Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 101


__ADS_3

"Ti, maafin mas, mas ngak bisa membahagiakan kamu dengan anak kita, mas terlalu pengecut, tidak berani mengambil tindakan tegas terhadap Ibu Mas, sehingga melukai kamu dengan anak kita," ujar Kardi dengan menahan sesak di dadanya.


"Iya, aku sudah memaafkan mas, mungkin jodoh kita hanya sampai di sini, aku sudah ikhlas kok, lagian dengan kami tinggal berdua, jauh dari kampung ini, tidak ada lagi yang mengusik kami." ujar Bu Siti.


"Sekali lagi maafin mas, dan semoga lelaki yang akan menjadi suami kamu bisa membahagiakan kalian berdua, Ana bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah, maafin ayah ya nak hiks." sungguh hati Kardi sakit melihat ke dua wanita tersatangnya itu, dia memang menikahi Lilis akibat ancaman Ibunya, namun dia tidak pernah sekalipun menyentuh wanita itu, biar dia rasakan bagaimana di abaikan, oleh suaminya seperti Siti, Kardi akan membuat wanita itu menyerah sendiri tanpa menggagunya lagi, sudah cukup semuanya, dia sudah lelah dengan semua ini.


Hari ini ke tiga orang itu mencurahkan rasa di hati mereka masing masing, agar tidak ada lagi dendam di hati mereka mereka, Ana menerima setiap alasan yang di berikan oleh sang bapak, memang neneknya lah patut di salahkan, namun bu Siti tidak menginginkan anaknya menjadi pendendam kepada sang nenek.


"Ana ngak boleh benci nenek, nenek ngak salah di sini nak, mungkin nenek kena hasut orang makanya bersifat seperti itu." ujar Bu Siti membujuk sang anak, Ana hanya bisa mendengus kesal.


"Ya sudah Mas pulang dulu, kapan kapan boleh ngak klau mas kangen sama Ana, trus mas ke kota, boleh mampir ngak ketempat kamu kerja." tanya Kardi hati hati.


"Boleh, datang saja, Ana pasti senang, ya kan nak." ujar bu Siti melihat sang anak.


"Iya, datang saja Pak, aku senang kok, ini nomor hp ku, nanti bapak klau rindu Ana, tinggal tlp Ana saja, atau vidiocall," ujar Ana.


"Iya nak, makasih. Ini sedikit uang jajan untuk kamu, mati matian bapak kumpulin, agar bisa memberi kamu uang, bapak tau kalian pasti akan datang saat Tama menikah," ujar Kardi.


"Pak," ujar Ana tergugu, dan tidak bisa berkata kata lagi, baru kali ini merasakan uang dari bapaknya, dia menatap uang kertas merah dua puluh lembar di atas tangannya, tidak menyangka dia akan mendapatkan uang sebanyak itu dari sang ayah.


"Ambil ya nak, maaf bapak hanya bisa kasih segitu, nanti suatu hati nanti bapak punya uang, bapak akan kirim ke kamu, atau ngak bapak datang ke tempat kamu, sekalian melepas rindu." ucap Kardi.


"Bapak dapat uang dari mana, bukannya uang bapak di ambil nenek semua?" tanya Ana.


"Bapak pulang kerja, sengaja ngak pulang ke rumah nenek kalian, bapak pergi ke tempat usaha Tama, bapak kerja paruh waktu di sana, sekalian mencari informasi kalian, uang gaji di sana kan mingguan, bapak ngak ambik, tadi mau ke sini baru bapak minta, mau kasih ke kamu." ujar Kardi.


"Hiks... hiks... jaga kesehatan pak, jangan terlalu memikirkan uang buat Ana, nanti bapak sakit ngak ada yang jaga, Ana ngak pa apa ngak di kasih uang, asal bapak sehat, dan kita bisa teleponan sudah cukup hiks.." Ana memeluk Kardi.


"Bapak senang bisa kasih Ana uang nak, beban di pundak bapak rasanya terangkat, bapak janji tiap bulan akan kirim uang untuk Ana walau tidak besar, ambil ya nak, jangan di tolak, itung itung nafkah dari bapak walau terlambat." ujar Kardi.

__ADS_1


Ana hanya bisa mengangguk dia tidak ingin bapaknya kecewa, di saat dia menerima uang dari bapaknya. Ana melihat wajah bahagia bapaknya itu, bagaimana tega Ana menolak permintaan bapaknya itu.


"Ya sudah bapak pulang ya, kalian hati hati di jalan, terimakasih ya Ti, sudah mengizinkan mas menemui Ana." ujar Kardi.


Bu Siti hanya mengangguk, dan melihat ke pergian mantan suaminya yang semakin menjauh darinya.


Ana mendekap erat uang yang di berika oleh sang bapak, dia masih berasa mimpi di kasih uang oleh bapaknya.


"Boleh bicara sebentar." ujar Kardi menenghampiri Karyo yang sedang menikmati kopi dan pisang goreng, di bawah pohon mangga.


"Ohh....Silahkan," ujar mang Karyo, menyilahkan Kardi duduk di atas bale bale yang dia duduki.


"Maaf mengganggu kamu." ujar Kardi.


"Ngak pa apa, santai aja, mau ngopi ngak, saya buatkan." tawar mang Karyo.


"Mau bicara apa?" penasaran Karyo.


"Apa kamu benar benar mencintai Siti?" tanya Kardi sungguh sungguh.


"Iya, saya menyukai dia dari pandangan pertama." mantab karyo.


