Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 66


__ADS_3

Satu bulan sudah Malika hidup jauh dari sang suami, namun dia malah makin bahagia, berat badannya semakin naik, dan wajahnya semakin berseri, hormon ibu hamil menambah pesonanya, mungkin karena dapat perhatian oleh banyak orang, bukan hanya dari Miranda dan Nek Imah, namun orang kampung begitu menyukai ibu hamil itu, bukan kenapa, Malika bagai lentera bagi penduduk kampung itu, dia dengan suka rela mengajar anak anak kampung di sana, tanpa di bayar dengan uang, maklum namanya hidup di kampung jauh dari kota, tentu saja segala fasilitas serba ke kurangan, pergi les tidak mungkin bagi mereka orang kampung di sana, mengingat jarak tempuh yang lumayan.


Malika memberika les cuma cuma untuk menghilangkan rasa jenuhnya, karena di larang oleh Nek Imah untuk ikut ke kebun yang jalanan turun naik dan licin, berhubung cuaca tidak menantu.


Berawal dari satu anak yang ke susahan untuk mengerjakan pr. Malika iseng iseng mendekati anak SMP yang kebetulan tetangga Nek Imah, dan semenjak itu anak anak klau ada pr dan mau ulangan selalu datang ke rumah Nek Imahu untuk di ajari oleh Malika, dengan senang hati Malika membantu mereka.


"KaK Likaa.... aku dapat nilai paling tinggi loh... Bahasa inggrisnya, ini rekor loh kak, mana pernah aku dapat nilai 95 di bahasa inggris, biasa paling 50 sudah jago, teman teman dan guruku sampai ngak percaya kak, aku di uji lagi, ehhh... mereka baru percaya." cerocos Aira yang baru pulang sekolah, lansung mencari Malika, dia begitu bahagia nilainya bagus.


"Alhamdulilah... mudah mudahan selalu dapat nilai yang bagus ya, kamu semakin rajin belajar." ucap Malika ikut senang, itu yang membuat Malika semakin suka tinggal di sini, ada saja yang akan datang mengadu nilai mereka semakin bagus hari ke hari.


"Pasti kak, kakak jangan bosan ya ngajarin aku." ujar Aira memeluk ibu hamil itu dengan sayang, dan mengecup pipi Malika. Malika begitu senang di perlakukan seperti itu oleh Aira gadis manis itu. Dia seperti mempunyai adik kandung, memang Aira suka curhat sama Malika entah tentang pelajaran, entah teman dan lain lainnya.


"Anak pintar" ucap Malika mengelus rambut Aira yang panjang sebahu itu.


Tidak hanya Malika yang bahagia, Nek Imah pun iku bahagia, rumahnya yang dulu sepi, kini ramai di serbu anak anak, nek Imah sungguh bahagia dengan keadaan sekarang, sudah lama rumah itu sepi, hanya dia seorang yang menjadi penghuni rumah itu, semenjak anak cucunya pindah ke kota, namun ke datangan Malika membuat rumah itu kembali ramai.


Berbanding terbalik dengan ke hidupan Malika yang bahagia, Refandi sang suami kini hidup nelangsa, semenjak kepergian sang istri, sudah sebulan lebih dia mencari keberadaan sang istri namun belum juga di temukan, sebegitu banyak dia dan keluarga Tomy menyebar anak buah untuk mencari Malika namun hasilnya masih nihil.


Tubuh Refandi semakin kurus, wajah tak terawat, dia kembali dingin, tidak hanya kepada orang lain, di rumah pun dia tidak banyak bicara, dia kembali ke setingan awal, bahkan lebih parah.


Tok...


Tok...

__ADS_1


Den, Refan sudah bangun, ini sudah siang loh, Den Refan ngak kerja?" panggil Bi Jum dari kuar kamar, dari tadi dia belum melihat Refandi belum keluar kamar dan sarapan yang dia sediakan pun masih utuh.


Tok..


Tok...


"Den...." ulang Bi Jum, yang merasa panggilannya belum di jawab.


