Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 98


__ADS_3

"Calon Ayah aku..." jawab Ana.


Duar.....


Si Kardus ngak menyangka manta istrinya dengan cepat melupakan dirinya yang sudah bertahun tahun hidup bersama, malah kini laki laki yang menjadi calon suaminya, terlihat jauh lebih muda, tampan dan mapan dari dirinya, sungguh hati Kardi sakit melihat anak satu satunya, bergelayut manja di tangan laki laki yang dia akui calon Ayahnya itu, sementara selama ini sama dia Ana tidak banyak bicara, menegur sekedarnya, tapi dengan orang baru dia terlihat sangat dekat, dan manja.


"Apaa...." pekik Lilis dan Bu Ratmi syok mengetahui kenyataan yang tidak di sangka sangka, wanita dekil kumal, miskin itu kini mempunyai calon suami yang lebih dari si kardus.


"Glek...."


Bu Siti lansung menelan ludahnya, anak gadisnya itu selalu saja membuat dia sport jantung dengan kelakuan ajaib Ana, namun dia harus mengikuti drama Ana, sudah cukup dia diam selama ini, kini dia tidak ingin di injak injak lagi oleh mereka, biar lah kepala basah, mending nyebur aja sekalian.


"Astaga, Ana." gumam Malika dan Refandi, kaget, namun kemudian juga terkekeh, anak itu kenapa sekarang suka sekali membuat orang ketar ketir, seperti Tama yang selalu di kompor komporin oleh Ana, dan lansung minta nikah mendadak, sekarang keluarga bapaknya yang dan ibunya sendiri yang dia bikin ketar ketir.


"Hahaha... Anak itu." kekeh Tama yang ikut terkaget mendengar ucapan nyeleneh Ana itu, tapi klau pun benar, Tama sangat mendukung Bu Siti dengan Mang Karyo, karena Mang Karyo juga hany sebatang kara, karena ke dua orang tuanya sudah meninggal, dan dia hanya anak tunggal, kini sedang merintis usaha yang mulai berkembang di modalin oleh kakak iparnya Refandi, membuka sebuah supermarket, dan kini akan menambah dua cabang, setidaknya Ana dan Bu Siti tidak akan aman di tangan mang karyo.


"Aduh... kenapa kamu mau sama janda tidak tau diri itu nak, mending sama anak ibu deh, apa yang bisa kamu harapkan sama janda itu, anaknya juga mulutnya ngak bisa jaga bicara lagi." ucap Bu Ratmi tidak tau diri.


Mang Karyo hanya tersenyum sinis melihat Bu Ratmi.


"Apa ibu mau mengobral anak ibu, segitu ngak lakunya anak ibu, bahkan calon Ayah cucu ibu, ibu tega mau rampas, ehhh... tapi emang iya sih ibu manusia super tega, ngak punya hati, bahkan anak orang berani ibu jandakan, dan ibu pisahah seorang anak dari ayahnya, demi mendapat uang dari menantu ibu, ncek... ncek... ncek... tak tau diri sekali, ingat bu, uang ngak akan di bawa mati, dan kau mbak, hati hati sebentar lagi di jadikan janda lagi, seperti calon istri saya, tapi calon istri saya mah enak mbak, habis sengsara lansung nikmat, lah kamu, habis nikmat malah sengsara mbak, gara gara hasil suami sengketa." cibir Mang Karyo.

__ADS_1


"Buahahaha...."


Semua orang jadi tertawa ngakak mendengar celotehan Karyo itu, tentu saja membuat Bu Ratmi, Lilis dan Kardi jadi malu semalu malunya.


"Tutup mulut kau brengsek." bentak Kardi tersulut emosi mendengar ocehan karyo itu, belum lagi di buat panas oleh sang anak yang masih betah bergelayut di tangan Karyo.


"Auuu... Ayah... Takuttt," rengek manja Ana yang di buat buat, melihat bapaknya berteriak.


Cup...


Cup....


Cup...


"Kamu juga takut sayang, jangan takut ya, ada Mas di sini." ujar Karyo dengan lembut kepada bi Siti.


Blusss... wajah Bu Siti lansung merona merah mendengar ucapan sayang dari karyo yang sudah seperti abg alay, dia jadi geli sendiri, lagian dia janda malah, di panggil sayang, jadi gimanaaa gitu hatinya.


