
"Ana berharap suatu saat nanti ,Bapak juga bisa mempunyai keluarga baru seperti ibu," tutur Ana memeluk tangan bapaknya, sambil melihat pengatin baru yang sangat bahagia di atas pelaminan.
"Bapak begini juga sudah bahagia nak, bisa dekat dengan kamu, bisa membiayai hidup kamu itu sudah lebih dari cukup untuk bapak."ujar Kardi tersenyum perih.
Bagaimana tidak cintanya sudah di bawa pergi oleh orang lain, dia tidak bisa menjaganya, menyayanginya dan akhirnya sang wanita memilih berpisah dari pada hidup di madu.
"Bapak ngak boleh putus asa begitu, bapak belum tua kok, masih banyak wanita yang melirik bapak." kekeh Ana dia tau Bapaknya belum bisa menghilangkan rasa cintanya kepada sang Ibu, tapi apa boleh buat semua sudah berlalu, ibunya sudah bahagia dengan laki laki lain.
"Ana.... sini sayang, kita foto dulu." pekik Karyo meminta anak sambungnya itu berfoto keluarga di atas pelaminan.
Kardi melihat dari bawah dengan tersenyum miris, seharusnya dia yang berada di sana, seharusnya dia yang memeluk dua wanita kesayangannya itu, namun apa daya, dia hanya bisa pasrah melihat wanita tercinta di peluk mesra laki laki lain.
Andai dia bisa melawan ibunya, andai dia tidak menikah lagi, andai dia berani menafkahi istrinya, semua tidak akan seperti ini, huuufff.... sudah lah, sakit ini harus dia buang.
"Ayah aku mohon tolong bahagiakan ibu ku, jangan pernah membentak atau memarahi ibu ku, dan beri aku adik adik yang lucu." kekeh Ana.
"Ayah janji akan membahagiakan ibu mu, bukan hanya ibumu yang ayah bahagiakan dan kamu juga akan ayah bahagiakan, karena kamu juga anak ayah," ujar Karyo memeluk tubuh Ana dengan sayang.
"Terimakasih Ayah sudah menganggap Ana anak Ayah, Ana senang, Ibu lupa kan kesakitan yang pernah ibu rasakan, sekarang waktunya ibu untuk bahagia, jangan pikirkan apa pun, dan satu lagi Ana ngak jadi kok kuliah ke luar negeri, Ana kuliah di kampus tempat kak Malika kuliah dulu." cengir Ana.
"Benarkah nak, kamu ngak jadi ke luar negeri, aaa... Ibu senang, akhirnya kita ngak jadi pisah, dan tinggal di rumah kita sayang." senang Bu Siti.
"Ooo... Tidak bisa bu, kakak Ana tetap tinggal di rumah kami, klau ingap sehari dua hari ngak pa apa, asal jangan setiap hari." sewot Raya.
"Loh... Kenapa? kan kak Ana anak ibu, kenapa ngak boleh tinggal sama ibu?" ujar Bu siti, ada sedikit tak rela anak gadisnya tidak ikut dengan dirinya, namun mau bagaimana lagi, si kembar memang sangat dekat sama Ana dari pada Ayahnya sendiri.
"Tapi kan, kak Ana kakak kami, jadi ndak boleh pergi." ujar si kembar berkaca kaca.
"Iya sayang, kak Ana akan tetap tinggal sama adik adik kakak kok, bu saja yang tinggal di rumah baru mereka," ujar Anak dia tidak mau adik adiknya itu merajuk saat ini.
"Yeeeyyyy..... Kak Ana tetap tinggal sama kami." sorak Raya.
"Lihat sayang, mereka lebih perduli anak ketimbang sama kita." keluh Refandi.
"Hahaha.... mau bagaimana lagi, Ana sudah menyayangi mereka dari semenjak mereka dalam perut, malah selalu menyusahkan gadis itu saat aku hamil." kekeh Malika.
"Haiii... Dedek, kalian nanti jangan ikut ikutan sama abang dan kakak kalian ya, yang maunya sama kak Ana." bisik Refandi, cemburu sekali dia klau anak anak sudah lengket sama Ana pasti sudah untuk di pisahin.
Dug.....
__ADS_1
Tiba tiba perut Malika bergerak, karena tendangan si kecil.
"Haiii... masih dalam perut sudah bisah membantah kalian ya." dengus Refandi.
"Sudah ih mas, masih di perut sudah di marahin." kekeh Malika.
"Habis mereka ngak nurut sama aku yang," rengek Refandi.
Sudah yuk ke pelaminan, ucapin salam dulu. buat pengantin," ujar Malika.
"Selamat ya mbak, mang, semoga samawa, cepat di beri momongan, nanti Ana makin banyak adik yang merusuhinya." kekeh Malika.
"Makasih Lika, tanpa kamu mbak ngak tau harus bagaimana, berkat kamu Ana bisa sekolah yang tinggi, makasih sudah kasih kami tumpangan sampai sekang." ujar Bu Siti terisak.
