
"Kamu kenapa yang, ketawa ketawa sendiri, bikin mas merinding ih..." ucap Refandi melihat tingkah sang istri lain dari yang lain, kali ini.
"Isss... mas apaan sih.." sewot Malika, mencubit kecil paha sang suami.
"Aduh.. sakit tau." keluh Refandi.
"Abis mas, ngeselin ngatain aku." cibik Malika.
"Lagian kamu aneh, duduk sendiri, terus cekikikan sendiri, kan bikin mas takut." aku Refandi.
"Mas lihat ini deh." kekeh Malika, melihatkan vidio yang di kirim oleh Tama.
"Hahaha.... ya ampun Ana ngak ada di kembar yang mau dia usilin, maknya di jadiin kelinci percobaan." ujar Refandi yang belum berhenti dari tawanya, sampai air mata keluar dari sudut matanya.
"Kata kak Tama, dia mau buktiin ke bapaknya, klau ibunya bisa cantik dan bisa laku lagi, ibunya ngak nyesal cerai sama bapaknya, karena tanpa bapaknya mereka akan baik baik aja, dia ingin bapaknya yang menyesal telah menceraikan ibunya." ujar Malika.
"Ya Allah Ana sampai segitunya ya membela ibunya, semoga dia bisa berhasil suatu hari nanti, kita sekolahan Ana sampai perguruan tinggi, mau ambil jurusan apa terserah, mau jadi dokter hayu, mau kuliah bisnis silahkan, ada perusahaan mas yang akan menampungnya, klau dokter, nanti kita bukain dia klinik di sini, biar menganga mata bapak sama keluarga bapaknya melihat anak yang mereka sia siakan berhasil dalam karirnya, mas juga setuju Bu Lastri itu di permak habis habisan sama Ana, umurnya juga ngak tua kok, masih muda dia itu, nasibnya saja yang jelek." ujar Tama.
"Haa.. mas serius mau bukain klinik buat Ana!" pekik Malika.
"Hmmm... lagian di sini belum ada tempat ke sehatan yang memadai, kita bisa saja join sama dia nanti, kita yang modalin dia yang jalanin, dan kasihan orang orang kampung di sini klau berobat sangat jauh." ujar Refandi yang memang sudah melihat kondisi kampung tersebut.
"Aaakkk... mas baik banget deh, makin cinta aku." pekik Malika lansung naik ke pangkuan Refandi, membuat Refandi ikut terkekeh dan ke senangan, yang di bantu siapa dan yang di senang siapa, namun dia dapat keuntungan Malika makin luluh sama dia.
"Jadi pengenkan, klau kamu duduk di sini." bisik Refandi karena si joni ketindihan sama pantat empuk Malika, lansung bereaksi.
__ADS_1
"Isss... suami mesum." kesal Malika, memekul dada bidang Refandi.
"Biarin mesum, klau ngak mesum ngak jadi itu si kembar." kekeh Refandi malah memindahkan sang istri ke kasur lantar dan dia mengunci pintu kamar, dan terjadi lah sesuatu yang bikin enak.
Sementara di lain tempat, Ana dan Bu Siti di buat terperangah oleh Tama, karena Tama memborong banyak pakaian buat Bu Siti dan juga Ana, tidak lupa berbagai skin care yang di beli oleh Tama, tentu saja atas tuntunan Malika dia membeli semua itu.
"Astaga, Tama kamu ini kenapa kamu banyak banget beli ini." kaget Bu Siti, melihat apa yang di beli Tama itu.
"Iya kak, kamu kan habis membelikan pakaian sekolah ku, sekarang beli ini lagi, kamu jadi tidak enak hati." ujar Ana.
"Ngak pa apa, kan katanya mau cantik, jadi ini kakak belikan, tinggal kamu praktekin cara pakainya, sebentar lagi mau masuk sekolah, kan jadi ngak hitam hitam amat." kekeh Tama meledek Ana.
