
"Mau di kasih nama siapa ini ponakan Ate yang gemoy gemoy ini hmmm...?" tanya Miranda dengan suara yang di buat seperti suara anak kecil.
"Abang di kasih nama Rayyan Putra Guitama dan adek, Raya Putri Guitama." ujar Malika sambil tersenyum mandang ke dua anaknya, yang sedang tertidur pulas setelah menyusu.
"Nama yang bagus, dan abang bangga sama kamu, walau kamu marah sama Ayahnya, tapi kamu tetap memberi nama marga suami mu." ujar Tama sambil membelai kepala sang adik.
"Walau semarah apa pun aku sama Ayah mereka, namun tetap saja mereka turunan Guitama." sahut Malika.
"Kamu benar sayang." ujar Nek Imah tersenyum bangga kepada Malika, dia tidak menyangka Malika tetap memberi nama marga sang suami, di sini dia tau hati Malika memang sangat baik, namun kesakitan yang terlalu dalam membuat dia susah berdamai.
"Kapan kami boleh pulang ya Nek?" tanya Malika, dia sudah tidak betah tinggal di klinik sana, bukan kenapa, masyarakat kampung sana, selalu datang berbondong bondong ke klinik tersebut, untuk melihat Malika maupun anak kembarannya, dia tidak enak hati kepada Bidan yang telah menolongnya, karena begitu banyak tamu, sampai mengganggu kenyamanan para pasien yang datang ke klinik tersebut.
"Sebentar lagi juga sudah boleh pulang kok, nunggu bu bidan datang dulu, semua sudah kakak urus." ujar Tama.
"Makasih ya kak." ucap Malika tulus.
"Jangan berterimakasih dek, ini sudah kewajiban kakak untuk melakukannya, kau adikku, mana mungkin kakak akan mengabaikan kamu." ujar Tama mengelus kepala sang adik dengan sayang.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu berlalu, kini Malika sudah berada di rumah Nek Imah lagi, di sana juga sudah ada para tetangga yang datang membantu membersihkan rumah Nek Imah, dan jangan lupa salah satu kamar rumah Nek Imah sudah di rombak habis oleh para tetangga sana, menjadi kamar bayi, dan ibunya, mereka berlomba lomba membelikan anak anak Malika berbagai macam pernak pernik perlengkapan bayi, mulai dari pakaian, sabun bahkan ranjang bayi kembar pun sudah ada di sana, berhubung rumah Nek Imah rumah kampung, kamarnya juga terbilang luas, cukup untuk menampung semua kado yang sudah di sediakan oleh para tetangga itu.
"Masya allah.... kamarnya kok jadi gini." ujar Malika berkaca kaca, dia tidak menyangka warga kampung itu, begitu antusias dengan kelahiran putra putrinya.
"Hanya ini yang bisa kami betikan untuk kamu nak," ujar Bu Rt.
"Masya allah bu... ini sangat berlebihan" ujar Malika tidak enak hati.
"Apanya yang berlebihan, dengan kedatangan kamunke desa ini, kamu sangat banyak merubah anak anak kami, dan juga banyak hal yang kamu ajarkan kepada kami nak, apa yang kami lakukan saat ini, tidak lah sebanding dengan apa yang kamu lakukan, di saat kamu hamil besar, kamu masih meluangkan waktu mu untuk mendidik anak anak kami." ujar ibu ibu di sana.
"Makasih banyak ya ibu ibu, aku sangat bersyukur bertemu dengan kalian semua." ujar Malika dengan wajah terharunya.
"Sudah sudah, biarkan Malika istirahat, kasian dia, pasti masih capek." ujar Bu Rt.
"Aahhh... Iya, kamu istirahat gih, mumpung si kembar lagi bobo, kamu juga harus banyak banyak istirahat, agar cepat pulih tenaganya." ujar bu Rt lagi.
"Makan dulu nak, baru istirahat, ini tadi ibu bikinin kamu sayur katuk campur jagung, biar ASInya banyak." ujar Bu Mimin.
__ADS_1
"Iya bu, makasih." ujar Malika mengambil nampan, yang berisi nasi dan air minum.
Tama di luar sana lagi dan lagi memosting foto di media sosialnya.
