
Tama mengazankan ke dua keponakannya, dia sungguh terharu melihat ke dua keponakannya yang sangat imut imut namun berbeda jenis kelamin, wajah mereka lebih mirip ke Refandi.
"Cek... kenapa kalian malah mirip si brengsek itu hummm..." gumam Taman sambil menjawil sayang ke dua pipi keponakannya itu.
"Takut ngak di aku sama Ayahnya kali kak." kekeh Malika yang juga duduk memandang sepasang bayi kembar itu.
Sebenarnya dia juga sedih, saat saat seperti ini dia membutuhkan suaminya, berada di samping dirinya, namun rasa kesal masih ada di hatinya, biar lah dia ingin menghukum sang suami dan keluarganya terlebih dahulu, biar mereka tau, tanpa mereka pun Malika bisa melakukan banyak hal, dan Malika bukan lah tipe wanita pemuja uang, seperti wanita lainnya, dan dengan sangat mudah para lelaki mengabaikan mereka, dengan alasan demi kamu dan demi kebutuhan kamu, Malika tidak butuh itu semua, yang Malika ingin kan cuma perhatian dan di hargai, uang dia bisa mencari sendiri.
Bahkan Malika bisa bekerja dengan perusahaan asing, walau tanpa datang ke perusahaan, dengan ke pintaran dan ide ide cemerlang Malika dengan mudahnya dua perusahaan asing mengontraknya, tentu saja Malika anteng anteng saja hidup di kampung itu, tanpa khawatir masalah keuangan , secara uang tiap bulan sudah masuk kedalam rekeningnya.
"Bisa jadi begitu," kekeh Tama yang tidak lepas memandang keponakannya.
"Boleh kakak posting, dan biar mereka melihatnya, biar tambah kelojotan mereka di sana." sinis Rama penuh dendam
"Terserah kakak, dia juga berhak tau, secara dia Ayahnya." ujar Malika, biarlah Refandi tau klau anaknya sudah lahir, biar itu urusan Tama.
"Nak, apa kamu masih marah, sudahi sayang, kasihan anak anakmu, dia akan butuh sosok seorang ayah, pasti sekarang suamimu, sudah sangat menyesali perbuatannya, kamu lihatkan, banyak orang orang suruhan suami dan juga keluarga mu, dan yang lebih mencengangkan mertua yang kamu bilang tidak perduli itu pun ikut mencarimu." nasehat Nak Imah.
"Aku takut Nek, mereka akan seperti itu lagi, hanya butuh aku, karena anak anakku, dan aku akan kembali di abaikan," ujar Malika dengan menunduk, dia belum siap untuk bertemu dengan orang orang itu.
Trauma dengan orang tua angkatnya, suami dan bahkan kelurganya membuat luka di hati Malika semakin dalam, di butuh kan saat ada perlunya, setelah itu dia di abaikan, seperti tak terlihat sama sekali, cukup sudah rasa sakit yang dia rasakan.
"Maafin nenek ya, nenek hanya memikirkan anak anakmu saja, nenek lupa akan kesakitan kamu." ujar Nek Imah penuh sesal, mungkin karena dia tidak pernah merasakan sakit yang di rasakan Malika, makanya dia dengan gampang mengucapkan atau memberi nasehat untuk melupakan kesakita itu, atau menerima kembali orang yang telah menyakitinya, namun bagi Malika yang sudah pernah, dan bahkan berkali kali merasakan sakit yang sama, tentu saja susah untuk memaafkan mereka dan dia trauma untuk itu.
Biarlah hanya waktu yang mempertemukan nya, tapi untuk duluan menghubungi Malika tidak akan pernah mau.
__ADS_1
Cekrek....
Cekrek....
[ SELAMAT DATANG KE DUNIA TIPU TIPU TWINS, JADI LAH ANAK ANAK YANG KUAT, PELINDUNG BUNDA KALIAN, PEMBERI SEMANGAT UNTUK BUNDA KALIAN, TERIMAKASIH SUDAH HADIR DI SAAT BUNDA KALIAN SENDIRI DAN JANGAN PERNAH SAKITI HATI WANITA BAIK HATI ITU, PAPA AKAN SELALU ADA UNTUK KALIAN ]
Begitu lah isi postingan Tama tersebut, di bawah foto sang baby twins yang dia up, di media sosial.
Postingan Tama tersebut lansung mendapat banyak komentar dari teman teman kampus Tama dan Malika, karena mereka satu kampus, di tambah Mereka sudah tau klau Malika dan Tama adalah sepupuan.
"Wah.... Malika sudah lahiran ya, selamat ya."
"Uuuu.... lutuna, bikin gemes."
"Wah.... Kembar ya, imut imut sekali."
"Iiihhh.... jadi pengen peluk."
Begitu banyak komentar dari teman teman Tama dan Malika, namun Tama tidak berniat untuk membalasnya, dia hanya ingin menunggu komentar dari keluarganya.
