
"Ana kamu makin cantik aja Nak," Nek Imah, menatap wajah Ana tanpa bosan, wajah yang dulu hitam, baju yang apa adanya, dan kini lihat anak remaja itu, baru beberapa bulan tinggal di kota, sudah banyak perubahan, bahkan berat badan dan juga tinggi Ana pun bertambah.
"Hehehe.... di balik cantiknya Ana dan Ibu pasti ada sponsor yang baik hati Nek, yang membiayai semua keperluan Ana, tanpa mereka mana mungkin Ana dan ibu bisa seperti ini Nek." kekeh Ana memang apa adanya.
Nek Imah tersenyum mendengar ucapan Ana tersebut.
"Bagaimana sekolah di kota Na?" tanya Nek Imah lagi.
"Enak banget Nek, yang pasti lebih maju dari di kampung, walau di kampung juga ngak kalah bagusnya, dan sebenarnya di mana pun kita bersekolah sama aja, asal kita bisa mengikuti, namun balik lagi, karena di kota kan lebih canggih Nek, sekolah jarang memakai buku, yang di bawa laptop Nek, awal awal Ana juga sedikit gamang, dan untungnya di sini sedikit sedikit kak Malika sudah mengajarkan yang dasar dasarnya, jadi Ana ngak terlalu susah." jawab Ana.
"Betah ngak di sana nak?" tanya nek Imah lagi.
"Betah banget malah Nek, rumah bang Refandi gede banget Nek, dapurnya keren nek, mana di sana sudah di sediain semua makanan buat Ana sama ibu, di tambah ngak ada yanh ngusik hidup kami nek, walau sepi sih Nek, rumah besar penghuni hanya kami saja, dan Ana suka rindu sama si kembar." kekeh Ana.
"Siti... Ini beneran kamu?" tanya Bu Rt dan beberapa tengga lainnya yang tidak jauh dari rumah Nek Imah.
__ADS_1
"Iya iya lah, ini aku. Emang siapa lagi?" cibik Siti.
"Ya ampun Ti.... kamu cantik banget, kembali kaya masa muda dulu, mana cantikan sekarang lagi, lihat deh, kulit kinclong, body bohay, bikin laki laki klepek klepek kamu Ti, jangan kan laki laki, kamu perempuan saja sampai ngiler ngeliat kamu." pekik sahabat Bu Siti.
"Ihhh... bisa aja kamu Imah, bikin aku melayang aja." kekeh Bu Siti dengan malu malu.
"Manta laki kamu klau lihat kamu, pasti nyesal deh udah cerai sama kamu, dan Lilis tau kamu secantik ini pasti dia lansung kejang kejang." kekeh Lastri.
"Kalian ada ada aja deh, mana ada begitu." kekeh Bu Siti.
"Yeee... kamu ngak tau aja, waktu Ana posting foto kamu aja, si Lilis sudah kaya permenkaret yang sudah habis manisnya, nempelin si Kardus kemana dia pergi." kekeh Lastri.
"Kamu benar Siti, ngapain mikirin orang yang tidak perduli sama kita, dia aja bisa senang senang di luar sana, tanpa mikirin perasaan kita dan anak kita, hempaskan saja orang seperti itu, syukur syukur setelah ini kamu dapat jodoh yang lebih baik, dan menyayangi Ana seperti anak sendiri." ujar Bu Rt dan di Aamiinin oleh semua orang di sana.
Esok hari Miranda sudah terlihat sangat cantik dengan kebaya modern, dia gugup setengah mati, menahan deg degan di dadang.
__ADS_1
"Kak, wajahnya kok tegang amat sih, santai dong, nanti di pikir kak Tama salah nikahin orang lagi, di pikir dia nikah sama patung, kalau muka tegang kaya gitu." goda Ana melihat wajah Miranda yang sangat tegang, bahkan bernafas saja dia susah.
Puk....
Kamu ini, suka sekali menggoda orang, deg degan tau ngak." omel Miranda.
"Deg degan sama ijab kabul, apa deg degan sama malam pertama." goda Ana lagi.
"Ihsss... bocah ini kenapa semakin ngeselin sih," omel Miranda.
Tanpa terasa karena bayolan Ana tersebut, di luar sana Tama sudah berhasil melakukan ijab kabul, kerena mereka yang di dalam kamar pengantin itu asik mendengar candaan Ana kepada Miranda, dan juga fokus dengan wajah manis Ana yang tidak kaleng kaleng itu.
"Cieee... selamat ya kak, sekarang sudah menjadi istri orang, semoga rumah tangga kakak samawa." Do'a Ana dengan tulus kepada Miranda.
"Makasih," ujar Miranda semakin gugup.
__ADS_1
"Ayo kita keluar." Ajak Ana.
Bersambung...