Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 61


__ADS_3

"Hallo kakak ipar." panggil Malika kepada Lisa yang datang ke rumah sang bibi, dia tau semalam Lisa dan Tomy sedang menginap di rumah orang tuanya.


"Haiii.... Bumil, ini sudah gede aja." ucap Lisa mengelus perut buncit Malika.


"Hehehe... Iya kak. udah 5 bln masa mau kecil aja" kekeh Malika.


Lisa juga ikut terkekeh, walau berusaha menahan pusing di kepalanya.


"Kak, kakak ngak pa apa?" tanya Malika cemas melihat wajah pucat Lisa itu.


"Ngak pa apa kok, cuma sedikit pusing aja." jujur Lisa.


Bruk....


"Astaga... Kakak" pekik Malika, menahan kepala Lisa agar tidak terbentur ke lantai.


Mendengar ribut ribut di ruang tengah membuat orang orang pada berlarian ke sana.


"Kakak, bangun kak, Ya allah..." panik Malika.


"Malika! apa apaan kamu! kamu apain Lisa.!" bentak sang Bibi, panik melihat menantunya sudah tergeletak di atas lantai.


"Bibi, aku ngak apa apain kakak Lisa kok, dia tiba tiba pingsan." jawab Malika Jujur walau hatinya sangat sakit di bentak sang bibi, memang tidak ada orang di sana yang melihatnya, dan kebetulan hanya ada Malika saja.


"Minggir kamu!!" pekik Tomy ikut membentak sang adik.


"Ausss...." Malika mendesis ke sakitan karena di dorong dan membuat perutnya sedikit keram.


"Ada apa ini? ujar Refandi ikut masuk, melihat Lisa yang tidak sadarkan diri.


"Tanya sama istri kamu itu!" marah Tomy.


"Ada apa Lika?" tanya Refandi ikut menatap dingin Malika, tanpa perduli ringisan sang istri.


"Aku ngak ngapa ngapain kak Lisa, tiba tiba kak Lisa pingsan, dan aku cuma menolong dia, agar tidak terbentur saja." jujur Malika.


Namun apa yang Malika sampaikan tidak ada yang percaya, semua mata hanya tertuju kepada Lisa, yang sedang tidak sadarkan diri itu, teramasuk sang suami, Malika melihat itu semua menjadi sesak, apa lagi saat ini perutnya sakit, tidak ada yang perduli.


"Malika pergi ke rumahnya dengan langkah tertatih tatih, sungguh dia menyesal datang kerumah sang tante, klau tau akan begini jadinya.


"Lika. Kamu kenapa nak, ujar Bi Jum, yang melihat Malika jalan tertatih dan menghapus air matanya.


"Bik." panggil Malika.

__ADS_1


"Kamu kenapa nak?' tanya Bi Jum sekali lagi.


Malika akhirnya menceritakan apa yang terjadi di rumah sang bibi, tanpa ada yang di kurangi maupun di tambah.


"Astagfirullah..." ucap Bi Jum, tidak habis pikir, panik sih panik, kenapa harus sekejam ini.


"Bi. Tolong aku Bi, ujar Malika.


"Iya nak. Bibi pasti bantuin kamu." ucap Bi Jum yang memang menyayangi Malika itu.


"Tolong aku ke kamar Bi." ujar Malika.


Bi Jum memapah Malika kedalam kamarnya, dan meminta Bi Jum mengemasi, beberapa pakaianya, dan mengambil barang barang yang dia perlukan, dan meminta Bi Jum mengantarnya ke klinik, setelah itu Malika menyuruh Bi Jum untuk pulang, dia tidak mau ada orang rumahnya tau di mana keberadaannya, sungguh Malika sakit hati, apa lagi perutnya sakit saat di dorong oleh Tomy, tapi suaminya hanya mengabaikan Malika, justru fokus sama Lisa, perih memang hati Malika, mungkin karena hormon kehamilannya juga membuat Malika ambekan, atau mungkin karena tidak di percayai oleh keluarga nya.


"Bibi Pulang saja. Aku bisa sendiri." ucap Malika.


"Tapi Nak." ucap Bi Jum meragu.


"Pulang lah, aku takut mereka mencari Bibi." ucap Malika.


"Baiklah klau gitu, bibi pulang, tapi kalau ada apa apa hubungin bibi ya." ucap Bi Jum


Malika hanya mengangguk dan tersenyum.


Setelah kepergian Bi Jum, malika menelpon seseorang, setelah itu, dia mematikan data hpnya.


"Janinnya baik baik saja bu, tadi itu hanya karena kaget saja, jadi ada kontraksi." ucap dokter kandungan itu.


