
"Mama..., mama. Dapat teman dari mana coba, ngak bisa apa pilih pilih teman yang baik, heran gue." gumam Tama, dia lansung meninggalkan tempat persembunyiannya.
"Mending gue nyari cincin tunangan deh, dari pada mikirin dua sudel bolong itu." gerutu Tama sambil berjalan ke toko perhiasan.
Sementara Tante Tania lansung pulang dengan perasaan kesal, tertipu dengan dua rubah betina itu, dia baru tau sifat asli mereka kaya gitu, untungnya sang anak menolak perjodohan itu, klau tidak, dia tidak bisa ngebayangin bagaimana rumah tangga anaknya.
"Huuuffff..."
Tante Tania menghempaskan pantatnya di sofa ruang tamunya, dan juga merebahkan kepalanya di sandaran sofa tersebut.
"Dari mana kamu ma? dari tadi papa cariin." ujar sang sang suami.
"Habis janjian sama Jeng Linda." jujur Tante Tania.
"Kamu masih mau maksa Tama nikah sama anaknya." ujar Om indra tak habis pikir.
"Ih... ngak, tadi aku tuh, ketemuan sama dia bilang Tama tidak mau sama anaknya Alina iti, ehhh... mama ngak nyangka kalau mereka itu kasar banget, huuu... untungnya Tama nolak dia sama Alina, klau ngak mama ngak ngebayangin bagaimana rumah tangga Tama." ujar Tante Tania penuh sesal.
"Makanya apa apa itu di omongin, jangan ngambil pendapat sendiri kaya gitu, ujung ujung ngak enakan, sama anak marahan, sama, sama teman hubungan jadi rusak." nasehat sang suami.
"Ihhh... biarin deh ngak temanan sama dia, orangnya begitu, mama baru tau, kirain orangnya beneran baik ternyata rubah licik." cibik Tante Tania.
"Trus gimana masalah Tama, kamu mau datang apa ngak?" tanya sang suami.
__ADS_1
"Datang lah, masa ngak, mama mau beli seserahan dulu deh, biar besok tinggal berangkat, yuk pah temanin mama." ajak Tante Tania.
"Ya sudah yuk, mumpung papa juga lagi senggang, dan jangan lupa telpon Tomy sama Lisa." ujar sang suami.
"Iya..."
Tama sudah sampai di desa sekar wangi, dan dia lansung mandi dan merapikan barang barang bawaannya, setelah itu dia pergi kerumah Nek Imah.
Namun dia mendengar perdebatan antara Refandi dengan seorang wanita di rumah itu.
"Ya suka suka saya lah, secara rumah itu sudah saya beli dari Bi Siti, mau saya jual atau saya huni tersaya, sudah hak milik saya." ujar Refandi.
"Ngak bisa gitu dong, itu rumah punya suami saya, saya yang berhak memilikinya." pekik wanita itu dengan tantang.
"Tapi kan suami saya yang sudah merenovasi rumah itu, jadi saya itu kan uang suami saya, jadi balikin saja uang suami saya yang sudah di pakai untuk merenovasi rumah itu." ujar perempuan itu pongah.
"Heiii... narkonah, wajar rumah itu di renovasi sama laki kamu, secara waktu itu mereka suami istri, dan rumah itu di renovasi puluhan tahun lalu, kamu belum menjadi siapa siapa suami kamu, dasar ulat bulu, sudah menggatal sama laki orang, sekarang mau merampas hak anaknya pula, katanya perempuan berpendidikan, nyatanya, kau lebih rendahan dari bi siti yang kau bilang ngak selevel sama kau itu." ejek Refandi pedas.
"Haiii... jangan hina menantu saya, emang nyatanya dia berpendidikan tinggi, buktinya dia kerja di kantoran, cantik pula, pintar berdandan, ngak sama sama si miskin itu." sinis mantan mertua Bi Siti.
"Wajar bi Siti bulug ngak terawat, karena dia panas panasan untuk mencari nafkah untuk anaknya, karena dia ngak mendapat nafkah dari suaminya, karena suaminya lembek, mau mau aja menelantarkan anak istri, gara gara takut dengan ucapan sesat ibunya, sebentar lagi pasti karma datang menghampiri orang orang zolim itu, dan kalian yakin bi Siti ngak bisa berubah, mau lihat dia yang sekarang." ujar Refandi, kebetulan dia mendapat kiriman foto dari Ana saat mereka keluar dari salon.
Bi siti dengan model rambut baru dan habis di ceambath, memakai celana jeans biru dan kaos putih polos, walau kulit belum banyak perubahan namun sudah terlihat bersih dari biasanya, memang Bi siti terlihat lebih muda, mungkin dengan pakaian yang bagus dan juga habis perawatan, membuat ke dua wanita itu melotot melihat wajah bi Siti terlihat yang cantik dan juga cara berpakainnya.
__ADS_1
"Bagaimana? ini baru beberapa hari loh mereka di sana, belum ada sebulan dua bulan, bahkan tahunan, pasti Bi Siti jauh lebih cantik dari ini, dan kau pasti akan kalah dari Bi Siti, dan saya yang akan memastikan Bi Siti untuk mendapatkan laki laki baik hati menjadi suami Bi Siti dan sekaligus Ayah sambung yang baik untuk Ana, dan itu membuat kalian semakin eeepanas... panas..." ujar Refandi sambil bernyanyi panas panas.
"Kurang ajar perempuan ini, bisa bisanya dia kabur membawa uang laki gue, dan foya foya di sana, awas kau sialan, pasti gue bakal nemuin loe." gumam pelakor itu tidak terima.
"Panas ya, sebel ya, iri ya hehehe... emang enak, sudah sana pulang, menggangu saja kalian ini, satu lagi, jangan pernah datang lagi ke sini, kalau datang lagi, saya pastikan kalian di lempari tai bebek sama warga." ancam Refandi.
Ke dua wanita itu keluar dari rumah Nek Imah dengan perasaan kesal, sudah tidak mendapatkan uang yang mereka harapkan, di tambah lagi melihat perubahan bi Siti, membuat ulat bulu itu, was was takut sang suami kembali berpaling kepada wanita yang sudah menjadi mantannya itu, maklum dia perawan tua yang tidak laku di kampung itu, bukan karena tidak cantik, namun karena sifat sombong dan serakahnya itu membuat orang tidak mau sama dia.
"Ngapain lu bang, mak mak di ajak ribut." kekeh Tama.
"Sialan lu, adek durjana, sudah tau kau dari tadi nguping, pura pura nanya lagi." sengus Refandi.
Tama terkekeh melihat wajah kesal abang iparnya itu.
"Kamu bawa apaan itu?" tanya Tama melihat bungkusan di tangan Tama.
"Oo.... ini mainan buat si kembar." jawab Tama, memberikan mainan.
"Kak gue mau ngomong sam lu juga Malika." ujar Tama.
"Ya sudah, yuk ke kamar." ajak Refandi.
Di dalam kamar Tama menyampaikan niat baiknya yang ingin melamar Miranda dan juga akan menikah sebulan ke mudian, dan dia juga bercerita tentang mamanya yang ingin menjodohkan dia dan Alina.
__ADS_1