Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab78


__ADS_3

"Sayang...." panggil Refandi dengan sendu, melihat kepada sang istri, yang dari tadi diam saja, tanpa banyak bicara, di panggil baru ngomong, trus diam lagi.


Sakit sungguh sakit hati Refandi melihat perubahan sang istri, yang dulunya selalu ingin manja sama dia, menceritakan berbagai banyak hal, kini istrinya lebih banyak diam, "begini ya rasanya di cuekin." gumam Refandi menatap sang istri.


"Hmmm.... pergi lah keluar, abang mau mimik." ujar Malika tanpa menoleh ke arahnya.


"Kenapa, mimik aja, mas kan suami kamu." ujar Refandi dengan perasaan sedih, begitu bencinya kah istri nya itu kepada dirinya dan yang lain, sama sekali Malika tidak mau keluar dari kamar tidurnya dan si kembar pun tidak dia izinkan keluar dari kamar itu.


Malika hanya menatap Refandi sebentar, dan kembali menatap ke arah sang putra yang sudah merengek ke hausan, mau tidak Malika meneteki sang buah hati di dekat sang suami, namun dia memilih duduk menyamping, dengan bibir yang mencibik kesal.


Glek....


"Sial...." gumam Refandi mulai frustasi melihat buah apel yang sudah berubah menjadi pepaya bangkok itu, membuat dia menelan ludah kasar, karena sudah lama tidak pernah melihat dan merasakan pepaya bangkok tersebut.


"Emang enak, tegang tegang deh," gumam Malika dengan tertawa puas dalam hatinya.


"Mas, keluar sebentar ya." ujar Refandi pada akhirnya, yang tidak kuat melihat pemandangan itu, dan ruangan tersebut seketika menjadi panas.


"Hmmm..." sahut Malika, dan tersenyum simpul saat Refandi sudah keluar, dia tau suaminya itu keluar kamar, karena tidak tahan melihat sumber kehidupan sang buah hati.


"Mana Malika, kok ngak keluar?" tanya Tante Tania, yang sudah tidak sabar bertemu dengan keponakannya itu, rasa bersalahnya semakin besar, karena keponakannya tidak mau menemui dirinya.


"Dia ngak mau keluar Tan." keluh Refandi.


"Sabar, jangan paksa dia untuk menerima kedatangan kalian, Nak Tama saja butuh perjuangan lama untuk Malika terima, apa lagi kalian yang benar benar menggores luka di hatinya, masih mending kalian di izinkan masuk ke dalam rumah ini, Tama dulu di usir dari rumah ini." tutur Nek Imah.


Ucapan Nek Imah lansung lansung membungkam mulut orang orang tersebut.


"Kalian istirahat saja di rumah kontrakan aku, karena rumah aku belum rapi di bangun, untuk sementara, tinggalah di sana, walau tempatnya sempit, setidaknya bisa melepas lelah, dan aku sudah menyediakan kasur untuk kalian istirahat." ujar Tama.


"Apa... Kamu bangun rumah di desa ini nak?" ujar tante Tania kaget.


"Iya, kerana adikku ngak mau pulang ke kota, dari pada aku ngontrak terus, lebih baik aku bangun rumah di sini, lagian aku punya usaha juga di sini." tutur Tama.


"Tolong carikan abang lahan yang bisa abang beli, abang juga akan membangun rumah di sini." pinta Refandi dengan wajah yang serius.

__ADS_1


Tama kaget mendengar ucapan Refandi tersebut.


"Kenapa abang mau bangun rumah di sini?" tanya Tama kaget.


"Abang akan tinggal di sini bersama anak dan istri abang." ujar Refandi.


"Bukankah pekerjaan abang lebih penting dari anak istri, kenapa sekarang ingin tinggal di sini tuan, tempat ini tidak cocok untuk anda." sinis Tama.


"Maaf telah membuat Malika kecewa, dan maaf telah membuat dia sakit hati karena abang, tapi mulai saat ini, abang janji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, dan abang rela menyerahkan semua pekerjaan abang kepada orang kepercayaan abang, anak dan istri abang lebih penting bagi abang, saat ini dan selamanya." ujar Refandi meyakinkan.


"Hhhhhhh.... terserah kalian." ujar Tama.


"Assalamualaikum...." salam beberapa orang ibu ibu dari luar.


