Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 76


__ADS_3

Tama yang memang sedih melihat ke adaan keluarganya, dan juga masih ada kekesalan juga di hatinya, masih sempat sempatnya mengerjai Refandi, dengan mengirim pesan, membuat jantung Refandi berpacu lebih cepat dari biasanya.


"Datang lah ke Desa sekar wangi secepatnya, klau tidak, aku akan ikhlaskan si kembar punya bapak baru, besok lusa, pak lurah akan melamar Malika, untuk anaknya yang baru pulang dari luar negeri, setelah mereka menikah, calon suaminya akan memboyong Malika dan si kembar ke luar negeri." setelah mengirim pesan tersebut Tama terkekeh sendiri, dia membayangkan bagaimana kalang kabutnya abang iparnya itu.


Refandi kaget luar biasa menerima pesan dari Tama itu, dia tidak akan biarkan Malika, istrinya itu menjadi milik orang lain, bagaimana bisa Tama memberi izin kepada orang lain untuk menikahi istrinya, sementara Malika masih berstatus istri sahnya, dan dia tidak akan pernah rela anaknya mempunyai papa baru, no, big no....


"Ada apa Re... " ujar Papinya, yang memang datang melihat sang anak ke rumah Malika.


"Tama Pi, Tama mau menikahkan Malika dengan laki laki lain, aku ngak mau Pi, aku ngak mau istriku jadi milik orang lain, aku ngak rela anakku punya Papa baru!" panik Refandi terlihat sakali wajah frustasinya, dia memberikan hpnya ke tangan sang Papi, Pak Aksa lansung mengambil hp tersebut, dan membaca pesan yang di kirim oleh Tama itu.


"Tenang lah, tidak mungkin Tama akan menikahkan istrimu, klau dia mau menikahkan Malika, mana mungkin dia mengirim alamat istri mu itu, tidak mungkin juga dia akan membiarkan pesta Malika berantakan, dari pesan tersebut, sudah jelas dia memberitahu keberadaan istri dan anak anakmu, secara tidak lansung Tama menyuruh kamu ke sana." tutur Pak Aksa menenangkan sang anak.


"Benarkah, klau begitu, ayo kita kesana Pi..." ujar Refandi berlari keluar rumah.


"Refan, haiii.... apa kau akan berpakaian seperti itu menemui istrimu, apa katanya nanti." Pak Aksa sampai geleng geleng kepala melihat tingkah sang anak, bagaimana bisa Refandi hanya memakai celana kolor saja menemui sang istri, mandi pun belum anak nya itu.


"Ahhh... Iya, kenapa Papi ngak bilang dari tadi." ujar Refandi kembali berlari menaiki tangga rumahnya, untuk mencapai kamar tidur dia dan sang istri.


Pak aksa dan yang lain terkekeh melihat Refandi itu, ada sedih, senang, rasa bersalah, pokoknya rasa nano nano yang di rasakan orang orang di rumah itu, saat ini.


"Ayo pa, kita ganti pakaian dulu, kita juga ikut ke sana." ajak Tante Tania menarik sang suami.


Bu Retno memelas melihat ke arah sang suami, dia ingin ikut melihat ke dua cucunya mereka.


"Kenapa lihat Papi kaya gitu?" ujar Pak Aksa pura pura ngak tau.


"Kita ikut ya Pi." melas Bu Retno.


"Ikut ngak ya...." goda pak Aksa.


"Ikut Pi..." melas Bu Retno.


"Baiklah... kita ikut, papi juga ingin melihat cucu pertama dan cucu ke dua kita." ujar Pak Aksa.


"Mas, aku ikut ya..." melas Lisa kepada Tomy, yang juga semangat menemui sang adik.


"Iya sayang, kita akan pergi ke sana, mas mau minta maaf sama Malika." ujar Tomy sendu, tak di pungkiri, hatinya deg degan parah saat ini, serasa mau ujian skripsi aja, takut ngak lulus.


"Kenapa pada lama banget sih." gerutu Refandi yang sudah tidak sabar untuk bertemu istri dan anak anaknya.


"Sabar boy," kekeh Pak Aksa.