"Ana.... kemari kamu! kenapa malah manja manja sama orang asing, yang bapak kamu itu saya, bukan dia!" bentak Kardus dengan kesalnya, melihat anak dan manta istrinya, yang kini semakin cantik membahana itu di perlakuan baik sama orang membuat dia terbakar sendiri.


Ana hanya tersenyum mengejek melihat ke arah Kardi sang bapak kandung, hanya sebatas nama di dalam akte lahir dan di kk, soal kasih sayang, Ana tidak pernah mendapatkannya, malah Ana lupa kapan terakhir kali bapaknya itu menggendong dirinya, atau bertanya kamu sudah makan nak, atau bertanya, tadi di sekolah belajar apa? ada yang nakal tidak sama kamu, tenang sayang ada bapak di sini, bilang sama bapak klau ada yang nakal, biar bapak sentil ginjalnya, Ana tidak pernah merasakan itu.

__ADS_1


"Ahhh... Anda bapak saya? kok saya lupa ya, emang kapan anda pernah membiayai hidup saya, trus saat saya sakit anda ada dimana, saat saya menangis di bully orang anda kemana, saat saya sakit perut menahan lapar anda ada dimana? kenapa sekarang bilang adan itu Bapak saya! selama ini anda di mana tuan...!!" pekik Ana melepaskan sesak di dadanya.


Jleb....


Me dengar teriakan Ana yang bercerita sambil terisak itu, membuat siapa saja lansung meneteskan air mata, apa lagi para tetangga Ana sangat tau bagaimana ke seharian Ana.


"Dimana anda, saat aku dan ibu kelaparan, dimana anda saat pelakor itu merusuh di rumah ku, dimana anda tuan! dimana...! kenapa sekarang anda baru mengakui saya anak anda, apa anda merasa sakit melihat saya mendapatkan kasih sayang dari orang lain! apa anda sakit melihat mantan istri anda mempunyai calon suami yang lebih segala galanya dari anda, apa anda menyesal, karena dulu menghina ibu saya tidak akan laku, klau bercerai dengan anda, badannya kurus kering dan hitam legam, untuk memenuhi makan saya sehari hari, karena dia punya suami yang tidak bertanggung jawab, yang hanya belindung di bawah ketek ibunya, lihat sekarang apa yang anda bilang itu tidak terjadi, ibu saya mendapatkan calon suami yang lebih tampan dari anda, banyak harta dari anda, dan mampu membahagiakan saya dengan ibu saya, walaupun saya ini bukan anak kandungnya, namun dia lah yang mengantar jemput saya ke sekolah, dia yang bertanya hari ini belajar apa Ana, apa harimu menyenangkan, ayo Ana semangat, Ana sakit mau ke dokter ya, dia.. dia... yang selalu bertanya itu kepada saya, bukan anda tuan, laki laki ini yang selalu ada untuk saya, bukan anda, paham sampai di sini!!" pekik Ana tersengal sengal dengan air mata meleleh di pipinya.


Karyo tidak tahan melihat Ana yang memekik seperti itu, hatinya sungguh teriris mendengar curahan hati Ana, Mang Karyo lansung menarik Ana kedalam dekapannya, mengelus punggung Ana, agar anak itu tenang.


Semua yang ada di situ ikut meneteskan air mata, mendengar raungan Ana.


"Hiks... hiks... Dia jahat Yah." pecah sudah tangis Ana di dalam dekapan Karyo, dia nyaman di dalam pelukan Karyo itu, baru kali ini Ana merasakan dekapan seorang laki laki dewasa yang dia klaim Ayah sambungnya.


"Iya Ana tenang ya, sudah nanti sesak nafasnya, minum ya," ujar Karyo penuh perhatian dan menatap Ana dengan lembut, benar benar dia masuk menjadi sosok Ayah yang di inginkan Ana itu.


"Sudah, pulang lah kalian, belum cukup melihat Ana dan Siti menderita, dan apa kalian tidak malu membuat keributan di pesta cucu saya." marah Nek Imah.


Semu menatap Iba kepada Ana yang masih sesegukan di dalam dekapan Karyo itu, tidak ada yang berani mendekat, karena tidak mengizinkannya, dia membiarkan Ana mengeluarkan semua sesak di dadanya, agar Ana tidak memendam kebencian lagi kepada banyak orang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2