
"Tama, Miranda, maafin bibi acara kamu jadi berantakan, gara gara kami." ujar Bu Siti tidak enak hati.
"Ncek, kami tidak masalah bi, justru kami semua jadi ada hiburan, walau ujung ujungnya malah ikutan sedih melihat Ana yang begitu terpukul." ujar Tama dan di anggukin oleh sang istri.
"Ana kemana Bi?" tanya Miranda.
"Di dalam, kayaknya tidur, pusa ngamuk ngamuk, malah ketiduran di dalam pangkuan mang Karyo." kekeh Bu Siti.
"Biarin Bi, kasihan dia selama ini memendam sakit hati, jadi sekarang bisa di luapkan, ngak pa apa, biar hatinya plong." sambung Malika.
"Oh... Ya bi, nanti kita bareng pulang ke kota ya, soalnya Mas Refandi ada kerjaan di kota, jadi kami ikut." ujar Malika, karena dia tidak ingin menghambat karir sang suami, mungkin rasa sakit itu masih ada, tapi dia juga tidak ingin mengikuti egonya, apa lagi suaminya tidak hanya dia dan anak anak yang akan di biayai, ada banyak karyawan yang jadi tanggung jawab sang suami.
"Serius Malika mau ke kota, tinggal bareng kami?" tanya Bu Siti berbinar, jadi dia tidak kesepian tinggal di rumah besar itu.
"Iya Bi." ujar Malika.
"Sayang, mau bulan madu kemana? jujur abang belum menyiapkannya, abang takut kamu ngak suka klau abang yang menentukan tempatnya." ujar Tama di belakang tubuh Miranda yang sedang membuka pernak pernik di kepala miranda.
"Kalau ke labuan Bajo boleh ngak." ujar Miranda.
"Boleh banget." sahut Tama lansung mengambil hp dan memesan tiket pesawat dan kamar hotel sekalian.
"Besok pagi kita lansung berangkat." ujar Tama memeluk sang istri, dan mengecup leher jenjang istrinya yang dari tadi menggodanya, namun dia tahan.
"Haaa.... Serius...!" pekik Miranda tidak percaya, dia hanya iseng aja tadi, di rumah pun tidak masalah bagi Miranda, tidak perlu kemana mana.
"Serius lah, masa abang bohong sih, nih lihat." Tama menyodorkan hpnya ke arah sang istri.
"Aahhhkkk... Makasih suami ku."
Cup...
Miranda tidak segan segan mengecup bibir sang suami, tentu saja Tama tidak menyia nyiakan itu, dia lansung me lu mat, bibir miranda dengan lembut, dan sedikit menuntut, lama ke lamaan ci um an itu jadi menuntut.
"Sukur sampai di sini dulu, nanti sampai di labuan Bajo abang tidak akan melepaskan kamu, sekarang kamu istirahat dulu, kamu pasti capek." ujar Tama melepaskan sang istri yanh sudah tidak memakai apa apa, dan mendapat pelepasan pertama dengan cara Tama sendiri.
__ADS_1
Membuat Miranda mengangguk menuruti ucapan sang suami, dia sedikit malu dengan apa yang terjadi, maklum ini adalah pengelaman pertama untuknya dan begitu juga dengan Tama, walau sama sama pengalaman pertama, tapi Tama cukup lihat membuat sang istri melambung, karena sebelumnya Tama sudah melihat titorialnya di si mbah.
"Mandi gih, apa mandi bareng?" tawar Tama, yang tangannya masih asik bermain main sama benda kembar milik sang istri, yang sudah membuat dia kecanduan.
"Mandi sendiri aja, tapi ini tangan awas, gimana mau mandi." cibik Miranda, yang tangan suami tidak melepaskan benda kembarnya.
"Hehehe... lupa Yang, empuk bikin nagih." kekeh Tama, melepaskan tangannya.
Miranda bersemu merah mendengar ucapan sang suami, dia berdiri dan menggulung tubuhnya dengan selimut, untuk masuk ke kamar mandi, namun sayang, selimutnya di tarik oleh sang suami.
"Akkkggg... abang apa yang kau lakukan." kaget Miranda sambil tangannya dengan reflek menutup area pribadinnya.
