak tau." kekeh Refandi.
Malika hanya memutar mata malas, suaminya itu ngasih info ngak lengkap, bikin kaget saja.
"Lika, Nenek masuk boleh?" tanya Nek Imah, semenjak ada Refandi di rumah itu, ruang gerak Nek Imah dan Miranda sedikit terbatas olehnya, tak enak menyelonong ke dalam kamar itu, takut mereka sedang nganu.
"Masuk Nek." ujar Malika, sedikit kencang, takut ngak kedengaran.
__ADS_1
"Ada apa Nek?" tanya Malika.
"Itu rumah Ana mau di jual tau." adu nenek.
"Loh, kenapa memang nek?" tanya Malika heran.
"Biasa bapaknya nikah lagi, trus ngerong rong rumah itu, aneh deh zaman sekarang, pelakor lebih galak dari pada istri tua." kesal Nek Imah.
"Ya allah, kok bisa nikah lagi Nek, kan selama ini mereka baik baik aja." tutur Malika ikut kaget.
"Biasalah, ibu anak kan orang miskin, jadi mertuanya ngak suka sama ibunya Ana, jadi mereka menikahkan ayah anak sama perempuan lain, yang menurut mereka lebih kaya, jadi setelah menikah, perempuan itu pengen menguasai rumah Ana, padahal rumah itu rumah nenek Ana, bukan rumah yang di belikan oleh ayah Ana, ya... walau ayah anak ikut andil untuk renivasi rumah itu." tutur Nek imah.
"Ya Allah, kasihan banget Ana, trus si ini gimana nek?" tanya Malika lagi, dia tau ibu itu sangat baik sama Malika.
"Bu Siti, minta cerai sama suaminya, dia ngak mau mental anaknya terganggu walau harus menjadi janda dia ngak masalah, yang penting anaknya bahagia, Ana juga mendukung ibunya, lagian dia juga tidak dekat sama keluarga ayahnya, Ana yang mengusulkan rumah itu di jual, dia ingin pindah dari desa ini, ingin sekolah dengan nyaman di tempat baru, tanpa ada yang menganggu mereka." ujar si Nek Imah.
Malika melirik suaminya, dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri, kini dia sudah bersama suaminya.
Refandi yang tau arti tatapan mata sang istri, akhirnya mengeluarkan suara.
"Ajak Ana dan Bu siti nya ke sini nek, biar kami tau dari sumbernya lansung." ujar Refandi dengan sopan kepada Nek Imah.
__ADS_1
"Baiklah nenek panggil dulu." ujar Nek Imah, semoga suami istri itu bisa menolong Bu Siti dan Ana, mereka orang baik, cuma hidup kurang beruntung pada mereka.
Bersambung....