
"Ya allah nak, baik banget nak Malika, sampai sampai semua dia belikan untuk kamu." ujat Bu siti dengan mata berlinang, setelah membongkar semua barang belanjaan sang anak, seragam sekolah, buku, tas, sepatu, laptop, dan hp yang ada apel di habis di gigit.
"Iya bu, kak Malika baik banget, kita di sini di fasilatasi oleh kak Malika, aku janji akan menjadi orang sukses, separti ibu dan kak Malika harapkan, dan aku akan balas budi sama mereka yang telah mau kita bu, tidak hanya kepada kak Malika, tapi juga suaminya, dan kak Tama, tanpa mereka, kita belum tentu bisa seperti ini bu, dan kita belum tentu bisa menghindari ulat bulu yang kepanasan dan juga serah itu." ujar Ana menggebu gebu.
"Iya, kamu benar nak, ibu juga akan bekerja sebaik mungkin di sini, tadi Malika telpon ibu, dia ngak izinin ibu kerja di luar, soalnya bapak mu dan juga keluarganya sedang mencari kita, mereka ngak terima rumah itu kita jual, dan istri barunya mengamuk di rumah kita, untuk keamanan kita Malika ngak bolehin ibu kerja di luar, jadi ibu akan kerja di rumah ini aja, tadi dia juga bilang mau tambah mbak satu lagi untuk bantu bantu ibu, ibu menolaknya, karena ibu merasa mampu mengurus rumah besar ini, cuma ibu hanya minta ada security aja, serem juga rumah sebesar ini kita berdua yang menghuninya." tutur Bu Siti.
"Haah..... dasar orang orang tidak tau diri, masa hatra orang pengen di rampas, yang kak Malika bilang ada benarnya juga bu, yang udah ibu kerjanya di rumah saja, nanti aku akan bantu ibu untuk beres beres rumah ini, tenang ada anak mu bu." kekeh Ana.
"Makasih nak, maaf ibu belum bisa membahagiakan kamu dan memberikan keluarga yang utuh untuk kamu nak," ujar Bu Siti sendu melihat anak gadisnya yang sudah remaja itu.
__ADS_1
"Ibu ngomong apa sih, aku sudah bahagia walau ngak punya siapa siapa, aku bahagia sampai saat ini ibu masih ada untukku, aku ngak butuh keluarga lengkap dan nyatanya tidak bahagia, tapi hidup berdua dengan ibu saja sudah cukup bagiku, tetaplah berada di sisiku bu, lihat anakmu ini sukses, dan dampingi Ana selalu sampai nanti ibu punya cucu." ujar Ana ikutan melow memeluk sang ibu.
"Pasti sayang, ibu akan selalu ada di sisi kamu, tapi ingat, bahagia selalu, dan tetap lah menggunakan ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk, dan jangan lupa sholat nak." nasihat bu Siti.
"Mm..." ujar Anak yang masih nyaman dalam dekapan sang ibu, jarang jarang dia bisa melakukan hal ini, karena kesibukan bu Siti mencari nafkah untuk kelansungan hidup mereka berdua, pagi kesawah atau ke kebun orang, sore mencari rumput, untuk makanan ternak tetangganya, makanya bu Siti yang umur 30 tahunan lebih dikit itu berwajah tidak terawat, Ana berjanji akan membuat ibunya kembali terlihat muda kembali, dengan perawatan ala ala Ana sendiri.
"Bu, kita mandi bareng yuk, kita ukuran ala ala Ana, tadi Ana beli perawatan murah meriah, biar ibu kembali cantik seperti waktu belum menikah sam bapak, kita tunjukan pesona mantan istri su Kardi itu." kekeh Ana.
"Ncek... Ibu itu masih muda tau, nikah masih bocah sekarang baru umur 30an tapi sudah kaya 40an, tapi tenang Ana akan bikin Ibu seperti anak umur 20an." kekeh Ana penuh semangat, Ana betul betul ingin ibunya, kembali merasakan bahagia, seperti kata neneknya dulu, ibu nya juga sangat suka perawatan ala ala dia, dan luluran, dan setelah menikah mendapat suami tedekuk, dia lupa cara merawat diri, dan sekarang Ana akan mengembalikan masa yang hilang itu."
__ADS_1
"Ayo bu..." Ana menarik sang ibu ke kamar mandi, mereka mandi bersama seperti apa yang dia inginkan, dan Ana juga membantu ibunya melulur punggung sang ibu, bergantian bu Siti juga melakukan yang sama untuk sang anak.
"Waahhh.... lihat lah, baru sekali luluran badan ibu sudah terlihat sedikit cerah, aku akan melakukannya setiap hari, sampai ibu kembali cantik, kapan kapan kita ke salon ya bu, aku akan cari salon yang murah murah saja, dan kita ke pasar buat beli pakaian ibu, baju ibu yang lama sungguh sudah tidak bagus, dan tidak cocok sama ibu, ngak perlu mahal yang penting cocok dan enak di pandang mata." ujar Ana penuh semangat.
"Anak itu ingin memotong rambut ibunya, dan melakukan perawatan tipis tipis untuk dirinya dan sang ibu, dia akan membuktikan kepada bapaknya, ibunya masih cantik dan masih laku, tidak seperti apa yang di bilang bapaknya saat mau bercerai, "kamu bercerai dengan saya, tidak ada laki laki yang mau sama kamu, lihat lah kau sudah hitam legam, tubuh kurus kering, siapa yang mau, mana bau lagi." sungguh hati Ana sakit luar biasa mendengar cacian dari dang bapak, semenjak itu dia bertekad membuat ibunya kembali cantik, kapan perlu kembali menikah dengan laki laki yang jauh segalanya dari ayah dan keluarga ayahnya, biar laki laki yang berstatus bapak itu menjadi menyesal sampai mati telah menceraikan sang ibu, Ana tidak mengapa mempunyai ayah tiri, asal laki laki itu bisa menerima ibunya dan menyanyangi ibunya setulus hati, dan di terima oleh keluarga suami ibunya, begitu inginnya Ana melihat sang Ibu bahagia.
"Ayo bu. kita maskeran, ibu tiduran sini." ajak Ana dan dia lansung memasangkan masker di wajah sang ibu, dan juga memberi timun di mata ibunya, totalitas sekali Ana kepada sang ini, sampai sampai dia tidak menyadari, ada Tama yang terkekeh melihat kelakuan Ana tersebut, di mengambil rekaman Ana dan mengirim kepada Malika.
Tama yang mendengar ucapan Ana tadi, dia lansung pergi ke mall membelikan beberapa baju untuk bu Siti dan untuk gadis tengil itu.
__ADS_1
Bersambung....