"Mbak ngomong apa sih, aku sudah anggap mbak sebagai saudara aku sendiri, jangan sungkan sama aku mbak, aku juga merasakan kasih sayang seorang kakak dari mbak, jadi. Aku harap, mbak jangan pernah merasa klau kami ini orang lain ok." ujar Malika.
Siti mengangguk dan tersenyum haru kepada Malika.
"Makasih Lika, sudah mau menerima mamang sebagai pendamping hidup kakak kamu." ujar Karyo.
"Aku juga makasih sama mamang, sudah mau menerima mbak aku yang paket lengkap ini," kekeh Malika, gimana ngak paket lengkap, Siti sudah mempunyai anak, lah karyo masih perjaga, pas nikah lansung punya anak yang mulai beranjak dewasa.
"Ana.... jadi juga dapat Ayah kaya ya..." ejek Tama yang baru datang.
"Lika, Refan, Tama, makasih sudah menjaga Siti dan Ana selama ini, tanpa kalian saya ngak tau hidup anak saya pasti terlunta lunta di luaran sana,
"Tidak usah berterimakasih kasih Mas, Mbak Siri dan Ana sudah kami anggap saudara sendiri, dia adalah bagian dari keluarga kami, tanpa Ana dan mbak Siti saya juga ngak tau keadaan anak anak dan istri saya waktu itu.
Kardi hanya mengangguk dan tersenyum, lega.
"Makasih Karyo, sudah mau menerima anak saya, klau Ana bertingkah, tolong jangan marahi dia, tolong kasih tau saya klau dia bermasalah, saya tidak bisa melihat dia setiap waktu, karena saya berada di kampung, paling datang satu bulan sekali untuk melepas rindu sama Ana." ujar Kardi dengan menahan sesak di dadanya.
"Kau tenang saja, tidak usah cemaskan Ana, dia pasti akan saya anggap anak sendiri, saya bimbing semampu saya, bukan hanya saya saja, tapi ada Tuan Refandi, Nyonya Malika, dan ada Den Tama, sudah pasti dia dalam lindungan yang aman, jangan risaukan itu." ujar Karyo dengan tersenyum tulus.
Dia, tau kardi dalam penyesalan yang paling dalam saat ini, mencoba tegar menghadapi semuanya, beruntung Ana sang anak tidak membenci dirinya, mau bersikap seperti ayah dan anak selayaknya, tiada dendam di hati Ana seperti dulu kala, hanya wanita terkasihnya saja yang sudah bukan miliknya lagi, sudah di tangan yang tepat siap membahagiakan nya dunia akhirat.
"Oh... Ya sayang, aku membeli kembali rumah lama kamu, aku tau rumah itu, rumah penuh kenangan, kita bulan madu ke sana aja ya." ujar Karyo.
"Haaa... Serius mas..." pekik Siti penuh binar, tidak menyangka Kardi juga membeli rumah peninggalan orang tuanya.
__ADS_1
"Hmmm.... Jadi kita bukan madu ke sana aja ya, sekalian mau lihat supermarket kita yang di san.
"Emang mas juga bikin supermarket di kampung?" tanya Siti, yang belum tau betul suaminya ini, maklum selama ini dia ngak mau tau banget urusan Karyo takut kepo.
"Iya mas bangun supermarket di kampung, biar bisa membatu warga di kampung untuk membeli barang yang masih langka di kampung, dan ngak harus menunggu ke kota dulu untuk belanja, dan harga juga ngak mahal mahal amat, masih standarlah." ujar Karyo.
"Eiiittt.... tunggu tunggu... kami ada kado buat kalian." pekik Tama.
"Kado apaan lagi, ini sudah cukup Tama." ujar Bu Siti tidak enak hati, semua ***** bengek pesta pernikahan dia ini, di urus oleh Malika Refandi sekeluarga, karyo dan Siti tidak di izinkan ikut campur.
"Karena kalian mau beli rumah, jadi rumah yang di samping kak Malika itu kan kosong, mau di jual, kami sudah beli patungan, dan itu kado untuk kalian, masalah isi rumahnya, tinggal kalian isi sendiri sesuai selera." cuek Tama.
"Ya ampun, itu berlebihan sekali." keluh Siti.
"Ngak ada yang berlebihan, itu wajar kado untuk keluarga, dari pada ngomongin kado mulu, yuk kita foto." ajak Tama.
Ciss......
Cekrek....
Cekrek....
Cekrek....
\*\*\*\*\*\* Selesai \*\*\*\*\*\*\*\*
Hallo..... sayang sayang aku makasih ya, sudah ngikutin novel Outhor, dan jangan lupa baca juga novel lainnya ya, menunggu up novel baru Aouthor yang berjudul Aku Bukan Pelakor.
Baca yang ini dulu ya, sambil menunggu.
*Airin si gadis dingin.
*Suamiku yang tak di anggap.
*Nikah Rahasia.
*Ketika suami tidak lagi jadi harapan.
*Cobalah jadi aku sebentar saja.
__ADS_1
*Bersama mu aku bahagia.
Makasih ya.... bye bye love ❤❤❤❤❤ sakebon untuk kalian😘😘😘😘😘😘