Kardi hanya tersenyum tipis, dan merasa sakit di hatinya, karena wanita yang masih bertahta di hatinya sudah ada yang menyukai Siti, di lihat lihat dari tampangnya, kardi kalah saing sama dirinya.


"Saya melepas dia untuk mu, tapi tolong jangan pernah sakiti hatinya, sudah cukup dia menderita bersama saya, saya hanya ingin melihat dia bahagia, dan tolong sayangi anak kandung saya, jaga dia untuk saya." ujar Kardi, merelakan mantan istrinya untuk laki laki lain, dia sudah tidak ada harapan lagi, di tambah di tidak mungkin meminta Siti kembali kepada dirinya, selama si perawan tua itu masih jadi istrinya, dia tidak mau wanita itu berulah lagi dan mengganggu Siti dan Anaknya.


"Pasti itu, saya sudah menyayangi Ana dari awal saya ketemu anak itu, sebelum ketemu ibunya, hati saya sudah di curi duluan oleh Ana." kekeh Karyo.


"Terimakasih. Kalau gitu saya pulang dulu," ujar Kardi pergi dengan sedikit beban di pundaknya sudah terangkat, dia bertekad, akan mencari uang lebih banyak lagi, agar bisa membeli rumah Siti kepada Refandi, dia tau rumah itu sangat bearti oleh Siti dan Ana, rumah kenangan mereka, harta warisan dari orang tuanya, karena ulah istri muda dan ibunya, Siti terpaksa menjual rumahnya itu.

__ADS_1


"Aakkkgggg.... Sialan, kenapa kau sampai beberkan rahasia kita di depan orang banyak mas, si alan kau!" pekik Lilis di dalam kamarnya.


"Udah ngak usah teriak teriak lu, emang semua salah lu kok, ngapain ganggu rumah tangga abang gue, jadi terima nasib aja lu, gimana rasanya di abaikan, enak!" cibir Indah.


"Si alan kau. Kenapa sih, kau ngak pernah berada di sisi gue, kenapa harus membela si buluk itu." bentak Lilis.


"Heh... ngaca woi, kakak ipar gue sudah cantik sekarang, gue ngak dekat sama kakak ipar dan keponakan gue, bukan berarti gue menerima perselingkuhan abang gue, walau itu bukan kesalahan abang gue, itu gara gara kau saja yang ke gatalan, minta di garuk, tidak tau siapa yang ingin kau tempeli, padahal sudah tau dia punya anak bini, tapi kau seorang perempuan ngak punya perasaan, memisahkan istri dan suami, anak dan bapaknya, dasar perawan tua, dan apa. Setelah menikah pun tak di sentuh, ka si haaannn...." cibir Indah.


"Brengsek kau..." teriak Lilis


Brak....


Dia membanting pintu kamarnya dengan keras.


"Wooiii... pintu itu ngak salah, kenapa lu banting banting, dasar perawan tua ngak tau diri." maki Indah.


"Indah, apa apaan sih kamu ini, mengatai kakak ipar kamu kaya gitu!" bentak Bu Ratmi sang ibu.


"Dia bukan ipar ku, iparku tetap kak Siti, Ibu jahat memisahkan menantu sama cucu ibu dengan bapaknya, apa ibu ngak mikir, ibu punya anak perempuan dua, klau aku tau kakak yang di perlakukan seperti itu oleh suami aku, apa ibu ngak sakit hati hu..." marah Indah, dari dulu dia tidak suka dengan kekerasan hati sang ibu, memonopoli gaji abangnya, Indah tidak tega melihat abangnya suka melamun dan menangis di malam hari, dia merindukan anak istrinya, tapi dia takut pulang karena ngak bisa kasih nafkah.


Indah tau bagaimana hancurnya hati abangnya saat tau anaknya sakit, tapi dia tidak bisa melakukan apa apa, karena di ancam sang ibu, dia tau bagaimana abangnya terluka, saat istri pertamanya minta cerai, kakaknya menderita, tapi ibunya masa bodo, bagaimana abangnya tidak punya muka, saat tau istri ke dua dan ibunya, mengganggu Siti dan meminta rumah Siti, abang sampai ingin bunuh diri saat itu, untung ada dia dan sang kakak yang menasehati sang abang, agar tidak bundir, dan menyuruh melepaskan Kakak iparnya, agar kakak iparnya dan sang keponakan tidak di ganggu lagi oleh ibu mereka dan juga Lilis, dia tau Malika menyayangi Ana dan Siti, makanya itu Indah membujuk sang abang, dan agar abangnya tidak banyak pikiran, dia juga menyarankan, abangnya untuk bekerja lembur saja di tempat Tama, iming iming ngumpulin uang untuk Ana, dan mengembalikan rumah sang kakak ipar yang sudah terjual itu, kembali untuk Ana, beruntung abangnya itu menerima sarannya itu.


"Ahhh diam lah kau, kau mana tau." ketus sang ibu.


"Iya iya, aku mana tau, ibu yang paling tau memonopoli uang anak, Ibu pikir anak ibu itu ngak stres, untung abangku masih kuat iman, klau ngak, mungkin sekarang dia belakang tanah karena egisan ibu." kesal Indah meninggalkan ibunya di dalam rumah.


Deg....


Hati Bu Ratmi lansung bergetar mendengar ucapan sang anak, namun sekali lagi ego mengalahkan segalanya, dia tidak perduli.

__ADS_1


__ADS_2