
"Mas, kamu kemana aja akhir akhir ini kamu pergi pagi pagi sekali, dan pulang malam malam terus." kesal Lilis melihat suaminya yang baru pulang itu, sungguh dia kesal semua orang kini sekarang selalu mencibir dirinya, sehingga Lilis yang biasanya keluyuran terpaksa diam di rumah, dari pada harus mendengar ejekan terhadap dirinya.
"Apa apaan sih kamu. Marah marah ngak jelas saja, saya capek jangan banyak tingkah deh." kesal Kardi meninggalkan Lilis di ruang tamu itu, masa bodo bagi dirinya, mau pergi ya pergi aja, mau minta cerai dengan senang hati kardi lepas, bagi Kardi Lilis bukan siapa siapa, karena Lilis dia harus kehilangan anak istrinya.
"Apa kau masih mencintai perempuan buluk itu mas, ingat dia itu sudah punya calon suami, dia juga menjual rumahnya, tanpa memberi kamu uang sepersen pun, dan ingat juga kamu sudah punya istri, tidak sepantasnya kamu memikirkan wanita lain." pekik Lilis.
Seketika Kardi menghentikan langkahnya, dan mengurungkan niatnya masuk kamar.
"Klau iya saya memikirkan wanita lain emang kenapa? apa urusan mu, mau Siti menjual rumahnya, itu hak dia, apa urusanmu, kau saja yang serakah, dan ngak usah sok sok merasa tersakiti kerena saya mikirin wanita lain, bukanya kamu juga yang merebut suami wanita lain, sekarang rasakan sakit yang pernah di rasakan oleh istri dan anak saya dulu, dan ingat satu hal, saya menikah dengan kamu hanya sebatas di atas kertas saja, dan itu juga di paksa, di luar itu semua kau bukan siapa siapa saya, jangan pernah larang larang saya, mau bertahan atau tidak terserah kau, dan jangan pernah berharap saya akan menjadi suami kau seutuhnya, bukannya kau sudah puas jadi istri saya, dan jangan menuntut banyak hal sama saya, karena bagi saya, kau bukan siapa siapa, satu satunya wanita yang saya cintai hanya Siti, tidak ada yang lain, atau suatu saat nanti hati saya terbuka lagi untuk wanita, saya pastikan itu bukan kau!" ucap Kardi dengan menatap nyalang Lilis, dan gerahamnya mengetat, setelah itu Kardi lansung berbalik masuk ke kamar biasa dia tempati di rumah itu, cuma kamar dia seorang, bukan bersama Lilis, semenjak menikah Kardi tidak pernah mau tidur bersama Lilis, baginya istrinya cuma satu yaitu Siti.
Air mata Lilis lansung luruh, tidak menyangka Kardi bisa berkata kasar kepadanya, selama ini Kardi tidak pernah mengeluarkan suara sama sekali, walau dia mengomel seperti ap pun, dan semenjak hari itu, dimana pertemuan mereka dengan Siti, Kardi mulai berubah kepadanya.
"Aakkkggg... Siapa kau Siti, ini semua gara gara kau, kenapa kau kembali ke kampung ini, kenapa ngak mati aja kau sekalian di luar sana." pekik Lilis tidak terima.
"Jangan pernah nyumpahin orang baik, ngak akan berlaku juga sumpah loe itu, karena loe yang salah di sini, yang menghancurkan rumah tangga abang gue, selama ini kan loe yang menghasut ibu gue membenci menantu dan cucunya, dan loe berhasil untuk itu, dan loe juga berhasil memaksa abang gue menikahi loe, membuat kakak ipar gue minta pisah sama abang gue, sekarang loe sudah jadi satu satunya istri abang gue, senang ngak loe. Tentu saja ngak, karena loe di mata abang gue hanya manusia kasat mata, tidak terlihat sama sekali, nikmati saja peran loe sebagai istri tak di aku." cibir Indah, dia datang saat kakaknya baru masuk ke dalam rumah, lansung di ajak ribut oleh Lilis, dia tidak ingin melerainya, dia puas melihat Lilis mati kutu di depan abangnya, dia sangat benci sama Lilis karena membuat hidup abangnya yang dulu ceria menjadi suram, di tambah sejak kepergian mantan kakak ipar dan keponaknnya itu, abangnya semakin stres, setelah melihat Ana dan Siti kemaren hari hari abanya mulai membaik, tentu saja Indah ikut senang, dia akan menjadi pembela abangnya di depan Lilis dan Ibunya, tidak akan dia biarkan abangnya itu kembali tersakiti.
"Diam kau anak kecil, kau ngerti apa!" bentak Lilis, sakit hati sama suaminya belum selesai, sekang Indah malah ikut membuat dia sakit hati.