Brak....
Bunyi pintu di buka dengan sangat kasar dari luar, membuat Refandi terjengkit kaget karenanya.
"Apa apaan sih, kalian ini!" kesal Refandi ke dua sahabatnya masuk dengan tergesa gesa.
__ADS_1
"Kau sudah melihatnya." tanya Sandi dengan nafas ngos ngosan.
"Lihat apaan." kesal Refandi, yang masih mengerjakan beberapa berkas di atas mejanya, tanpa perduli dengan kedatangan ke dua sahabatnya itu.
"Ncek... laki laki ini!" kesal Sandi, menarik berkas yang ada di tangan Refandi itu.
"Haiii... apa apaan sih. Kau ini!" sungut Refandi kesal."
Sandi hanya masa bodo, sementara Tomy setelah melihat postingan sang adik, semakin merasa bersalah, adiknya pergi dengan kehamilan anak kembar, dan menjalani hari hari seorang diri, tanpa ada suami maupun saudara di sampingnya, dan kini lahiran pun tak memberikan kabar kepada suami dan keluarganya, andai waktu itu dia tidak melakukan kesalahan, mungkin semuanya akan baik baik saja, namun apa daya, bubur sudah jadi lontong.
"Kau...." kesal Refandi, namun sesaat dia lansung membeku, melihat postingan Tama, dia melihat bayi kembar di dalam box bayi, yang dia yakini itu adalah anaknya.
Dan Tama kembali membuat postingan, di sana juga terlihat Malika sedang menggendong ke dua buah hatinya, dengan caption [ Wanita tangguh, tak butuh kacang lupa kulitnya, tanpa nafkah, dia bisa berdiri di kakinya sendiri, tanpa kasih sayang dari orang terdekat, namun di luar sana banyak yang menyayangi nya, terbukti dengan dia hidup di luar sana seorang diri, dia baik baik saja, dan terlihat lebih bahagia, SELAMAT MENJADI IBU ADIKKU SAYANG, SEMOGA BAHAGIA SELALU." begitu lah kata kata Tama yang menohok hati Refandi.
Hancur sudah hati Refandi saat itu juga, melihat anak anaknya, dia tidak menyangka mempunyai anak kembar, dan istrinya juga baik baik saja tanpa dirinya, dan dia tidak di hubungi saat anaknya lahir, begitu sakitkah hati istrinya itu dengan sikapnya selama ini, sungguh Refandi sangat menyesal, telah menyia nyiakan sang istri yang tidak pernah neko neko, dia penurut dan patuh sama suami, dan dengan tanpa perasaan dan dengan tidak ke sengajaannya, dia melukai sang istri dengn sangat dalam, sehingga sampai sekarang pun, sang istri tidak bisa dia temui, dia yakin orang orang suruhannya, pernah ke tempat Malika berada, namun Malika lah yang bersembunyi, tau klau dia sedang di cari.
"Sayang... hiks... hiks... anak anak kita..." gumam Refandi dengan air mata yang sudah bercucuran, dia memeluk hp Sandi, seolah olah hp tersebut adalah istri beserta anak anaknya.
"Refan...." ujar Mami dan Papinya serempak masuk ke ruangan Refandi, mereka juga tau tentang postingan itu, dia menghawatirkan keadaan anaknya, dia takut Refandi kenapa napa.
"Mi Pi anak anakku Mi, mereka sudah lahir Mi, tapi istriku tidak mau memberi tahu aku Mi, istriku masih marah sama aku Mi, tolong aku Mi, temukan istri dan anak anakku Mi hiks.... hiks..." Refandi meraung pilu di dalam ruangan itu, orang orang di dalam sana, tidak kuat mendengar raungan pilu Refandi tersebut, Refandi sangat hancur setelah melihat postingan Tama tersebut, dan hp Tama lansung mati setelah membuat postingan tersebut, tanda ada yang bisa melacak keberadaannya.
"Sabar nak, kita akan terus mencari mereka, pasti sebentar lagi mereka akan ketemu." ujar Mami Refandi itu, ikut meneteskan air mata, sakit sungguh sakit hatinya melihat sang anak semakin di buat terpuruk oleh postingan Tama itu, dia juga tidak bisa menyalahkan Tama, semua terjadi juga karena kesalahan sang anak, mungkin ini hukuman untuk Refandi yang telah menyia nyiakan wanita sebaik Malika.
Mami Refandi itu pun sadar, karena Malika selama ini hidup juga tidak muda, dan terlalu banyak sakit yang di berikan oleh orang orang di sekelilingnya, makanya Mami Refandi itu tidak menyalahkan Malika sama sekali, itu murni kesalahan sang anak dan keluarga Malika, mau marah juga percuma, semua sudah terjadi, yang bisa mereka lakukan saat ini, ya mencari Malika lebih fokus lagi.
__ADS_1
Bersambung....