
Hari yang di nanti nanti oleh Tama datang juga, dia akan melansungkan pernikahan esok hari di desa sekarwangi, dia tidak mau mengadakan pesta di kota, dia lebih memilih mangadakan di desa ini, karena dia ingin orang orang desa itu bisa merasakan hari bahagia dia, dan pesta mewah, Tama tidak mau menerima amplop dari masyarakat sana, dan sengaja memesan makanan yang enak enak, agar masyarakat kampung itu bisa makan sepuasnya.
Bu Siti dan Ana tentu saja akan datang ke kampung mereka, karena permintaan Tama yang membuat orang terbakar cemburu itu, dia sengaja juga memodali bu Siti dan Ana perawatan diri dan membelikan baju baju bagus saat pulang kampung, tidak mungkin Ana dan Bu Siti tidak bertemu dengan mantan suami juga mantan mertuanya.
Di lain tempat Anak Bi Siti dan juga Mang Karyo berangkat ke desa sekarwangi pagi pagi sekali, biar nanti sampai di kampungnya tidak terlalu sore.
"Mang, mamang ngak ngajak anak istrinya, kok pergi sendiri aja sih, kan di suruh ajak keluarganya, sama kak Malika." tutur Ana, yang heran dengan mang karyo, apa laki laki ini sama saja seperti bapaknya, yang hanya mementingkan diri sendiri.
"Mau ajak siapa Ana, lah orang mamang masih sendiri, belum menikah, masak mau ajak istri dan anak orang, bisa di mutilasi mamang." kekeh Mang Karyo.
"Heee... Serius mamang lom nikah, padahal lebih tua dari ibu deh, kok mamang lom nikah sih, emang ngak mau punya anak yang lucu kaya aku." kekeh Ana.
"Ana..." desis Bu Siti, yang tidak enak hati dengan ucapan sang anak.
"Hehehe... Maaf mang" kekeh Ana sambil memberi dua jari membentuk huruf V
"Ngak pa apa Ana, maklum belum ketemu jodoh, siapa sih, yang ngak ingin punya anak, pasti punya lah, tapi jodoh ajan yang belum ada," kekeh Mang Karyo.
__ADS_1
"Iya mang, mau Ana jodohin ngak?" kekeh Ana.
"Boleh lah kenalan dulu, kali aja nyangkut." kekeh Mang Karyo, menimpali gurauan Ana.
"Emang layangan nyakut." kekeh Ana.
"Hehehe..."
Bu Siti hanya diam saja mendengar ocehan tak berfaedah dua orang itu, sesekali Mang Karyo melirik Kaca spion melihat wajah Bu Siti yang kelihatan terawat, pipi putih dan sedikit merona, karena di dandani tipis tipis oleh Ana.
"Hmmm... hmmm... lirik lirik aja mang, boleh kok kenalan, jadiin teman juga boleh mang, apa lagi di jadiin teman hidup, ikhlas banget Ana." kekeh gadis cantik itu.
"Cieee... yang lagi salah tingkah, buruan atuh di pepet, nanti di ambil orang lain baru nyesel." goda Ana.
Membuat Mang karyo melotot dengan ucapan Ana itu, namun buru buru menormalkan wajahnya.
Ana terkekeh melihat tingkah Mang karyo itu, Bu Siti mah cuek aja, dia tidak tau siapa yang di bicarakan oleh Ana dan Mang Karyo, dia malah asik menikmati pemandangan kota, yang jarang sekali dia lihat, sudah beberapa lama tinggal di kota, dia baru dua kali keluar dari rumah, itupun hanya di ajak ke supermarket sama Ana.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Miranda lagi menikmati perawatan salon yang di datangkan oleh Tama ke rumah Nak Imah, dan tentu saja tidak ketinggalan Malika yang ikut perawatan, selama melahirkan baru kali ini dia melakukan perawatan.
"Bu Siti sama Ana Jadi ke sini ngak Ka?" tanya Miranda.
"Jadi, lagi di perjalanan mereka." sahut Malika.
"Aku ngak ngebayangin apa yang akan di lakukan sama mantan suami dan lilis itu." ujar Miranda.
"Kau tenang saja, sudah ada yang bakal jadi tameng dia, kamu ngak usah khawatir " ujar Malika terkekeh, mengingat pembicaraan dirinya dengan Ana, memohon Mang Karyo ikut dengan mereka ke desa, sebelumnya tentu saja Ana sudah tau klau Mang karyo itu belum menikah dari Malika, namun dia pura pura tidak tau.
"Siapa..." kepo Miranda.
"Lihat saja nanti." kekeh Malika.
"Iih... ngak asik banget, main rahasia rahasiaan gitu." rajuk Miranda.
"Calon pengantin di larang ngambek, nanti jadi keriput wajahnya." goda Malika.
__ADS_1
"Ncek... nyebilin.
Bersambung....