__ADS_1


"Ncek... Papi ngak tau rasanya menahan rindu pi, mending cuma satu orang, ini. Tiga pi tiga." gerutu Refandi.


"Iya, iya hanya kamu yang rindu, kami ini ngak." sahut Tomy.


"Ahh... itu semua juga gara gara kau, istri ku kabur." kesal Refandi.


"Ncek... kau juga salah, kenapa ngak nolongin istri kau saat itu." balas Tomy.


"Sudah, sudah jangan berantam mulu, jadi berangkat ngak nih." lerai Pak Aksa.


"Kita berhenti di mall xx dulu pi." ujar Bu Retno, sebelum naik ke dalam mobil.


"Mau ngapain?" tanya Pak Aksa bingung.


"Ncek... Mau beli kado lah, buat cucu cucu Mami." kesal Bu Retno.


"Ahhh.... Iya, aku juga mau beli kado untuk si kembar dan istriku." ujar Refandi semangat, hampir saja dia melupakan hal itu, saking bahagianya ingin menemui orang orang terkasihnya itu.


"Kakak. Kenapa dari tadi senyum senyum sendiri, kaya orang lagi otw?" seru Malika, melihat kakaknya itu, senyum senyum tidak jelas dari tadi.


"Otw apa?" bingung Tama.


"Otw gila." sahut Miranda dari belakang, dengan terkekeh sendiri.


"Ya salah sendiri, ngak ada yang lucu, malah senyum senyum ngak jelas, tau kok senyum itu ibadah, tapi klau senyum senyum sendiri itu namanya bukan ibadah lagi, tapii..."


"GILA..." sahut Malika dan Miranda kompak.


"Kalian ini!!" pelotot Tama tidak terima.


Oeekkk.....


Si dedek lansung menangis karena kaget, karena suara Malika dan Miranda itu.


"Oo.... cup cup sayang, maafin bunda, kaget ya..." ujar Malika membawa sang anak ke dalam pangkuannya.


"Lagian, ngak sadar diri, sudah ada anak di sana lagi tidur, malah seriosa." omel Tama.


"Ini juga salah kakak." gerutu Malika.


"Emang lagi mikirin apa sih, sampai senyum senyum sendiri?" kepo Miranda.

__ADS_1


"Lagi mikirin duduk berdua kamu di pelaminan." canda Tama.


Blusss....


Wajah Miranda lansung merona, dengan candaan Tama tersebut.


"Ngak jelas." ketus Miranda, lansung berdiri dan lansung masuk ke dalam rumah.


Tama terkekeh melihat tingkah lucu sahabat adiknya itu.


"Kakak ini, suka sekali menggoda Miranda, klau suka pepet aja." ujar Malika memberi lampu hijau.


"Dia ngak punya pacarkan, atau dekat sama laki laki lain?" kepo Tama.


"Setau aku ngak ada." jawab Malika.


"Wokeh lah, abang akan taklukin hatinya." mantab Tama.


"Awas saja klau cuma main main, aku potong anu kakak." ancam Malika.


"Kakak serius tau, klau kau potong, nanti temanmu dapat apa?" kekeh Tama.


"Dasar mesum..." kesal Malika melempar bantal sofa ke arah Tama.


"Kau yang mulai duluan." kekeh Tama tidak mau kalah.


"Sudah, sana, aku mau nenenin dedek." usir Malika.


"Ya sudah, kakak pulang dulu." ujar Tama.


"Oohh... iya, paling suami kamu bakal ngibrit datang ke sini." kekeh Tama.


"Kenapa emang?" tanya Malika


"Kakak bilang, kamu mau di nikahi sama anak pak lurah, dan bakal di bawa ke luar negeri." ujar Tama terkekeh.


"APA... dasar kakak sinting, mana ada orang bersuami, mau di nikahi laki laki lain" dengus Malika.


"Biar suami mu yang bodoh itu panik, biar tau rasa dia." cuek Tama, pergi meninggalkan rumah Nek Imah.


Malika hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah sang kakak, dan pada akhirnya ikut terkekeh sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


Hallo.... cinta cintaku, nih tak kasih up double ya, biar pada happy😘😘😘


__ADS_2