
"Aduhhhh.... Perutku..." Desis Malika memegang perutnya, saat dia sedang berada di halaman, memang dari semalam perutnya sudah mules, namun masih hilang hilang timbul.
"Lika... Kamu kenapa dek?" panik Tama saat melihat sang adik sedang memegang perutnya dengan wajah meringis, dia tau waktu lahiran Malika memang sudah masuk.
"Perutku sakit kak." keluh Malika dengan wajah yang mulai pucat dan keringat mulai membasahi wajahnya.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit ya dek." ajak Tama, berlari ke rumah kontrakannya, untuk mengambil mobil, memang sudah di sediakan oleh Tama untuk jaga jaga Malika lahiran, segitu perdulinya seorang kakak kepada adik sepupunya itu.
"Lika...." Panik Miranda dan Nek Imah, mendengar ribut ribut di luar tadi.
"Kamu kenap nak...?" tanya Nek Imah.
"Perutku sakit dari semalam nek." keluh Malika dengan suara pelan.
"Ya ampun, sudah tau sakit kenapa ngak bilang kami sih!" omel Miranda.
"Sudah sudah jangan marah marah aja, sekarang ambil perlengkapan Malika, bawa ke sini, itu Tama sudah datang." titah sang nenek.
Miranda lansung masuk ke dalam rumah, tanpa di perintah dua kali oleh Nek Imah, dia juga panik, dan khawatir dengan sahabatnya itu.
"Ayo..." ajak Tama memapah sang adik, dia menarok Malika di kursi penumpang belakang dan di temani oleh Miranda dan Nek Imah.
"Kita k rumah sakit apa kemana?" tanya Tama yang berusaha tidak panik, melihat sang adik dari tadi terus merintih.
"Ke bidan Ira aja bang." ujar Miranda, karena hanya dokter Ira lah yang terdekat dari rumah mereka, Miranda tidak mau ambil resiko lebih jauh lagi, dia rasa Malika sudah memang saatnya melahirkan.
Cussss....
"Apa itu...?" keluh Malika, saat ada air keluar dari bagian intinya.
__ADS_1
"Ketubannya sudah pecah." pekik Nek Imah.
"Astaga, sedikit lebih kencang bang. Aku takut Malika lahiran di atas mobil." suruh Miranda panik.
"Hmmm... Baik lah" gugup Tama, yang mendengar ucapan para wanita di belakangnya itu.
"Bu, bu, bidan tolong kami." ujar Miranda yang buru buru ke luar dari dalam mobil, dan lansung masuk ke tempat praktek sang bidan.
"Eehhh.... Ada apa Mira...?" tanya Bidan Ira melihat wajah panik Miranda.
"Itu, Malika mau lahiran." tunjuk Miranda ke arah mobil, dan ternyata Tam sudah membopong sang adik.
"Ooo.... Ya ampun, ayo bawa masuk, baringkan di ruangan itu." titah bidan Ira melihat ketuban Malika sudah menetes di lantai.
"Tarik nafas buang pelan pelan, jangan tegang." ujar Bidan Ira, dia melihat jalan lahir Malika, ternyata sudah lengkap, dan beruntungnya sudah ada juga asisten bidan Ira yang ikut membantu.
"Pembukaannya sudah cukup, yuk kita mulai." ujar bidan ira, lalu memberi arahan kepada Malika, agar Malika mengikuti arahannya itu.
Puk....
"Auusss... sakit nek." keluh Miranda.
"Lagian kamu do'anya gitu, lapar kamu, makan sana, orang mau lahiran kok di bacain do'a mau makan." omel sang nenek.
"Hehehe... lupa nek, abis cemas, sekaligus ingat sarapan di rumah yang belum sempat di sentuh tadi, aku mikir apa ngak bakal di makan kucing ya." kekeh Miranda.
"Astaga bocah gemblung, lagi panik panik gini, masih ingat makan." kesal Nek Imah.
"Hehehe..." cengir Miranda.
__ADS_1
Tama ikut terkekeh mendengar celotehan Miranda tersebut, anak itu begitu lucu di mata Tama, apa lagi hatinya sangat tulus menolong sang adik.
Oekkk....
Ooekkk...
Tiba tiba perdebatan mereka, di hentikan oleh suara tangis bayi, yang lumayan kencang dari ruang bersalin tersebut.
"Nek, sudah lahir nek, ponakan aku sudah lahir nek." pekik Miranda kegirangan dia meloncat loncat bahagia, karena keponakannya sudah lahir.
"Iya." sahut Nek Imah dengan suara serak nya, dia begitu bahagia penantian mereka sudah lahir dengan selamat.
Namun mereka kembali di kagetkan dengan suara.
Oekkkk...
Oekkkk....
"Haaaa..... aku ngak salah dengarkan, itu suara bayi lagi?" pekik Miranda.
"Nek juga dengar." ucap Nek Imah dengan suara bergetar.
"keponakanku kembar ya...?" tanya Tama dalam keterkejutannya.
"Sepertinya begutu." sahut Nek Imah.
"Alhamdulillah... Ya Allah...." ujar mereka serempak.
Sementara Refandi semakin kelimpungan mencari sang istri, karena Tama memang sengaja merahasiakan keberadaan sang adik, karena permintaan adiknya, bukan tidak pernah orang orang suruhan Refandi, Tomy, Papi Indra dan mertua sang adik, namun warga kampung itu pun juga ikut andil menutupi keberadaan Malika, mereka juga tidak rela Malika kembali tersakiti, apa lagi hari melahirkan Malika sudah dekat, mereka juga takut Malika akan kabur, karena tidak ingin di temui oleh sang suami dan keluarganya.
__ADS_1
Bersambung....