Sementara di dalam kamar sana, Refandi menggigil, karena badannya panas tinggi, dia tidak kuat untuk berdiri, kepalanya seperti berputar putar.


"Ya Allah... Lika, sayang, belum cukup kah kamu menghukum mas sayang, pulang sayang, mas rindu sama kamu dan calon anak kita, mas mohon pulang lah sayang." gumam Refandi sampai meneteskan air mata.


Sungguh Refandi sangat terpukul dan menyalahkan dirinya, telah berbuat zolim yang tanpa dia sadari kepada sang istri, membuat rasa bersalah di dalam dirinya semakin menjadi jadi, apa lagi orang orang suruhannya belum bisa menemukan sang istri, dia takut istrinya itu kenapa napa di luar sana, istrinya pergi pun tidak membawa uang dan juga semua kartu yang dia berikan kepada sang istri pun di tinggalkan oleh wanita hamil itu, itu semakin membuat Refandi cemas, takut istrinya tidak bisa tidur di tempat yang layak, bagaimana makannya, sungguh memikirkan itu membuat Refandi hampir gila.


Tidak mendapat sahutan dari majikannya itu, membuat Bi Jum khawatir, dia pun tidak berani untuk masuk ke dalam kamar Refandi, dia memilih pergi ke rumah Tante Tania meminta tolong kepada orang orang di rumah itu.


"Itu Den, tolong lihatin Den Tomy, Den. Dari tadi saya panggil panggil ngak nyahut nyahut, saya takut terjadi sesuatu, ngak biasa biasanya dia seperti ini." ucap Bi Jum khawatir.


"Ayo Bi...." ujar Tomy ikut khawatir, karena dia tau sahabat sekaligus iparnya itu, memang sudah tidak baik baik saja semenjak kepergian Malika.


Tomy pun sangat menyesal telah mengasari sang adik, yang berujung Malika menghilang dari kehidupan mereka.


Menyesal, sudah pasti Tomy sangat menyesal, apa lagi melihat perubahan Tama kepada keluarganya.

__ADS_1


Si bontot itu jarang pulang ke rumah, dan sekali pulang hanya mengambil pakaiannya, Tama sangat kecewa kepada keluarganya itu, dia pergi buka sembarang pergi dari rumahnya, dia pergi mencari Malika seorang diri, menelusuri setiap daerah, dia yakin adiknya masih ada di negaranya, karena dia tidak menemukan nama sang adik di transportasi apa pun, dia yakin adiknya ada di desa atau di tempat terpencil, dia sangat yakin tentang itu, di pernah melihat coretan Malika pemandangan alam terbuka, dia yakin adiknya ada di sebuah desa tapi dimana? itu yang menjadi tugasnya, menemukan sang adik, beruntungnya semenjak tamat kuliah dia belum bekerja dan terikat kontrak di manapun, dan dia bisa bebas kemanapun.


Bukan bearti dia pengangguran, dia punya usaha sendiri di kelola oleh teman temannya yang kurang beruntung, dia cukup memantau dari jauh.


Balik ke topik...


Tubuh Refandi semakin menggil, namun dia ingin buang air, mau tidak mau dia harus kw kamar mandi untuk melepas hajatnya.


Namun belum sempat sampai di kamar mandi dia sudah oleng duluan.


Brug.....


"Astaga... Refan...." pekik Tamy berlari menolong Refandi.


"Kamu kenapa!" tanya Tomy.


"Kepala gue pusing, tapi gue ke belet." jujur Refandi.


"Sini aku bantu." ajak Tomy membantu Refandi.


"Astaga, badan kamu panas banget." pekik Tomy memegang tangan Refandi.


"Gue ngak pa apa" ucap Refandi sendu.

__ADS_1


"Ngak pa apa, apanya." ini panas banget, diam di sini aku panggil dokter." tegas Tomy, dia pun tidak ingin terjadi apa apa sama sahabatnya itu, belum selesai masalah mereka yang satu masa mau tambah lagi dengan masalah baru.


Bersambung...


__ADS_2