
Akhirnya Malika kembali ke rumah peninggalan orang tuanya, Rumah itu masih sangat terawat, karena Mami Tania selalu merawat rumah itu, dan tidak sama sekali merubah tatanan rumah itu.
"Kakak. Lihat lah, anak kalian sudah kembali, kalian sekarang bisa tenang di sana, kami akan menjaganya di sini hiks..." ujar Mami Tania menangis menatap foto pasangan pengantin lama itu, yang berada di dinding rumah peninggalan orang tua Malika.
"Mama, Papa, Lika pulang, walau Lika lupa dengan kalian, tapi Lika bisa merasakan kasih sayang kalian dengan melihat foto foto ini" ujar Malika serak membolak balikan album foto yang di penuhi foto dirinya dan orang tuanya di sana, foto di setiap momen yang selalu di jempret yang kini menjadi kenang kenangan untuk Malika.
"Hallo Mama mertua, Papa mertua, kenalkan aku. Refandi suami Malika, menantu kalian, tenang lah di sana, aku akan menjaga Malika dan akan menyayangi nya seperti kalian menyayangi nya, do'akan kami dari atas sana, agar rumah tangga kami selalu bahagia" ujar Refandi mengusap foto orang tua Malika.
"Kakak ipar, abang ipar, kalian lihat lah, anak kalian sudah kembali, dia cantik bukan, dan kalian lihat jangan lupa, lihat juga adik kalian itu, senyum nya sudah kembali lagi, hiduplah yang tenang di alam sana, aku berjanji akan menjaga ke dua wanita kesayangan kalian itu, maafkan aku yang terlambat menemukan putri kalian" ujar Papa Indra sendu.
"Tante, Om. Adikku sudah kembali, huuuffff.... rasanya beban di pundakku rasanya hilang begitu saja, aku sudah mencarinya kemana mana, dan bodohnya aku. Ternyata adikku itu ada di dekat ku Tante, bodohkan, ponakan mu ini" ujar Tomy terkekeh "Tapi, tak apa, yang penting dia sudah kembali, aku sudah bisa menjalani hidupku dengan sewajarnya, aku ingin menikahi wanita kesayanganku secepatnya tante, do'akan aku juga ya tante, agar rencanaku berjalan degan lancar" ujar Tomy, " tapi tenang saja, jangan takut dan jangan khawatir aku akan tetap menjaga adik kecilku itu, dia menikah dengan sahabat baiku tante, aku yakin suaminya akan menyayanginya dengan setulus hati, klau dia menjahati adikku itu, aku berjanji akan mengirim dia ke alam kalian, biar kalian bisa menghukumnya sendiri" ujar Tomy yang tidak sadar sudah di tatap horor oleh sepasang suami istri itu.
Puk....
"Ausss... Kenapa kalian memukul ku!" keluh Tomy, karena sepasang suami istri itu dengan kompak memukul bahunya.
__ADS_1
"Lagian salah kau sendiri, yang mau membunuhku" kesal Refandi.
Tomy terkekeh, ternyata ucapannya di dengar oleh Refandi.
"Itu kan klau kau menyakiti hati adiku, klau tidak ngapain aku membunuh mu" kekeh Tomy.
"Dan Kamu. Kenapa ikutan memulai kakak sayang" ujar Tomy melihat ke arah Malika.
"Lagian, salah kakak sendiri, ngapain berniat matiin Mas Refandi. klau dia mati, aku jadi janda kembang dong" dengus Malika tidak suka.
"Ngak udah kakak yang hukum dia, dia nanti malika sendiri yang menghukum nya" ujar Malika menggebu.
"Emang hukuman apa yang akan kamu berikan, klau dia selingkuh?" tanya Tomy penasaran, hukuman apa yang akan Malika berikan, yang lain ikut nyimak apa yang akan Malika lakukan.
"Luka akan bikin dia duduk di kursi roda lagi, dan di pastikan tidak akan bisa berjalan seumur hidup, dan Lika kan potong burung perkututnya itu, dan Lika laminating lalu Lika pajang di kamar tidurnya, Lika bikin kata kata mutiara, "Akibat selingkuh, buruk jadi pajangan." santai Malika.
__ADS_1
Dia tidak tau orang yang mendengar ucapan santai Malika itu, sudah memegang barang berharga mereka masing masing, dan menatap Malika ngeri.
"astaga, rupanya klau wanita sudah marah, bisa bisa jadi psikopat dia" gumam Tomy menatap takut ke arah Malika.
"Gue berjanji tidak akan selingkuh dan tidak akan menyakiti istri gue, klau sudah mengamuk habis lah gue, dia menatap kakinya, lalu menatap ke arah sejengkal dari perut itu, dan akhirnya dia bergidik ngeri sendiri.
"Tante, aku senang anakmu pulang, dan tadinya aku sempat patah hati karena aku mencintai adikku sendiri, tapi. Sekarang aku ngak jadi jatuh cinta sama dia, aku tarik kata kata ku, anak kalian sangat mengerikan hii..." gumam Tama menatap takut ke arah Malika.
"Ternyata buat tidak jauh dari pohon" kekeh Papi Indra, kata kata keramat itu pernah terlontar dari mulut mama Malika saat ada perempuan yang menggoda suaminya.
Begitupun Tante Tania, di ikut terkekeh melihat tingkah Malika itu.
"Ternyata kalian 11 12" gumam Tante Tania melihat ke Malika, sejurus kemudian menatap foto sang kakak.
Bersambung....
__ADS_1