[ Tak ada keluargapun, klau orang baik mah, pasti banyak yang sayang, terbukti dari sini, Tama memposting kamar bayi, saat pergi ke klinik, kamar ini belum ada apa apanya, masih kosong melompong, saat debay pulang, kamar sudah di buat cantik, oleh orang orang yang sangat menyayangi dirinya, ya, mereka bukan lah kacang lupa dengan kulitnya, selalu mengingat kebaikan bunda debay, karena perlakuan baik warga di sini, bunda dan debay malah betah tinggal di sini, dan tidak rindu untuk pulang ke tempat asalnya, yang seharusnya dia mana dia merasa nyaman dan terlindungi, malah tempat membuat dia terluka, lihat lah di sini, semua orang menyayangi mereka, tanpa perduli siapa dia dan dari mana asalnya, lihat lah, begitu cintanya masyarakat di sini, rumah sederhana ini, tak pernah sepi untuk melihat bunda dan debay ] Ocehan pedas Tama mampu membuat orang orang yang di kota sana semakin merasa bersalah, bahkan Refandi sang suami sekaligus ayah kandung si kembar semakin terpukul membaca postingan tersebut, dan melihat setiap foto yang meperlihatkan antusias warga di sana dengan kehadiran si kembar.
"Tuhan.... Tolong hamba mu ini, tolong kembalikan istri hamba mu ini, hamba tau, hamba sangat berdosa, dan banyak membuat sakit di hati istri hamba Tuhan, kembalikan dia dan anak anak hamba Tuhan, hamba berjanji setelah hamba menemukan mereka, hamba tidak akan lagi membuat kesalahan kepada istri hamba Tuhan. Tolong bukakan pintu maaf di hati istri hamba Tuhan, ingatkan dia, ada hamba suaminya di sini, sangat menderita menunggu kepulangannya Tuhan. Hiks... hiks... hiks..." Refandi meraung di atas sajadah, memohon kepada Tuhan agar sang istri bisa dia temukan, sungguh, semua orang yang berada di luar sana ikut terisak mendengar tatapan pilu Refandi itu.
"Andai saat itu aku tidak pingsan, pasti Malika masih ada di sini." ujar Lisa dengan menundukan kepalanya, dan air mata melaju dengan lancarnya membasahi pipinya.
"Jangan salahkan dirimu nak, ini juga gara gara Mama, yang melupakan keberadaannya, mama yang membuat dia sakit hati, mama sudah kasar sama dia, tanpa mama sadari." ujar Tante Tania, ikut terisak.
"Aku yang salah, aku kakaknya yang salah, aku mendorongnya, aku panik saat itu, aku ngak tau apa yang aku lakukan, hiks... andai aku tidak berbuat kasar saat itu, pasti Malika tidak akan pergi, andai saat itu aku mendengarkan ucapan Malika pasti dia masih ada di sini hiks... hiks." ujar Tomy ikut menyesali perbuatannya.
"Sudah sudah, jangan menyalahkan diri sendiri, semua sudah terjadi, sekarang bagaimana caranya kita membujuk Tama, agar kita bisa menemukan mereka, anak itu klau sudah marah, sangat mengerikan." keluh Papa Tomy itu memijit dahinya yang berasa pusing.
Dia tidak menyangka anak yang biasanya selengek an itu, klau sudah marah bagai macan habis beranak, tidak perduli siapa yang dia lawan, klau anaknya di ganggu, pasti taringnya akan keluar, dan Tama sekarang benar benar memperlihatkan siapa dia, ternyata anak bontotnya itu dengan sadis memukul mental mereka semua, saat adik kesayangannya di lukai, bahkan dia tidak memberi kesempatan kepada siapa pun untuk meminta maaf kepada Malika, dengan segenap kekuatannya dia melindungi Malika, sebegitu banyaknya orang orang suruhan yang di kirim oleh mereka, namun semua tidak ada hasil, entah kekuatan apa yang Tama gunakan sampai sampai tidak ada yang bisa menembus benteng pertahanannya, membuat papanya sakit kepala memikirkan Tama, ternyata anaknya ini tidak bisa di remehkan.
__ADS_1
Bersambung....