Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 80


__ADS_3

Oeeekkk....


Oeeekkk...


Tepat jam satu dini hari si cantik mengis karena popoknya basah.


Cup... Cup... Sayang, kenapa mengisi hmm... haus apa popoknya basah sayang, diam ya, Ayah jangan berisik nanti Bunda sama abang bangun." ujar Refandi dengan suara pelan, dia berusaha memeriksa sang anak, ternyata popok anaknya sudah penuh.


Refandi mengganti popok sang anak dengan sangat hati hati, walau belum pernah melakukannya, namun dia sudah lumayan sering melihat sang istri mengganti popok anak anaknya, hari ini dia mulai mempraktekan apa yang dia lihat, dia ak berusaha menjadi ayah yang siaga untuk anak dan istrinya.


Malika bukan tidak tau, klau anaknya menangis, dia sudah bangun saat anaknya menangis, namun dia pura pura tidur kembali, sambil mengintip apa yang di lakukan sang suami kepada anaknya.


Refandi membuka celana anaknya, membuka popok yang basah, tidak lupa juga membersihkan pantat sang anak menggunakan tissu basah, dan kembali memakaikan popok kering, dan memakaikan celana baru kepada buah hatinya itu, setelah itu, Refandi menarok pakaian kotor anaknya ke dalam keranjang kotor, yang sudah di sediakan di kamar itu.


Refandi kembali ke arah sang anak yang masih terjaga, dia menggendong sang putri sambil di goyang goyang pelan.


"Bobok sayang, kenapa malah melek gini, mau ngajak Ayah begadang hmmm.." ujar Refandi sambil mengecup lembut pipi sang bayi.


"Oooww..." jawab bayi lucu itu.


"Hehehe... mau ngajak ayah ngobrol, mau ronda kita hmm..." kekeh Refandi, bayi mungil itu malah menggeliat di tangan sang ayah.


Lama Refandi menimang nimang sang anak, baru lah anaknya mau tidur, baru juga Refandi ingin tidur giliran anak laki lakinya yang merengek.


"Abang kenapa sayang?" ujar Refandi dengan suara pelan dan dia memeriksa bayi ganteng itu, namun tidak basah, bearti anaknya ini haus, dan dia bingung harus apa, yang bisa menenangkan sang anak cuma istrinya, namun dia kasihan membangunkan sang istri.


"Kamu haus ya sayang, tapi bunda lagi bobo," gumam Refandi.


Eegghh.... Malika pura pura melenguh seolah olah baru bangun, padahal dia melihat semua apa yang di lakukan sang suami, dia begitu terharu melihat Refandi, tidak sama sekali membangunkan dirinya untuk mengurus sang anak.


"Eehhh... bunda bangun." ujar Refandi melihat sang istri.


"Abang kenapa mas?" tanya Malika yang berpura pura bangun tidur.

__ADS_1


"Kayaknya mau nen sayang," ujar Refandi.


"Bawa ke sini mas." pinta Malika.


Refandi lansung membawa sang anak mendekat ke arah sang istri.


"Besok besok, taro di pompa aja nen nya sayang, biar klau dia haus mas bisa kasih kemereka, jadi kamu bisa tidur nyenyak, tanpa ke ganggu sam anak anak." pinta Refandi.


"Ngak apa mas, lagian aku ngak kemana mana, biarin aja mereka mimik dari tempatnya, sudah kodratnya wanita seperti ini," jawab Malika.


"Makasih..." ujar Refandi terharu, begitu sayangnya sang istri kepada anak anak mereka, sampai tidak ingin melakukan pamping ASI, dia rela bergadang demi buah hati mereka.


"Mas tidur lah, pasti dedek tadi habis bergadang, biasanya juga gitu kok." ujar Malika,


"Nanti saja, biar mas nemanin kamu sampai abang selesai mimik." tolak Refandi.


"Tapi kamu ngantuk loh mas." ujar Malika lagi, dia tau suaminya itu belum tidur dari tadi.


"Ngak apa." ujar Refandi lagi.


Tanpa di minta dua kali, pasti lah Refandi langsung meloncat pindah di samping sang istri, hal ini sudah sangat dia rindukan dari lama, setelah bertemupun Malika menjaga jarak darinya, dan malam ini sang istri mengizinkan dirinya tidur di dekatnya, mana mungkin Refandi menyia nyiakan kesempatan itu.