"Isss... Kak Tama nguping ya?" sewot Ana mencibikan bibirnya.
"Ngak kok, siapa suruh ngomong kencang kencang, kakak kan jadi dengar, sudah bawa sana masuk, kakak mau pulang, besok kakak juga lansung pulang ke desa ya, trus ini ada titipan buat kamu dan ibumu, kamu pakai aja dan pinnya tgl lahir kamu, tadi kakak bikin ATM buat kamu, biar gampang Malika, bang Refan atau kakak transfer uang." ujar Tama enteng.
"Ngak pa apa bi, lagian klau ngak pake ini, mana bisa kami akan Transfer, kami belum tentu setiap bulan ke sini, jadi ambil aja, itu jangan di pikirkan, Ana harus belajar yang benar, dan klau ada pelajaran yang merasa berat, Malika suruh kamu les, biar nilainya bagus, nanti pas saat mau kuliah kamu bisa dapat jurusan yang kamu mau, pergunakan yang di dalam sini, ingat. tidak ada yang kerja di lur rumah ini, baik bi Siti, mau pun Ana, cukup tunggu kami transfer aja, jangan sungkan, karena kalian sudah kami anggap keluarga," ujar Tama.
"Makasih kak." ujar Ana dengan mata yang berkaca kaca, dia ngak menyangka hidupnya berubah setelah pergi dari kampungnya.
"Makasih ya Tama, tolong bilang sama Malika dan refandi, ucapan terimakasih kami." ujar Bu Siti dengan tulus.
"Iya bi, ya sudah kunci pintu dulu, paling security yang kalian minta, kerjanya cuma malam hari doanh ya, ngak pa apa kan?" tanya Tama lagi.
"Ngak pa apa kok." ujar Bu Siti.
__ADS_1
Setelah pembicaraan itu, Tama lansung pulang ke rumah orang tuanya, dan besok hari kembali ke kampung memulai misinya.
"Ya allah nak, ibu ngak nyangka klau kita akan ketemu orang baik kaya mereka." ujar Bu Siti menangis haru memeluk anaknya.
"Iya bu, aku apa lagi, Ana pikir kita di jakarta akan hidup luntang lantung, karena kita belum tau wilayahnya, tapi semua tidak terjadi, malah kita tinggal di rumah mewah, dan hidup semua serba di cukupi." ujar Ana serak.
"Ibu akan mengabdikan diri buat keluarga baik ini selamanya nak."
"Ana juga bu, anak ngak bisa melupakan jasa jasa orang orang baik ini, semoga hidup mereka selalu bahagia ya bu, rumah tangga mereka langgeng tanpa ada orang ke tiga," ujar Anak.
"Iya, kamu sekolah yang rajin, dan ingat jangan pacar paran dulu, berikan nilai terbaik kamu sama Malika biar dia senang, dan apa yang dia berikan tidak sia sia." ujar sang ibu.
"Iya bu, Ana akan melakukannya, dan Ana ngak akan pacar pacaran dulu, klau ngak khilaf." kekeh Ana.
"Isss... kau ini." bu Siti memukul gemes pantat anaknya itu.
"Sakit bu." cibik Ana.
"Lagian kamu klau ngomong sembarangan." sewot Bu Siti.
"Hehehe... canda bu." kekeh Ana.
"Sudah yo, beresin semua ini." ajak bu siti.
Mereka lansung membereskan apa yang di bawa oleh Tama tadi, dan juga menatanya di lemari masing masing, dan setelah itu Ana dan Bu Siti membuat sarapan untuk mereka berdua, kini mereka bingung mau masak apa, karena terlalu banyak persedian di dalam kulkas, klau dulu bingung mau makan apa karena tidak ada yang mau di makan, sungguh hidup mereka bagai membalikan telapak tangan di buat oleh Malika dan Tama.
__ADS_1
Bersambung....