
"Kamu dari mana aja sih Lika, aku tuh dari tadi nyariin kamu tau ngak." sewot Miranda, saat Malika baru saja sampai di rumah Nek Imah.
"Aku jalan pagi tadi, kamu lagi sibuk, jadi aku jalan sendiri aja." ujar Malika.
"Lain kali ngak boleh gitu, sayang, nenek ngak mau terjadi sesuatu sama kamu dan bayi di kandungan kamu ini." ucap Nek Imah mengelus perut besar Malika.
"Maaf Nek." ucap Malika dengan rasa bersalahnya.
"Ya sudah ngak pa apa, besok besok klau mau kemana mana bilang dulu ya, jangan pergi sendirian." ujar Nek Imah.
"Iya Nek." sahut Malika tersenyum sayang kepada Nek Imah yang dia anggap nenek kandung nya, maklum Rania belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang nenek, dan mendapatkan kasih sayang dari saudara baru kemaren kemaren, sebelum dia memilih pergi dari keluarga dan suaminya.
"Lika... Lihat ini, ibu dari kota. ibu beli ini buat kamu." seru tetangga Nek Imah, membawa kantong kresek lumayan besar di tangannya.
"Ibu bawa apa?" tanya Malika, melihat ke arah kantong bawaan si ibu.
"Katanya kamu kemaren kamu ngidam buah matoa, sama anggur hijau, kebetulan ibu ke kota. lihat buah buahan yang kamu pengenin ada, ya udah ibu beli buat kamu." ucap Si Ibu dengan mata berbinar.
"Ya Allah bu. kok repot repot sekali bu, aduuhh... aku jadi ngak enah hati ini." ucap Malika.
"Ngak repot kok, cuma beli doang, ngak sampai manjat pohonnya." kekeh si Ibu.
__ADS_1
"Si Ibu bisa aja." ujar Malika ikut terkekeh, namun tangan Malika tetap menjulur mengambil kantong yangym i i ada di tangan si ibu.
"Idihh... pura pura nolak, aslinya mau." cibir Miranda.
"Hehehe.. kan sayang juga klau ngak ambil, Ibu udah bela belain beli buahnya dari jauh." kilah Malika, ikut terkekeh.
"Bisa ae ngelesnya markonah." ucap Miranda, dan berujung gelak tawa di antara mereka, dan itu tidak luput dari pandangan Tama yang berdiri tidak jauh dari sana.
Dia bersyukur adiknya bisa hidup bahagian di luar sana, memang tidak susah untuk menyukai Malika, orangnya sangat baik, ramah dan suka menolong.
"Lika...." panggil Tama pada akhirnya dia tidak bisa memendam rindu kepada sang adik.
"Kak Tama..." kaget Malika, kok bisa laki laki itu menemukannya di tempat terpencil seperti ini.
"Aku baik, kok kakak bisa ada di sini.?" tanya Malika penasaran.
"Kakak mencari kamu kemana mana dek, semua orang sibuk mencari kamu hingga le pelosok, dan sampai ke luar negeri, akan tetapi kakak yakin kamu ada di negeri kita, dan jadilah kakak mencari kamu ke daerah daerah seperti ini, padahal kakak sudah 3x loh ke sini.?" ujar Tama.
Malika hanya mendengus kesal mendengar orang orang mencarinya, buat apa, bukannya mereka ngak percaya sama dia, dan juga abai sama ke beradaannya, lalu kenapa harus repot repot mencari dirinya, toh selama ini, hanya di anggap makhluk tak kasat mata, apa kerana merasa bersalah, Malika tidak perlu itu, dia sudah males menghadapi orang orang seperti itu, dia tak butuh penyesalan dari mereka, yang tidak percaya dengan dirinya, toh percuma juga kan menjadi orang baik, yang pada akhirnya hanya tetap di salahkan, Malika sudah lelah, dia hanya ingin menyenangkan dirinya, agar kandungannya baik baik saja, dia tak butuh keluarga, masih banyak orang asing yang bisa menjadi saudara, dan bisa memberi perhatian kepadanya, dia hanya ingin fokus sama kehamilannya.
