Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 68


__ADS_3

Sebulan berlalu, kehamilan Malika kini sudah berusia 7 bln, wanita berperut buncit sedang jalan pagi di sekitar perkampungan yang asri itu, jauh dari polusi udara.


Malika sangat menyukai udara di sana, apa lagi pemandangan yang sangat indah, begini saja dia sudah bahagia, walau tanpa kesalon mau pun shoping barang barang brandit seperti wanita wanita dari kota sana.


Tak Bisa di pungkiri oleh wanita hamil itu, dia juga sangat merindukan sang suami, namun ketakutannya masih besar, dia takut sang suami tetap acuh dan masih menyalahkan dirinya, dengan ke jadian Lisa pingsan waktu itu.


Dia memilih hidup di desa ini, karena di sini dia merasa sangat di sayang dan di perhatikan oleh orang orang di sini, walau jauh dari kata mewah, itu tak mengapa baginya, yang di butuhkan oleh wanita hamil itu adalah perhatian dan kasih sayang, dia haus tentang itu.


"Lika, mau kemana nak." sapa ibu ibu di sana melihat Malika berjalan seorang diri, biasanya di temani oleh Miranda atau Nek Imah.


"Jalan pagi bu." sahut Malika sopan.


"Kok sendiri nak. Nak Miranda kemana?" tanya si ibu.


"Ada bu, aku pengen jalan sendiri aja." ujar Malika tersenyum manis.


"Hati hati ya nak, jangan jauh jauh jalannya." nasehat si ibu."


"Iya bu, paling sama depan doang, balik lagi." ujar Malika.


Malika berjalan pelan pelan, sambil melihat pemandangan di sana, sungguh dia takjub melihat pemandangan pagi di desa itu.


"Uuummm indah sekalii...." gumam Malika dalam hati sambil merentangkan tangannya dan menghirup udara dalam dalam dan memejamkan ke dua matanya, setelah itu menghembuskan nafasnya pelan pelan tak lupa matanya ikut terbuka, senyum manis lansung tersungging di bibir manis itu.


Cekrek....

__ADS_1


Cekrek...


Cekrek....


Seseorang memotret Malika diam diam, dan mempostingnya di sosmed nya, dengan caption " asiknya menikmati udara pagi"


"Dasar gadis nakal, aku sudah capek mencarimu kemana mana, ternyata kau berada di sini, padahal sudah dua kali kakak ke sini, tapi tak pernah ketemu kamu." gumam Tama tersenyum lega melihat sang adik bisa hidup baik di sini, di lihat waktu terakhir mereka bertemu, Malika memang selalu tersenyum, tapi senyumnya tak pernah selepas ini, dan badannya juga naik, menandakan dia baik baik saja hidup di desa ini, walau jauh kemana mana, tapi gadis itu malah bahagia.


Tama terus saja mengikuti langkah Malika dari jauh, dia tidak ingin gadis itu hilang lagi. setidaknya dia tau dimana Malika tinggal selama ini.


Hati Tama semakin lega melihat Malika di perlakukan dengan baik di desa ini, terbukti setiap Malika ketemu orang dia selalu di sapa baik muda maupun tua, bahkan anak kecil pun nampak akrab dengan Malika.


"Syukurlah kamu bisa hidup bahagia di luar dek. Kau tak tau bagaimana gilanya orang orang yang telah menyakitimu itu sekarang, kau tau dek, suami mu itu sekarang sudah seperti mayat hidup memikirkan diri mu, Bang Tomy stres sendiri mencari mu dan di tambah ngidam istrinya, Mami juga sangat menyesal telah menyakitimu, dek. Kak Lisa merasa bersalah karena dirinya kau pergi dek." gumam Tama, mengikuti langka Malika dari belakang.


Brakkk...


"Shiiiittt.... Jangan bikin kaget dong." dengus Sandi kesal, dia lagi fokus mengerjakan pekerjaannya, tiba tiba di kagetkan dengan gebrakan meja oleh teman sekaligus teman kurang akhlak, yang di tinggal pergi oleh istrinya itu.


"Istri aku. Istri aku ketemu." pekik Refandi, mengabaikan ucapan sang sahabat.


