
"Mas, makan di sana enak kali ya Mas," tunjuk Malika sambil menelan ludahnya.
Refandi terkekeh melihat tingkat istri cantiknya itu, memang semenjak hamil na*su makan istrinya itu sangat meningkat.
"Baiklah kita makan di sana." putus Refandi membelokan mobilnya ke sebuah warung tenda.
"Mas, mau nasi uduk dua, pecel lele dua, ayam goreng dua, pake tahu, tempe, minumnya jus lemon dua, mineral dua." pinta Malika.
"Baik mbak, silahkan tunggu ya." ujar pelayan dengan sopan.
"Yang, kamu masih ingat ngak,"
"Ngak."
"Iss... kamu mah, mas belum selesai ngomongnya." dengus refandi.
"Hehehe.... lanjut lanjut," kekeh Malika melihat wajah kesal sang suami.
"Itu teman mas, yang namanya Lea, waktu itu kita pernah ketemu di saat menghadiri acara apa mas lupa."
"Ooo... cewek yang sok cantik, pake baju ke mau ke bar itu ya?" ujar Malima sambil mengaduk aduk minumannya.
"Ternyata tadi klaien mas itu dia, klau tau mas tau, mas ngak mau lah, si Sandi ngak teliti banget melihat nama klaeinnya." sungut Refandi, memang Refandi ngan mau menyembunyikan apa pun kepada sang istri, takut berimbas akan di tinggal lagi sama istrinya, bisa makin sengsara hidupnya di pisahkan dengan istri dan anak anaknya itu.
"Lalu mas terima kerjasamanya?" tanya Malika kepo.
"Ya ngak lah, masa biayanya dan ke untungannya ngak masuk akal, dan andai kerjasama itu berjalan, masa Mas sendiri yang ngehandel proyek itu sampai kelar bersama Lea itu, yang ngak ngakak aja, mending mas tolak tegas lah." cuek Refandi.
__ADS_1
"Bagus klau gitu, klau masasih berani main main." ucapan Malika terputus.
"Jangan macam macam sayang, ngak akan mas biarkan kamu pergi lagi membawa anak anak kita, cukup mas menderita sekali, itu ngak akan mas ulang lagi." sewot Refandi, dia tau kemana arah ucapan sang istri.
Malika terkikik geli dengan melihat wajah takut sang suami, mana mungkin dia akan kembali memisahkan anak anak mereka dengan bapaknya, apa lagi si twins sudah mengenal Ayahnya kandungnya, dan sekarang mau hadir lagi twins baru, mana kuat Malika mengurus seorang diri, tanpa peran sang suaminya.
*****
Sementara di tempat lain, Bu Siti lagi mencoba baju pengantin di sebuah butiq di temanin oleh Ana dan juga calon suaminya.
"Wahhh.... Ibu cantik sekali." puji Ana berbinar melihat ibunya yang memakai gaun pengantin.
Membuat bu Siti tersipu malu, karena calon suaminya pun menatap Bu Siti tanpa kedip.
"Yah, Ibu cantik kan." tanya Ana dengan semangat.
Membuat pipi Bu Siti makin merona.
"Ya sudah Ana juga coba gaunnya gih," ujar Mang karyo menyuruh calon anak sambungnya berganti pakaian.
"Baik lah." ujar Ana bersemangat ikut mencoba gaunnya.
"Yah... kita makan makan dulu yuk, Ana lapar, ternyata nyobain baju butuh tenaga juga, dan tenaga Ana sudah terkuras habis, ingin di isi amunisi lagi."
"Baik lah mau makan dimana." ujar Mang Karyo.
"Ayam kriuk aja boleh." tanya Ana.
__ADS_1
"Siap boss." ujar juragan supermarket itu.
Turun dari mobil, Karyo sudah tidak segan segan lagi untuk menggandeng mesra Siti, Ana sih B aja, karena dia dari dulu memang ingin sang Ibu bahagia.
"Yang, besok kita ngak bisa ketemu ya," bisik Karyo.
"Sabar mas, cuma dua hari doang." kekeh Siti, calon suaminya itu ternyata sudah pandai merajuk juga sekarang.
"Tapi kan mas kangen." rengek Karyo.
"Sabar Yah, sabar, dua hari lagi kok, habis itu Ayah bisa ajak Ibu bulan madu kek orang orang." kekeh Ana, geli melihat calon bapak sambungnya itu merajuk.
"Aahhh... Iya, bapak lupa belum cari tempat bulan madu." ujar Karyo menepuk jidatnya.
"Klau ibu pergi, kamu gimana Ana?" ujar Bi Siti yang memang ngak pernah jauh dari sang anak.
"Tenang aja, Ana mah sama kak Malika aja, nanti kapan kapan baru kita jalan bertiga, masa bulan madu ajak Ana, trus Ana mau jadi nyamuk gitu." kekeh Ana.
"Anak Ayah pengertian banget." ujar Mang Karyo mengusap sayang puncak kepala calon Anak sambungnya itu.
"Ana ingin Ibu bahagia Yah, sudah cukup ibu menderita selama ini, Ana percaya Ayah bisa bahagiain ibu, jadi hidup lah kalian dengan bahagia, semoga Ana cepat punya adik bayi." ucap Ana dengan tulus.
"Makasih nak, sudah percaya sama Ayah, Ayah janji akan bahagiain ibu kamu, bukan hanya ibu, tapi kamu juga nak, kamu juga anak Ayah, walau nanti kamu punya adik, kamu tetap anak pertama Ayah." ujar Karyo sendu.
"Makasih Bapak... Tinggal bapak yang masih terkurung dari ke egoisan nenek, semoga secepatnya kebusukan wanita itu terbongkar, dan Bapak bisa bahagia seperti kalian." keluh Ana, dia juga memikirkan hidup bapak kandungnya yang masih di kekeng oleh orang tuanya.
Ana sendiri tidak habis pikir, dengan neneknya itu, bisa bisanya demi gengsinya menekan sang anak, bahkan dia tidak perduli akan hidup anaknya, asal dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Bersambung....