"Apa kalau melakukan perjalanan jauh tidak masalah dok.?" tanya Malika lagi, dia mau memberi pelajaran sama orang orang itu, pikirannya saat ini benar benar emosi tingkat jiwa, enak saja dia di perlakuka seperti tadi.


"Lika, kenapa kamu bisa begini?" tanya Miranda, teman di kampus lamanya, orang satu satunya yang tidak di kenal oleh keluarganya.


"Aku..." Malika menceritakan apa saja yang dia alami tadi kepada sahabatnya itu, dia begitu sedih, kenapa dia yang di salahkan, niatnya tadi mau menolong malah dia yang di tuduh.


Di tambah akhir akhir hari ini, suaminya itu


sedikit abai dengan Malika, karena banyak tuntutan pekerjaan, dan juga entah kenapa sejak tau Lisa sedang hamil muda dua minggu lalu, tantenya itu juga sedikit abai dengan Malika, Malika masih bisa terima itu semua, karena dia tau Lisa sedang mengandung cucu pertama sang tante, dan dia juga sangat mengerti dengan kesibukan Refandi akhir akhir ini, dia tidak pernah menuntut apa pun, dari Refandi, kadang Refandi pulang larut malam, dan kadang sudah pergi saat Malika masih tidur, masakan yang di masak Malika saja jarang di sentuh Refandi.


"Kurang ajar, klau tau begin, gue nyesal mendukung loe nikah sama bangsat itu, maafin gue saat loe lagi sedih, trus sekarang loe mau kemana?" tanya Miranda.


"Bawa gue pergi, gue ngak mau ketemu mereka saat ini, mungkin tanpa gue mereka senang, ngak pa apa kok, itu bukan kah sudah biasa buat gue, di lupakan saat sudah tidak di butuh kan lagi." ucap Malika tersenyum sendu.


"Baiklah, jangan sedih, ada gue, kasian anak loe, kita pergi sekarang juga." ucap Miranda, akan tetapi matanya berkeliling mencari sesuatu.

__ADS_1


"Loe lewat pintu belakang, di sana ngak ada cctv dan gue dari depan, seolah oleh kita ngak kenal, loe jalan sampai bakso gerobak sana, di sana aman ngak ada cctv." ucap Miranda.


"Barang barang gue." ujar Malika, niat banget dia kabur.


"Nanti gue suruh orang membawanya" ucap Miranda.


Sedangkan di rumah Lisa mulai membuka matanya, karena sudah di periksa dokter, dan dinyatakan baik baik saja.


Eegghh...


Lenguh Lisa membuka mata.


"Sayang." panggil Tomy yang dari tadi tidak mau jauh dari sang istri.


"Mas..." panggil Lisa.


"Syukurlah kamu sudah bangun sayang." ucap Tante Tania.


"Aku kenapa, mana Malika?" tanya Lisa, setaunya tadi dia sedang ngobrol dengan Malika di ruang tamu, sekarang kenapa berada di dalam kamar.


"Sudah lah, pikirin kesehatan kamu dulu, ngapain tanya tanya perempuan itu!" ketus Tomy.


"Loh, kok gitu?" tanya Lisa bingung sambil menautkan dahinya.


"Gara gara dia kan. kamu, jadi kaya gini!" ujar Tomy lagi.


"Ya ampun Mas, itu bukan salah Malika, aku tadi pusing untung ada Malika bantuin aku." pekik Lisa, dia ingin tadi kepalanya pusing dan Malika lansung memegang dia, dan setelah itu Lisa tidak tau lagi apa yang terjadi.


Deggg....


Jantung Refandi, Tante Tania dan Tomy lansung berpacu tidak karuan, wajah mereka lansung menegang, karena mengingat perlakuan mereka kepada Malika tadi.


Dan Refandi pun ingat wajah kesakitan sang istri, dia malah tidak perduli, dia pikir sang istri hanya berpura pura.


"Bodoh... bodoh..." gerutu Refandi mengingat itu semua dia melangkah keluar mencari keberadaan sang istri.


"Lika..." ujar Tante Tania, merasa bersalah, yang tidak percaya kepada malika.


"Tomy jangan di tanya, menyesal sungguh dia sangat menyesal, mana tadi sempat mendorong sang adik.


"Sayang..... Lika...." panggil Refandi berlari ke dalam rumahnya, mencari keberadaan sang istri.


"Kalau sudah begini baru kelabakan, cemas sih boleh, tapi dengerin penjelasan orang dulu, ini main tuduh aja, semoga nak Malika ngak pulang ke sini, biar pada nyesel dulu baru balik." gerutu Bi Jum, yang berpura pura tidak tau apa apa.

__ADS_1


"Sayang.... sayang.... kamu dimana. Malika sayang..." panggil Refandi, berkeliling mencari sang istri.


Bersambung....


__ADS_2