"Sudah abang lihat semua sayang, bahkan sudah abang cobain semua, kecuali menerobos goa kamu pakai rudal abang, jadi buat apa lagi di tutupi, abang suami kamu, jadi ngak usah malu." ujar Tama dengan senyum tengilnya.
Miranda hanya bisa menahan malu, dan buru buru masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi dengan tidak sengaja.
Tama hanya terkekeh melihat tingkah sang istri.
"Ihh... gemes deh." gumam Tama melihat ke arah kamar mandi, dan terkekeh sendiri.
Dengan santai Tama keluar kamar dengan bertelanjang dada, karena rumah itu memang hanya mereka berdua yang menghuni, yang lain masih di rumah Nek Imah, rumah Ana yang sudah di beli oleh Refandi dan juga berada di kontrakan Tama lama.
Gluk....
Gluk...
Gluk...
Tama meminum air dingin, karena saking hausnya, satu botol sedang lansung habis.
"Aahhhh.... Seger...." gumam Tama, dan mengambil buah anggur, lalu dia makan, setelah itu lansung kembali ke kamar, dan membawa air minum untuk sang istri.
"Waahhh.... istri abang sudah segar." ujar Tama saat masuk ke dalam kamar, istrinya sedang mengeringkan rambut di meja rias.
"Abang mandi sana." ujar Miranda.
__ADS_1
Cup....
"Baiklah, abang mandi dulu, ini minum, pasti kamu haus." memberikan satu botol air kepada sang istri, sekalian mencuri satu kecupan di pipi sang istri, tidak lupa tangan nakalnya masuk ke dalam daster rumahan sang istri, dan meremas squisy di balik baju itu.
"Aahh... abang." sewot Miranda.
"Hehehe... candu Yang." kekeh Tama melepaskan tangannya dan pergi ke kamar mandi, takut di amuk sama sang istri.
"Sayang, ngak usah bawa banyak barang, kemaren saat tau kalian mau pulang mama sudah mengisi kamar si kembar dan juga kamar kamu, pas bi Siti sudah berangkat, mama nyuruh orang kepercayaan mama untuk ngisi kebutuhan si kembar dan kamu, bawa untuk jaga jaga di jalan saja, barang barang yang ada di sini biarin aja untuk di sini, lagian Nek Imah juga ngak mau kalian pindah, maunya kalian tetap di sini sama dia." ujar Sang mama mertua, dia tau nek Imah sudah menganggap Malika adalah cucu kandungnya.
"Baiklah Ma... aku mau ke Nek Imah dulu, mau bujuk dia ikut sam kami, kasian kan cuma sendiri di rumah, Miranda katanya mau bulan madu, ngak tau kapan pulangnya," ujar Malika.
Dan di anggukin oleh ibu mertuanya, yang sedang asik beain dengan ke dua cucu kesayangannya itu.
"Maafin Nenek sama kakek ya sayang, saat kalian ada di perut bunda kalian, Nenek ngak ada untuk kalian, sekarang nenek janji akan selalu ada untuk kalian."
Cup...
Cup...
Cup...
Mami Retno mengecupi pipi gembul ke dua cucunya sampai ke gelian, membuat si twins ke gelian dan terkekeh ulah sang nenek.
"Mami curang, ngak ajak ajak papi untuk main sama cucu kita." rajuk sang kakek
"Dek, lihat lah kekek kalian merajuk, masak sudah punya cucu masih kaya anak kecil." adu Mami Retno.
membuat si kembar tertawa, walau tidak tau apa yang di ucapkan sang nenek.
"Kalian nakal ya, sudah bisa ngeledek kakek." ujar Pak Aksa sambil mencium cucu cucunya dengan gemes, dan bertubi tubi, membuat si kembar menjerit kesenangan.
Refandi tersenyum bahagia, melihat Mami dan Papinya bisa melihat cucu cucu mereka, andai tidak kecerobohannya waktu itu, mungkin mereka bisa menjaga Malika dari awal, dan juga bisa menemani Malika lahiran, ya sudah lah, bubur ngak akan bisa balik jadi nasi lagi, yang penting dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya.
Bersambung...
__ADS_1