"Haa... ketemu di mana?' tanya Sandi turut bahagia.


"Ngak tau..." ujar Refandi dengan bodohnya, memang dia belum ketemu sang istri, dan belum di mana istri nya berada, dia hanya baru melihat foto sang istri lewat medsos Tama.


Sandi hanya memutar mata malas, ada ada aja kelakuan Refandi itu, katanya istrinya sudah di temukan, tapi ngak tau ketemu dimana.

__ADS_1


"Trus kau tau dari mana, Malika ketemu." omel Sandi.


"Ini." ucap Refandi memperlihatkan postingan Tama, kehadapan Sandi.


"Waaahhh.... Dia benar benar hidup dengan baik di luar sana, pantas lupa aka pulang." seru Sandi saat melihat foto Malika.


"Maksud loe!" kesal Refandi dengan ucapan sahabatnya itu.


"Lihat lah senyumnya tanpa beban, lihat badannya lebih segar, walau dia lagi hamil auranya makin kelihatan." ucap Sandi tanpa sensor.


Membuat Refandi tersenyum kecut, benar kata temannya itu, dia lupa kapan terakhir melihat senyum tanpa paksaan dari bibir sang istri, sudah lama sekali, sejak dia sibuk dengan kerjaannya mungkin, sejak dia suka pulang malam, pergi pagi pagi sekali, bisa juga, mengingat itu hati Refandi berasa tercubit, begitu besar kesalahannya kepada wanita yang berstatus istri, yang selalu ada untuk dirinya, saat butuh dukungan, dan selalu ada di saat dia susah, dia lupa istri baiknya itu juga butuh perhatian saat ini, apa lagi dia sudah membuat wanita itu mengandung buah cintanya.


"Uuhhhuuuuufffff....."


Refandi menarik nafasnya dalam dalam dan juga membuangnya sekaligus, sesak sungguh sesak dadanya, klau mengingat itu semua.


Puk...


Puk...


Puk...


Nanti klau dia mau di ajak pulang, jangan pernah membuat dia sedih lagi, perhatiin dia. dia butuh perhatian mu, dia wanita yang tidak neko neko, yang selalu patuh dengan kau, tidak pernah mau keluar rumah, klau tidak di temanin oleh orang rumah, dia baik, andai dia wanita egois, pasti wanita itu sudah menguras harta mu, dan mencari kesenangan sendiri, tapi Malika tidak, dia selalu menunggu kau di rumah, akan tetapi kau malah sibuk sendiri." nasihat Sandi.


Sejujutnya Sandi sangat marah kepada kedua sahabatnya itu, tidak mendengarkan penjelasan Malika, dan apa lagi mendengar cerita.Tomy sempat mendorong wanita hamil itu, dan suaminya malah tak perduli, malah menghawatirkan istri orang, bukan membantu sang istri, padahal istrinya juga sedang hamil besar dan ke sakitan karena di dorong oleh sang kakak. Kala mendengar cerita itu, ingin rasanya Sandi menghajar ke dua sahabatnya itu, akan tetapi Malika sudah membalasnya dengan menghilang dari hidup mereka, tentu itu sangat menyakitkan bagi orang orang yang menyakiti Malika itu, setelah mendengar cerita, klau Malika lah yang menolong Lisa, tanpa pertolongan Malika, bisa saja waktu itu Lisa bisa cidera, dan Sandi malah tertawa senang penuh dendam, dia berharap Malika tidak bisa di temukan lagi, oleh orang orang itu, namun melihat mereka yang merasa bersalah dan menderita, sampai sampai Refandi di rawat di rumah sakit, hari hari di rumah Tomy kembali suram, Lisa ikut menyalahkan dirinya, klau bukan karena ingin menolonh dirinya saat itu, mungkin Malika masih di rumah mereka, itu membuah hati Sandi sedikit goyah.

__ADS_1


"Mmmm... aku akan selalu menomor satukan istri dan anak ku, aku akan selalu mendengarkan segala keluh kesahnya, dan tidak akan terburu buru mengambil kesimpulan, aku ingin istriku pulang." ucap Refandi dengan mata yang berkas kaca dan suara yang serak menahan tangis.


Bersambung....


__ADS_2