Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 41


__ADS_3

"Sayang. Ini makan lah" ujar Refandi menyuruh sang istri memakan burger yang dia beli.


"Mas sudah lapar ya? kenapa ngak makan aja duluan" ujar Malika tidak enak hati.


"Mana mungkin mas makan sendiri, sementara istri mas juga kelaparan" ujar Refandi mengelus kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Aaa... Aku makin cinta sama mas" ujar Malika tanpa sadar berhabur kedalam pelukan sang suami.


Refandi tersenyum mesem mesem mendengar ucapan cinta dari sayang istri, membahagiakan istrinya tidak perlu dengan barang mewah, cukup dengan perhatian kecil sudah membuat hati sang istri bahagia.


"Tadi ngomong apa? mas ngak denger loh, bisa di ulang ngak?!" pinta Refandi.


"Ngak ngomong apa apa." ujar Malika malu, di lansung melepas pelukannya, wajahnya sudah berubah bak kepiting rebus, bisa bisanya dia mengungkapkan rasa cinta kepada sang suami, "aahh.... seperti abg bucin saja." Gerutu Malika dalam hati.


Refandi terkekeh melihat wajah merah mudah sang istri, wajah seperti ini yang selalu menjadi candu baginya. Istri cantiknya itu susah sekali mengucapkan kata kata cinta, kata kata keramat itu akan terucap apa bila mendapatkan kejutan, baru lah secara spontan keluar dari mulut sang istri.


"Ayo makan, nanti takut dingin" ujar Refandi, menyiapkan burger ke mulut sang istri.


"Mas makan aja, aku makan sendiri aja, mas kan katanya lapar" ujar Malika mengambil burger dari tangan sang istri.


"Baik lah sayang" ujar Refandi yang memang perutnya sudah keroncongan dari tadi.


"Kita mau makan besar di mana?" tanya membelah jalan menuju pasar malam.


"Klau kulineran di pasar malam mau ngak, di sana banyak makanan enak enak. Tapi,,, ya di sana di kaki lima" ujar Malika takut sang suami tidak mau.


"Baik lah, mas juga ingin merasakan jajanan kaki lima" ujar Refandi dengan semangat, selain memenuhi permintaan sang istri, namun dia juga ingin merasakan makanan kaki lima itu.


"Mas yakin?" tanya Malika, yang merasa agak tidak yakin, biasanya suaminya itu, suka pesan makanan restoran.

__ADS_1


"Yakin. Dong...!" ujar Refandi melajukan mobil dengan perlahan, meninggalkan mall tersebut


"Pakai jaketnya sayang, cuacanya ngak bagus" ujar Refandi memasangkan jaket ketubuh sang istri.


"Mau jajan dulu, apa mau main dulu?" tanya Malika takut suaminya itu masih lapar.


"Jajan dulu yuk, kayanya pada enak enak deh" ujar Refandi melihat berbagai macam makanan berjejer di pasar malam tersebut.


Refandi benar benar khilaf memesan berbagai macam makanan di sana.


Mulai dari sate padang, siomay, cilor, bakso bakar, telur gulung, pokonya setiap makanan yang menurutnya aneh namun menggiurkan lansung di beli tanpa pikir panjang. Al hasil Malika tidak memesan apa pun, karena banyaknya makanan yang sudah di pesan oleh sang suami, membuat Malika menelan ludah kasar.


"Sudah ya mas, ini sudah banyak loh,gimana cara makannya coba, nanti mubazir loh, besok besok kan bisa jajan ke sini lagi" ujar Malika yang tidak habis pikir dengan kelakuan sang suami, emang dia bisa menghabiskan semua makanan itu, untuk lah dia tidak memasang apa pun.


"Hehehe.... Mas kalap sayang, baru kali ini mas melihat jajanan kaya gini, kayanya semuanya enak" kekeh Refandi mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan makanan.


"Ya sudah kita duduk di sana" ajak Malika ke kursi taman yang masih kosong.


"Mmm... Ini enak" ujar Refandi yang memakan telur gulung.


"Ya ampun kenapa mas baru tau ada makanan seenak ini" ujar Refandi lagi dan lagi memuji makanan yang dia makan.


"Makanya mas, jangan dikit dikit di restoran mulu makanya, jadi mas ngak tau ada makanan makanan enak di luar sana, murah pula, tidak menguras kantong, perut kenyang" ujar Malika.


"Iya iya sayang, nanti kita kulineran lagi ya, kenalin mas makanan enak enak lagi" semangat Refandi.


Malika hanya mengangguk menyetujui sang suami.


"Ayo mas, aku pengen naik bianglala" ujar Malika.

__ADS_1


Refandi mengikuti keinginan sang istri. Mereka mengantri di loket penjualan tiket bianglala.


"Sayang, apa memang harus mengantri kaya gini?" ujar Refandi yang memang tidak pernah merasakan antrian seperti itu.


"Emang seperti ini, memang mau seperti apa?" tanya Malika.


Refandi hanya menyengir, dan menggelengkan kepala.


Setelah mendapatkan tiket, mereka menaiki bianglala, Refandi lebih bersemangat dari Malika, dia tidak pernah melakukan hal hal seperti ini selama hidupnya.


"Waahhhhh..... ini indah sekali sayang" ujar Refandi menatap takjub pemandangan di malam hari, dari atas bianglala, sungguh dia menyesal baru mengenal tempat seperti ini, sepertinya dia akan ketagihan melakukan hal hal seperti ini bersama sang istri.


Tidak hanya sampai di situ, Malika mengajak Refandi main japit boneka, lempar gelang, banyak lagi yang lainnya, Refandi sungguh bahagia menikmati malam ini.


"Sudah capek?" tanya Malika, yang seharusnya Refandi yang bertanya seperti itu, ini malah Malika yang bertanya, karena Refandi yang lebih bersemangat melakukan hal di pasar malam itu, sampai sampai dia kelelahan, sudah seperti anak kecil.


"Hehehe...." kekeh Refandi sambil meletakan kepalanya di paha sang istri, dia tiduran di rumput taman, melepaskan lelahnya.


"Sayang, mas sungguh senang malam ini" ujar Refandi, sambil melihat mata teduh sang istri, "mas berharap kita bisa melakukan hal hal seperti ini nantinya bersama anak anak kita" ujar Refandi membelai wajah sang istri.


Menyebut anak anak, wajah Malika lansung merona, dan hatinya juga bahagia, karena sang suami menginginkan keturunan dari dalam rahimnya.


"Kamu mau kan?" tanya Refandi lagi, karena istrinya itu hanya diam, tidak menanggapi ucapnya.


"Tentu saja mau" ujar Malika malu malu.


"Ok, klau gitu, kita pulang sekarang, kita harus bikin lebih bersemangat lagi" ujar Refandi, bangkit dari tidurnya, lalu berdiri mengajak sang istri segera pulang.


"Haaa...." Malika ternganga melihat tingkah sang suami.

__ADS_1


__ADS_2