
"Hallo Nona Ana, gimana hari pertama sekolahnya?" tanya Mang Karyo saat menjemput Ana pulang sekolah.
"Alhamdulillah...menyenangkan Mang, cuma masih kaget sama cara belajarnya, yang semua pelajaran pakai laptop, ngak banyak pakai buku, jadi penyesuian, untuk sudah di ajarin Kak Malika jadi aku ngak gaptek gaptek amat." kekeh Ana.
"Semangat... terus berjuang, ini baru permulaan Nona." ujar Mang Karyo menyemangati Ana.
"Mang, jangan panggil Nona dong, serasa gimanaaa... gitu, aku jadi geli sendiri." kekeh Ana.
"Trus saya harus panggil apa, mbok?" goda Mang Karyo.
"Ihhsss... enak saja, panggil Ana saja, biar akrab." cibir Ana.
"Baiklah Ana cantik dan baik hati." kekeh Mang Karyo, tersenyum simpul melihat Ana dari spion mobil.
"Makasih ya mang, udah jemput Ana, mau mampir dulu ngak?" tawar Ana saat mereka sampai di rumah.
"Sama sama Ana, makasih tawarannya, mamang masih ada keperluan, kapan kapan mamang mampir, masuk gih, jangan lama lama di luar."
"Ya udah, klau gitu Ana masuk dulu ya, mamang juga hati hati di jalan." Ana melabaikan tangan ke arah mang karyo yang sudah melajukan mobil.
"Ana Ana... Kamu anak baik dan sopan, tapi kok bisa bisanya bapak mu itu perhatian sama kamu." gumam Mang Karyo.
"Assalamualaikum.... Ibu anak cantik ibu sudah pulang...!" teriak Ana, saat membuka pintu rumah, dia juga mempunyai kunci rumah dan juga kunci pagar rumah Malika, karena tidak mau merepotkan ibunya untuk membuka pintu.
"Wa'alaikum salam..., kamu ini punya hoby baru sekarang yang Nak, masuk rumah malah teriak teriak." ujar Bu Siti sambil geleng gelang kepala.
"Hehehe.... Abis rumahnya gede banget, klau pelan takut ibu ngak dengar." kekeh Ana, dan mencium tangan sang ibu.
__ADS_1
"Ahhh... Ana kangen ibu, sekolah sampai sore, jadi waktu sama ibu sedikit." keluh Ana sambil memeluk ibunya.
"Lebay kamu, setiap hari juga ketemu ibu kok di rumah," kekeh Bu Siti melihat tingkah manja sang anak, semenjak tinggal di kota ini, Ana memang jadi anak yang manja, ngak seperti di kampung dulu, mungkin klau dulu terlalu sibuk dengan sekolah, kerja dan les di rumah Nek Imah bersama Malika, dan selalu mendapat tekanan dari ibu tiri, nenek dan bapaknya.
"Hehehe... Emang ngak boleh kangen sama ibu sendiri, apa harus kangen sama ibu tetangga." kekeh Ana.
Puk...
"Ada saja jawabannya, sana mandi, abis itu makan, ibu bikin makanan ke sukaan kamu," titah Bu Siti.
"Emang ibu tau makanan ke sukaan aku." goda Ana.
"Tau lah, tumis pare, daun pepaya, sama jus mengkudu." kekeh bu Siti menggoda sang anak.
"Iewww.... wekkk... pahit itu." ujar Ana bergidik ngeri.
"Ya udah deh, aku mandi dulu ya Bu,? ujar Ana, dan dia lansung masuk ke kamar yang dia tempati bersama sang ibu, bukan Malika tidak memberi Anak itu kamar sendiri, anak itu menolaknya, dia mau tidur berdua dengan sang sang ibu.
"Huufff.... capeknya, tapi senang, ngak ada yang mengusik hidup ku, walau di sini terkurung, belum tau kemana mana, tapi di rumah saja sudah enak, ada taman bunga yang menyegarkan mata, ada kolam ikan yang cantik cantik, ada kolam renang tanpa di pungut biaya, mandi sendiri lagi, kan ngak jadi panuan nih badan." Anak terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Mandi ahhh... ntar kanjeng ratu ngamuk lagi." gumam Ana, lansung membuka seluruh pakaiannya, dan dia masuk ke dalam kamar mandi, melakukan ritual entah apa di dalam kamar mandi, sampai sampai Bu Siti menggerutu menunggu sang anak.
"Astaga Ana, kamu ngapain saja sih dalam kamar mandi," omel sang ibu.
"Hehehe... hampir ke tiduran bu, saking asik luluran dan berendam di kamar mandi." cengir Ana, lansung duduk di meja makan.
"Wuaaahhh... Ibu masak enaknya, aku suka aku suka," girang Ana mengambil nasi dan lauk pauk menarok di dalam piringnya.
__ADS_1
"Ya ampun, ngak ada yang mau mengambil makanan kamu sayang, kenapa ngisi piringnya sampai penuh gitu." Bu Siti sampai geleng geleng melihat tingkah anaknya itu.
"Hehehe... kalap bu." cengir Ana, dia lansung melahap makanan dalam piringnya tanpa perduli dengan ibunya yang menatap Ana dengan tersenyum manis,"
"Dulu kita makan kaya gini bisanya setahun sekali, itu juga nunggu daging kurban ya nak, sekarang tanpa mikir mikir bisa bikin ini tiap minggu." kekeh Bu Siti.
"Iya bu, hidup kita sekarang kaya membalikan telapak tangan, dulu susahnya minta ampun, bahkan aku rela ngak jajan kesekolah, kadang kita puasa ya bu, bukan ingin puasa sunah, tapi karena ngak ada yang mau di makan, punya bapak dan keluarganya yang kaya, tapi kita kelaparan mereka ngak perduli ya bu, tapi melalui Kak Malika dan keluarganya kita di beri hidup enak sama Allah." ujar Ana dengan mata yang berkaca kaca.
"Makanya kita jangan berhenti bersyukur, dan jangan lupa selalu mengingat kewajiban kita sama Allah, ngak itu saja, kita harus balas budi sama keluarga Malika." ujar Bu Siti.
"Pasti itu bu, kewajiban kita seorang muslim, dan aku akan selalu ada untuk ke kerluarga ini, baik susah maupun senang, dan aku akan belajar yang giat, agar bisa jadi orang sukses." semangat Ana.
Bu Siti tersenyum bangga melihat semangat sang anak.
"Ya sudah lanjut makan, nanti cerita dong sama sekolah barunya." ujar Bu Siti.
"Siap boss." Ana kembali melanjutkan makanya.
Di tempat berbeda, Malika dan Refandi sedang bercanda sama ke dua buah hatinya, sungguh gemes dia melihat sang anak.
"Mas jangan di dusel disel mulu, nanti nangis loh." omel malika,
"Abis gemes yang, udah gitu wangi lagi." ujar Rafandi.
"Mas, ngak kerja, nanti Sandi ngomel lagi." tanya Malika, walau sang suami tidak berada di kantornya, tapi dia tetap bekerja dari rumah, sementara perusahaan keluarganya terpaksa papinya kembali kenperusahaan, karena sang kakak sudah di turunin jabatannya, karena perusahaan hampir saja di buat gulung tikar, sama kakaknya yang tidak bisa tegas sama sang istri, yang hoby foya foya.
"Sudah mas selesaikan tadi sayang." Dia menjawab pertanyaan Malika tanpa menatap sang istri bicara padanya, karena sedang mengusili sang anak."
__ADS_1
Bersambung....