Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 71


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Tama tetap tinggal kampung p


tersebut, dia sengaja menyewa rumah persis di depan rumah Nek Imah, dia tidak ingin meninggalkan adiknya di desa itu sendirian, apa lagi saat ini kehamilan Malika sudah besar, dia ingin menjadi orang pertama yang berada di samping Malika.


Malika pun, tidak mempermasalahkan keberadaan Tama, dia tau sang kakak mencemaskan dirinya,walau hati Malika belum sepenuhnya sembuh, namun apa salahnya dia memaafkan Tama, toh memang Tama yang selalu ada selama ini untuknya, di saat saat orang mulai tidak perduli dengannya, sesibuk apa pun dia, masih bisa menyempatkan waktu untuk Malika, bertanya mau makan apa, mau ini ngak, mau itu ngak, dan masih menyempatkan waktu untuk mengajak dia mengobrol, dan juga di saat itu, Tama pun tidak ada di rumah.


Tama tersenyum melihat sang adik yang menjadi guru les dadakan di kampung ini, pantas saja sang adik di sayang orang banyak, Malika tidak segan segan memberi ilmu untuk anak anak kampung ini.


Contohnya hari ini, Tama memperhatikan sang adik dari rumah kontrakannya, adiknya itu sedang mengajar beberapa anak anak di sana, dan tak jarang tertawa lepas dengan candaan yang di lontarkan anak anak di sana.


Dia bersyukur adiknya hidup bahagia di sini, walau jauh dari keluarga, dia tetap hidup baik baik saja.


"Kenapa kamu tertawa sendiri nak?" tanya Pak Agus, kepada Taman, si pemilik rumah kontrakan, yang tinggal di samping kontrakan Tama, dia tau Tama adalah kakak Malika.


"Ehhh... Bapak, itu. Saya lagi melihat adik saya." ujar Tama, yang kembali mengalihkan wajahnya melihat ke arah Malika di teras rumah Nek Imah.

__ADS_1


"Ooo... Nak Malika. Dia orang baik nak, selama dia tinggal di sini, banyak membawa perubahan di sekitar sini, dia mau mengajar anak anak sini, tanpa memungut biaya sedikit pun, mungkin dia tau kali ya, klau orang di kampung ini tidak mampu membayar biaya les anak anak mereka." ujar Pak Agus.


"Adik saya memang baik pak, cuma orang orang saja yang tidak tau diri, bagai kacang lupa kulitnya, saat susah adik saya yang merawatnya, saat sudah sembuh lupa akan janjinya kepada adik saya." gerutu Tama, kekesalannya kepada keluarga dan iparnya belum hilang.


Bahkan Tama mematikan sambungan telepon kepada keluarganya dan Refandi, dia tidak mau di teror telpon tiap detiknya, bukan berusaha mencari, malah mau instans, ingin tau dia berada di mana? oohhh.... Tama bukan orang sebaik itu, carilah dengan kemampuan sendiri, itu menunjukan ke sungguhan hati mereka, untuk menemukan adiknya.


"Klau boleh tau, sebenarnya kenapa nak Malika itu pergi dari rumah, dan tidak ingin pulang kerumahnya?" tanya Pak Agus.


"Uhhuuuff... Panjang ceritanya pak, klau saya ceritakan, akan memakan waktu yang lama." ujar Tama.


"Tidak masalah, bapak punya waktu senggang kok." ujar Pak Agus, dia penasaran sekali dengan kehidupan wanita hamil itu.


"Astaghfirullah.... kasian sekali nak Malika, orang baik dan ngak neko neko begitu banyak sekali ujian hidupnya." Gumam Pak Agus.


"Iya pak, saya juga kesal sendiri, kenapa saat itu saya ngak ada di rumah, klau tau akan terjadi seperti ini, saya rela kehilangan pekerjaan saya, namun apa daya saya, semua sudah terjadi." ujar Tama.

__ADS_1


"Tidak apa apa, klau bukan seperti itu, kami mungkin tidak akan mengenal nak Malika, dan anak anak kampung sini mungkin tidak akan mendapatkan guru les terbaik mereka, ambil semua menjadi hikmahnya nak." ujar pak Agus menepuk nepuk pelan bahu Tama.


"Benar pak, mungkin hikmah dari semua ini, saya bisa melihat adik saya tertawa lepas, dia bisa sebagian ini di luar rumahnya, dan saya lebih bersyukur banyak orang orang yang menyayanginya di luar sini." Angguk Tama membenarkan ucapan Pak Agus.


Sementara di kota yang berbeda, Refandi dan keluarga Tama di buat uring uringan, karena Tama sudah menon aktifkan nomornya untuk mereka, sebegutu marahnya dia kepada keluarganya, dan tidak mau di hubungi lagi.


Kata kata terakhir dari Tama sangat menyentil hatinya, " klau ingin bertemu Malika, temukan sendiri, dan tulus lah menyanyi Malika, tidak hanya kalian yang menginginkan Malika, masih banyak orang orang di luar sana menginginkan Malika, jika Malika senang di luar sana, jangan paksa dia untuk pulang, klau hanya akan kalian sakiti, biarkan dia bebas menjalani hidupnya, cukup akhiri penderitaan adiknya." sungguh Tama menjadi tameng terbesar untuk mereka saat ini.


"Bagaimana ini?" keluh Refandi.


"Apa kalian bodoh, atau dongo! bukan sudah jelas jelas, Tama bilang, temukan sendiri! itu artinya kalian sendiri yang du minta menemukan Malika, bukan orang suruhan kalian, itu aja ngak ngerti!" sinis Sandi, benar benar sudah muak dan kesal melihat ke dua laki laki di depan matanya ini, yang dari tadi tidak berhenti mengeluh, membuat dua kesal sendiri, dan ingin memukuli otak tumpul mereka, namun apa lah daya, dia begitu menyayangi ke dua laki laki itu, siapa lagi klau bukan Refandi dan Tomy.


"Haa... Iya iya, kami tau itu, tapi cari kemana? kami ngak tau dia berada dimana?" keluh Tomy.


"MAKANYA DI CARI, KLAU MALIAN TAU DIA BERADA DI MANA, ITU BUKAN CARI NAMANYA, TAPI MENYUSUL BODOHHHH...!!" bentak Sandi gregetan dengan ulah manusia di depannya ini.

__ADS_1


Bersambung....


Haiii... Rayders maaf dua hari ngak bisa up, karena banyaknya urusan Outhor di dunia nyata, semalam mau up malah ketiduran, jadi ini pagi lansung ngubek ngubek dunia Maya, semoga kalian tidak marah, dan selalu sabar menunggu up nya outhor ya😁😁😁🙏🙏🙏


__ADS_2