"Kenapa harus mencari aku, apa merasa bersalah, aku ngak butuh, aku sudah memaafkan mereka, bilang sama mereka, ngak usah repot repot mencari aku, aku sudah bahagia di sini, jangan pikirkan aku, toh aku sudah biasa di abaikan kok, jadi ngak perlu sok perhatian dan sok perduli nyatanya itu hanya palsu, hidup lah dengan kehidupan kalian jalani, sama seperti belum ada aku. aku juga akan hidup dengan cara ku" ucap Malika dengan hati yang terluka.
__ADS_1
Tama sampai tercekat mendemgar ucapan Malika itu, sebegitu terlukanya, wanita hamil ini, dia yang biasanya lembut, kini hati wanita hamil ini sudah mulai mengeras ulah keluarga dan suaminya sendiri, wajar orang baik bisa jadi jahat klau sudah terlalu di injak injak.
"Dek, suami kamu sampai sakit loh, sekarang dia sangat kurus, dan tak terurus semenjak kamu pergi, dia terus terusan mencari keberadaan kamu, bahkan dia suka lupa klau dirinya belum makan." ujar Tama.
Malika hanya terkekeh mendengar ucapan Tama itu.
"Kenapa harus sakit, kenapa harus lupa makan, kenapa harus mencari aku, Bukankah, dia ngak percaya sama aku, bukan kah, dia ngak butuh aku, dan dia ngak perduli dengan anaknya, yang dia cintai hanya pekerjaannya, apalah aku, aku hanya istri yang dia beli, dan aku sudah membuat dia bisa berjalan kembali kan? dan aku rasa dia tidak memerlukan aku lagi, karena aku di nikahkan hanya untuk jadi pembantu dia, bukan menjadi istri dia, jadi ngak usah sok sok menderita, klau nyatanya dia perduli sama orang lain, buktinya aku kesakitan dia tidak perduli, dia malah menghawatirkan istri orang, jadi. sudah jelas bukan, aku ini bukan siapa siapa, tenang. Aku ngak akan menggangu kalian lagi, aku sudah bahagia dengan hidup ku sekarang ini, aku bisa jadi ibu sekaligus ayah untuk anakku." ucap Malika.
Tanpa Malika sadari, orang orang yang mendengar curahan hati Malika itu, sangat sesak dan semakin merasa bersalah, terutama sang suami, baru dia sadari istrinya begitu terluka karena perbuatannya.
Tama memang sengaja melakukan panggilan, saat dia ingin menemui Malika. Hp itu masih menyala saat Tama dan Malika bicara, tentu saja mereka mendengar semua ucapan Malika itu.
"Dek, bukan gitu." ucap Tama terpotong karena Malika menyela ucapannya.
"Sudah lah kak, aku sudah malas membahas masalah itu, dan kakak boleh pergi, aku sudah nyaman tinggal du sini, tolong pergi dari sini, aku ngak butuh siapa siapa, aku sudah biasa mengurus diri sendiri, jadi pergi lah, jangan temui aku lagi." ucap Malika, dia melenggang masuk ke dalam rumah Nek Imah, tanpa perduli dengan Tama yang berdiri mematung di halaman rumah Nai Imah itu.
"Tolong jangan ganggu Malika dulu, dia sudah aman di sini, jangan sampai dia benar benar pergi menjauh dari kalian, karena hatinya sudah sangat terluka dengan perbuatan kalian, jangan lagi tekan dia, aku lebih tau hatinya dari pada kalian semua, aku mengenal dia dengan baik dari sejak lama, kalian tidak tau derita apa yang dia rasakan dari dulu, pergilah. tetap lah jadi kacang lupa kulitnya." sinis Miranda mengatai Tama, dan ikut menyusul Malika ke dalam rumah, dia sangat tau, hati Malika pasti tidak baik baik saja saat ini.
Nek Ima hanya bisa diam saja, apa yang di katakan oleh Miranda memang ada benarnya, saat Malika datang kesini pun melihat wanita hamil itu sedang dalam tekanan, dia tidak ingin melihat Malika yang sudah dia anggap cucunya itu, kembali terluka.
"Pergi lah nak, Malika butuh waktu, tolong jaga emosinya, jangan sampai gara gara kedatangan kamu, kandungannya bermasalah." ucap Nek Imah.
__ADS_1
Bersambung....
Bersambung....