
Yang meminta mampir ke swalayan adalah tante Tania, namun yang semangat membeli susu hamil adalah Refandi, dia begitu semangat membeli berbagai macam varian rasa dan juga merk susu ibu hamil, membuat Tante Tania geleng geleng kepala dengan kelakuan Refandi itu.
"Astaga.... Refan, apa yang kamu lakukan, kenapa begitu banyak susu yang kamu ambil" oceh Tante Tania, melihat troli Refandi hampir penuh dengan susu hamil.
"Biar Istriku, rajin minum susu tante, dan dia ngak bosan dengan rasanya, jadi aku ambil aja semuanya" ujar Polos Refandi.
"Ngak gitu juga Bambang, istri kamu itu cuma akan minum susu pagi dan sore malam hari, bukan setiap saat, ini di beli semua bakal mubazir Refan" omel Tante Tania.
"Hehehe... Aku ngak tau tante" ujar Refandi cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tarok lagi. Ambil beberapa dus saja, klau kurang nanti baru di beli lagi" titah Tante Tania, menyuruh Refandi kembali menata susu hamil itu ke atas rak susu.
Namun Malika melarangnya, dan menyuruh Refandi membayar di kasir.
"Kenapa malah di bawa semua sayang, nanti tante ngomel loh?" ujar Refandi.
"Ngak kok, mas lihat saja nanti" ucap Malika, menyuruh spg swalayan itu memasukan susu hamil itu beberapa kotak, ke dalam kantong terpisah, dengan beberapa makan dan buah yang sudah dia beli tadi.
Refandi hanya menatap bingung sang istri, namun dia membiarkan apa yang di kerjakan sang istri, tanpa bertanya sedikit pun.
"Sudah sayang?" tanya Tante Tania, yang juga membeli beberapa macam buah buahan, snack.
"Sudah..." jawab Malika singkat.
Mereka keluar dari dalam swalayan tersebut, namun Malika berbelok arah ke arah, seorang ibu hamil muda, yang berdiri di dekat swalayan tersebut sambil menatap ke dalam swalayan, dan melihat susu hamil dengan mata sendunya.
__ADS_1
"Haiii... Mbak..." tegur Malika.
"Haii... Juga Nona" ucap Ibu hamil itu dengan tergagap, karena kaget dengan ke dagangan Malika tersebut.
"Lagi ngapain di sini?" tanya Malika.
"Saya, lagi jualan Nona" ujar Ibu hamil itu menunjuk tissu dan masker di depannya.
"Suaminya kemana?" tanya Malika miris melihat wajah kuyu ibu hamil itu.
"Suami saya selingkuh Nona, saya hanya di anggap bebas sama keluarga suami saya, jadi saya di usir dari rumah suami saya" ucap Ibu hamil itu dengan suara serak menahan tangisnya.
"Ya Allah... Apa suami mbak ngak tau mbak lagi hamil" kaget Malika.
"Tau, Nona. Tapi... Dia tidak menginginkan saya dan anak saya, katanya, akan membuat hidupnya susah, karena saya tidak bisa bekerja dan hanya bisanya menghabiskan yang dia saja" tutur ibu hamil itu lagi.
"Tapi... Menurut mertua saya, saya tidak berhak, yang berhak itu hanya dia, yang sudah melahirkan suami saya, dan juga saudaranya, klau saya cuma orang lain yang tidak pantas untuk mendapatkan uang suami saya, karena saya cuma gadis miskin yang tidak mempunyai apa apa, tidak seperti selingkuhan suami saya, yang bekerja di perusahaan dengan gaji besar, di tambah dia cantik, dan sedang mengandung anak suami saya" lirih ibu hamil itu, Malika tafsir umur ibu muda itu tidak lah jauh dari umurnya.
"Astaga jahat banget, lalu mbaknya, ngak pulang kerumah orang tua mbak?" kepo Malik makin menjadi jadi.
"Saya yatim piatu mbak, mau balik ke panti asuhan, saya ngak enak, menyusahkan ibu panti, dan membuat dia kena teror mantan suami saya, dia ngancam saya, klau saya pulang ke panti asuhan, mereka akan memberhentikan donasi panti asuhan, dimana selama ini saya di besarkan Nona" ujar Ibu hamil itu berkaca kaca.
"Ya Allah, sadis banget suami mbak" ujar Malika ikut terharu.
"Sekarang Mbak tinggal dimana?" tanya Malika makin menjadi jadi.
__ADS_1
"Di kolong jembatan sana" tunjuk ibu hamil itu.
"Astaga, tempat itu pasti tidak bagus untuk mbak" ujar Malika lihat di sana bukanlah bagus untuk dia seorang wanita, apa lagi sedang hamil, sungguh hati Malika sedih melihat wanita hamil itu.
"Bagaimana klau mbak tinggal di kos kosan saja, dan buka usaha kecil kecilan, dari pada di sini panas panasan, dan tinggal di sana, tidak bagus untuk mbak" ujar Tante Tania ternyata ikut mendengar kan obrolan dua wanita hamil itu.
"Saya tidak punya uang, untuk menyewa rumah dan buka usaha bu, ini saja saya ambil di toko sana, nanti klau laku saya akan di beri upah" ujar Ibu hamil itu.
"Tidak usah pikirkan uang, kamu bisa tinggal di sana dan kami akan membantu membuka usaha untuk kamu" ujar Tante Tania.
"Ya Allah... Terimakasih bu. Terimakasih Nona, semoga Allah membalas kebaikan kalian berkali kali lipat" ujar Ibu hamil itu dengan tangis yang tidak bisa dia bendung, dan mencium cium telapak tangan Tante Tania berulang kali.
"Sudah, sekarang kamu kembalikan dagangan kamu itu, dan ambil barang barang kamu di kolong jembatan sana" ujar Tente Tania.
"B baik bu" ujar Ibu itu.
"Sebelumnya siapa nama kamu?" tanya Tante Rania.
"Nama saya, Lina Bu?!" ujarnya sopan.
"Baik, Lina, kenalkan saya Tania, ini keponakan saya, namanya Malika, dan itu suaminya Refandi" ujar tante Tania memperkenal kan diri.
"Iya bu, salam kenal" ujar Lina, menundukan kepala, sementara om Indra, tidak lah keluar dari mobil, dia sedang menelpon seseorang, untuk mencari sebuah rumah kontrakan, memang keluarga Malika itu sangat terkenal dengan suka menolong orang orang susah, ada yang bisa membalas budi, ada yang lupa, namun bagi mereka, setelah membantu orang, tidak perlu mengingatnya, cukup lah Tuhan yang akan membalasnya. Dan menolong sesama tidak lah perlu di sorot oleh media, cukup diam diam saja.
Dari sini Refandi belajar, ternyata di balik sikap dingin dan konyolnya keluarga sang istri, ternyata mereka adalah orang orang baik, yang suka menolong orang tanpa pandang bulu, itu yang di rasakan oleh Refandi terhadap sang istri. Malika merawatnya dengan ikhlas, tanpa menyerah dari dia lumpuh dan kini kembali bisa berjalan normal, itu bukan lah hal yang muda, namun istrinya dengan sabar merawatnya.
__ADS_1
Bersambung.....