"Terimakasih... anak anak ayah, berkat kalian ayah bisa tidur di dekat bunda kalian, ayah sayang kalian." gumam Refandi dalam hati.


Setelah puas anak laki lakinya, bergatian dengan anak perempuannya yang meminta ASI, kini ke dua anaknya sudah kembali ke alam mimpi, Malika pun ikut kembali tidur.


Dia membalikan badannya melihat ke arah sang suami, melihat wajah tirus suaminya itu, Malika juga sedih melihat suaminya itu.


"Kenapa kamu jadi ngak terurus gini mas, harusnya kamu bahagia aku pergi dari sisimu, tapi kenapa malah seperti ini." gumam Malika membelai wajah sang suami dengan lembut.


Refandi merasakan belaian tangan sang istri, sungguh dia menikmati rasa yang sudah lama hilang itu, sungguh hatinya menghangat menerima setiap sentuhan sang istri, namun Refandi tidak mau membuka matanya, takut belaian sang istri berhenti, dia tidak mau itu, dia ingin istrinya terus membelai wajahmu, dia sangat rindu dengan itu semua.


Tidak hanya sampai di situ, merasa suaminya sudah tertidur pulas, Malika masuk kedalam pelukan sang suami dan memeluk tubuh suaminya, jujur Malika juga sangat merindukan pelukan dan aroma tubuh suaminya itu, dia menghirup dalam dalam aroma yang dia rindukan itu, sambil memejamkan mata, tanpa terasa Malika ikut tertidur pulas di dada bidang sang suami.

__ADS_1


Refandi membuka matanya, karena sudah mendengar nafas teratur sang istri, dia menghujani puncak kepala sang istri dengan ciumannya.


"Mas berharap ini awal yang baik untuk hubungan kita sayang, mas tau kamu juga merindukan mas, tapi kamu masih sangat marah sama mas, maafkan mas, dengan segala kebodohan mas ini sayang." ujar Refandi memeluk tubuh sang istri, dia ikut memejamkan mata, berharap malam ini tidak cepat berlalu.


Pagi hari orang orang sudah sibuk di rumah Nek Imah, dan Nek Imah serta Miranda bingung kenapa tidak ada kasur Refandi ruang tengah itu, apa Refandi menyerah dengan perlakuan Malika, Nek imah pelan pelan membuka pintu kamar Malika, tumben anak itu belum ada suara, sama seperti ke dua bayi itu tidak ada suaranya, seperti masih damai dalam mimpi.


Ceklek...


Oooo.....


Nek Imah, kaget dan membulatkan mulutnya dan mata melotot melihat pemandangan indah itu, dan setelah itu dia tersenyum bahagia, setelah itu dia menutup pintu kamar Malika dengan sangat hati hati.


"Kenapa di tutup lagi nek, tumben dua bocah itu belum ada suaranya." tanya Miranda heran.


"Masih pulas, mungkin karena ada ayahnya ikut tidur di dalam kamar itu, makanya mereka anteng." ujar Nek Imah, membuat Miranda ternganga tidak percaya.


"Ahhh... Syukurlah, kasian juga tu bos besar tidur di luar ke dinginan." kekeh Miranda setelah itu dia berlalu ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


Senyum di bibir Nek Imah tak pernah surut, setelah melihat pemandangan Malika dan Refandi tidur saling berpelukan.


"Kok Masih sepi Nek?" tanya Tama yang baru datang.


"Masih pada tidur." ujar Nek Imah dengan suara pelan.


"Tumben. Trus Abang kemana, kok ngak ada kasurnya di sini?' tanya Tama Lagi.


Nek Imah menunjuk ke arah pintu kamar Malika, dengan penasaran Tama pun ikut mengintip kamar tersebut.


Dia pun ikut menganga kaget, dan juga bahagia, karena sang adik pelan pelan sudah mulai luluh, terbukti dengan mereka sudah tidur sambil berpelukan seperti itu menandakan adiknya sudah mulai memaafkan sang suami.


Tama gegas pergi dari rumah Nek Imah, sebelum keluarganya membuat ke gaduhan di sini, biarlah dia memberi waktu untuk sepasang suami istri yang sudah lama terpisah itu.


"Ngak usah di bangunin Nek, nanti klau lapar. atau si kembar merengek mereka juga pasti bangun." kekeh Tama.

__ADS_1


"Hhmmm nenek tau itu." ujar Nek Imah ikut terkekeh.


Bersambung...


__ADS_2