"Wa'alaikum salam..." sahut mereka kompak


"Ehhh... ada tamu toh..." ujar Bu Rt dan bu Salma.


"Iya bu, ini suami Malika sama keluarganya datang," ujar Nek Imah mempersilahkan tamu mereka masuk.


"Iya maaf, kami ganggu ya, kami mampir sebentar, tadi baru habis dari kota, sekalian mampir di swalayan buat beli ini untuk nak Malika, biar ASInya makin lancar."ujar Bu Rt.


"Ya ampun bu, kalian selalu repot repot buat Lika." sahut Malika keluar dari kamarnya, karena mendengar suara Bu Rt dan Bu Salma.


"Ngak repot kok nak, ibu pengen cucu cucu ibu pada sehat, dan ngak kekurangan ASI," ujar Bu Rt dengan tersenyum tulus dan mengelus punggung Malika.


Ucapan bu rt tersebut berhasil menohok hati keluarganya yang berada di situ, tentu saja Malika tidak mau pulang ke kota, ternyata di desa ini Malika benar benar di perlakukan dengan baik, dan mereka malah abai kepada Malika, jelas jelas saat itu Malika sedang hamil, dan malah menyakitinya tanpa sengaja, dan berulang kali.


"Kakak.... aku bawa jus mangga buat kakak." ujar Ana dengan semangat masuk ke rumah Nek Imah, bocah SMP itu tidak perduli dengan banyak orang, dia hanya menemui wanita yang di anggap kakaknya itu.


"Ya ampun Ana, kebiasaan deh, banyak orang loh, kamu malah teriak teriak." omel Bu Salma sang Ibu.


"Hehehe... lupa Bu." tapi dia malah mendekat ke arah Malika dan mengecup pipi Malika kiri dan kanan dengan sayang.


Malika juga membelas perlakuan Ana tersebut. Semua yang berada di sana ikut melihat interaksi Malika dengan orang orang di sana, makin besar lah rasa bersalah mereka.

__ADS_1


"Diminum ya kak, biar dede makan jusnya juga" kekeh Ana.


"Iya sayang, nanti kakak minum, ngomong ngomong kenapa lansung ke sini, ngak ganti baju dulu?" tanya Malika.


"Takut keduluan yang lain, makanya aku lansung ke sini." kekeh Ana.


Malika hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan anak anak di sana, yang selalu membawa makanan untuk dirinya, beruntungnya orang tua mereka tidak pernah mempermasalahkannya.


"Kalian itu di kasih uang jajan, buat kalian jajan, tapi kenapa malah jajanin kakak sih." omel Malika.


"Tenang kak, kamu ngak minta uang jajan sama orang tua kami kok, kami kan bisa dapat uang, berkat obos di sana" tunjuk Ana kapeda Tama.


Tama hanya mencibir saja melihat kelakuan Ana tersebut, memang Tama dan Malika di kampung itu membuka lapangan pekerjaan buat anak anak di sana, tapi tidak mengganggu waktu sekolah dan belajar mereka.


"Ya sudah, aku pulang dulu, mau lansung ke perternakan, nanti sore baru kesini lagi." ujar Ana.


"Baiklah, hati hati, jangan terlalu lelah ok."


"Ok, kakak ku."


Cup..


Cup...


"Dada... kak" ujar Ana melenggang pergi.


"Ya sudah kami juga pulang dulu ya nak." ujar bu rt dan bu Salma.


"Iya bu, makasih ya, sudah repot repot." ucap Malika.


"Ngak ada yang repot nak, kamu sudah kami anggap anak kami sendiri." ujar Bu Salma


"Kalian lihat kan, bagaimana Malika di perlakukan disini, mana mau dia pergi dari desa ini, desa ini bagai rumahnya, dia dapat kasih sayang disini dengan tulus, tanpa perduli Malika besarasal dari mana, klau di tempat lain bisa jadi Malika akan di julitin orang, karena hamil tidak ada suaminya, di sini Malika malah di lindungi dan di sayang, beda sama perlakuan keluarga dan suami sendiri." ucap pedas Tama, yang masih saja mendendam.


Tak ada satu pun yang mampu menjawab ucapan pedas Tama itu, memang nyatanya mereka salah, membuat Malika sakit hati, dan memilih pergi dari mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2