"Hahaha... gue anak kecil yang bisa buat anak kecil keles, apa loe bilang gue ngerti apa, gue sangat ngerti siapa loe, perawan tua, perebut laki orang, yang serakah, sok istri paling di sayang, nyatanya nikah sudah bertahun tahun tetap perawan hahahaha...., ngomong ke orang orang di luar sana, abang gue perkasa, lembut, enak di ajak skidipapap, ehhh.... ternyata itu hanya bohong, eh tapi apa yang loe bilang nyata sih, abang gue emang perkasa, saat skidipapap sama Kak Siti, Ana lansung jadi, itu menandakan abang gue perkasa, tapi si Joni milik abang gue cuma mau sama sangkar burung kak Siti, klau sangkar burung loe mah dia ngak mau, jijik dia." ejek Indah.
"Akk.... siapa kau Indah." pekik Lilis, tidak terima di hina oleh adik iparnya itu, tangannya sudah naik, ingin menjambak rambut Indah.
__ADS_1
"Apa apaan kau mau nyakitin adik gue." bentak seseorang dari belakang Indah.
"Kakak." panggil Indah melihat kakak pertamanya datang.
"Apa adiknya kakak." ujar Eka yang baru datang bersama suaminya.
Lilis lansung menciut melihat Eka, Eka dari dulu lebih tidak menyukai Lilis, karena membuat rumah tangga adiknya hancur, berhasil membujuk rayu sang ibu, membuat dia meradang, karena itu dia menjauh dari keponakan dan juga adik iparnya, dia sangat malu, Eka memilih tinggal di desa yang berbeda bersama sang suami, karena tidak suka dengan kelakuan ibunya yang selalu membela si perawantua itu.
"Kenapa kau mau memukul adek gue perawan tua." bentak Eka.
"Dia yang salah kak, ngak bisa menghargai saya, dia menghina saya, saya kesal makanya marah." ujar Lilis.
"Emang apa yang bisa di hargai adik gue sama loe, semua yang di ucapkan adek gue itu emang benarkan, loe pelakor, loe merebut Ayah dari anaknya, trus loe emang masih perawankan, lalu salahnya dimana? Kardi emang perkasa, buktinya Ana sekali tancap gas lansung jadi, dan Si Joni nya Kardi ngak idup sama loe juga benarkan, trus masalahnya dimana?" cibir Eka, suami Eka hanya mesem mesem mendengar celotehan sang istri.
"Sudah tinggalin aja dia, panggil abang gih, kita makan, tadi kakak beli ayam bakar kesukaan dia." ujar Eka, Lilis benar benar tidak di anggap sama orang orang di rumah itu.
"Ok kak, siap." ujar Ana, berlari ke kamar sang abang.
"Wiiihhh... mantab ini." ucap Kardi berbinar.
Indah, Eka dan suaminya, senang melihat abangnya sudah kembali seperti semula.
__ADS_1
"Kamu senang lihat abang yang kaya gini." ujar Eka.
"Apa yang buat abang bahagia, udah punya pengganti kak Siti." kekeh Indah.
"Ngaco kau. Siti tidak akan pernah tergantikan di sini." jawab Kardi memegang dadang.
"Tapi abang ngak bisa membahagiakan dia, abang terlalu pengecut," ujar Kardi lagi dengan wajah sendu.
"Tapi kini abang sama dia dan Ana hubungan kami sudah membaik, abang minta maaf sama mereka, dan abang sudah ikhlas jodoh abang mungkin sampai di sini sama Siti, tapi sebagai orang tua bagi Ana kami tetap bersama walau status sudah beda, dan Ana juga bisa abang tlp bila abang rindu dia, kalian tau, sekarang klau ngak Ana yang telpon kadang abang yang telpon duluan, klau telpon lama abang angkat, anak itu pasti mengoceh." ujar Kardi berkaca kaca, memberitahu hubungan dia sudah membaik dengan mantan istri dan anaknya.
"Haaa... syukur lah, kami juga senang mendengarnya, kami sebagai tante sudah tidak ada muka lagi ingin menegur mereka," keluh Eka
"Iya, gara gara sundel bolong ngak laku itu, aku suka menghindar klau ketemu kak Siti atau Ana." keluh Indah.
"Sudah sudah, ayo makan, lapar nih." ujar suami Eka yang tidak ingin melihat momen haru biru lagi.
"Ahhh... iya, jadi lupa."
Mereka makan dengan penuh senda gurau, melupakan seseorang yang mengintip kebahagian mereka dari balik pintu.
"Sial, apa sih kelebihan si buluk itu, sampai sampai mereka begitu kompak membenci gue." kesal Lilis.
__ADS_1
Bersambung.