
"Mas, kok badanku tambah bengkak ya?" tanya Malika saat melihat tubuhnya yang memang sedikit berisi di sana sini, Refandi pun sudah tau itu, namun tidak mau memberitahu sang istri, bisa bisa perempuan itu mengamuk dan mendiaminya, gara gara di bilang gemuk.
"Tidak kok, kamu tetap cantik" ujar Refandi.
"Cantik sih cantik, orang perawatan di salon, ini masalahnya aku itu gendut tau ngak gendut" sewot Malika.
"Trus kenapa klau gendut kan tetap cantik, mas makin cinta malah" rayu Refandi yang tidak ingin istrinya itu marah marah, bisa tidak dapat jatah nantinya dia.
"Yang nambah besar itu t*t*k bokong sama perut aku, sudah seperti orang hamil" ujar Malika tanpa sadar.
"Haaa..." kaget Malika sendiri dan lansung membuka hpnya melihat tgl menstruasinya.
"Astaga mas..." pekik Malika, yang membuat Refandi ikut panik.
"Kenapa sayang, ada apa?" tanya Refandi mendekati sang istri.
"A-aku telat sudah sebulan, apa di sini ada isinya" ujar Malika mengelus perutnya yang sedikit buncit itu.
"Ha... Sayang hamil...!!" pekik Refandi berbinar.
__ADS_1
"Belum tau. Kita belum test, tapi aku sudah telat selama satu bulan" ujar Malika.
"Besok kita ke rumah sakit, kita periksa biar ngak penasaran" ujar Refandi.
"Tapi. Klau aku belum hamil gimana mas?' ujar Malika sedih, sebenarnya dia juga sudah menginginkan momongan, namun belum di kasih kepercayaan sama Tuhan.
"Klau belum ada kita bikin lebih rajin lagi, ngak usah di pikirin" ujar Refandi.
"Nanti mas, cari perempuan lain, gara gara aku ngak bisa kasih keturunan" ujar Malika sedih, dia rupanya korban tok tok, karena keseringan mendengar perselingkuhan suami istri, karena belum mempunyai anak.
"Itu tidak akan pernah terjadi sayang, ada ataupun tidak ada anak, mas tidak perduli, yang mas mau hanya hidup bersama kamu, anak itu hanya bonus, tidak masalah tidak punya anak, kita bisa ambil anak angkat, banyak cara untuk mempunyai anak sayang, jangan berfikir yang tidak tidak, kamu belum bisa hamil, mungkin Tuhan suruh kamu fokus kuliah dulu" ujar Refandi menenangkan sang istri.
"Ya sudah ayo tidur" ajak Refandi.
"Katanya mas pengen" ujar Rania, dia sangat tau kebiasaan sang suami yang selalu berolahraga malam sebelum tidur.
"Besok saja sayang, mas takut, klau memang dia ada di sini, mas takut menyakitinya, kita tunggu besok ya sayang" ujar Refandi, sesungguhnya dia juga berharap mempunyai seorang anak di dalam pernikahannya, dia tidak bisa menyalahkan sang istri yang belum memberikan keturunan kepadanya, dia takut klau dirinya yang tidak subur, mengingat dia pernah kecelakaan dan pernah lumpuh, bisa jadi yang bermasalah dirinya, bukan sang istri .
Akhirnya malam itu mereka lewati dengan tidur saling berpelukan, tanpa melakukan olahraga malam, seperti biasanya.
__ADS_1
Melihat sang istri sudah tertidur pulas, Refandi kembali mengelus perut sang istri, sambil berbisik di sana.
"Sayang, kalau kamu memang ada di sini, tumbuh lah dengan sehat nak, dan jangan menyusahkan Mami kamu, Papi sangat menunggu kalian sayang" ujar Refandi dan mengecup perut sang istri berulang kali.
Sedangkan di tempat lain Tomy sangat kesal, karena dari kemaren Lisa tidak bisa dia hubungi, karena wanita itu sedang marah kepada Tomy.
"Kamu keman sih Lis, kenapa ngak di angkat tlp ku, dan ngak balas chat ku" gerutu Tomy, mondar mandir di kamarnya.
Tanpa sengaja, dia melihat IG salah seorang kolega bisnisnya, dan melihat Lisa sedang makan malam romantis di sana.
"Kurang ajar, apa apa kau Lisa, di sini aku mencemaskan kamu, namun kamu di sana lagi enak enakan makan malam, lihat lah pakaian mu itu, apa sengaja menggoda laki laki, awas kau Lisa, tunggu hukuman dari ku, sudah di bilang, kau hanya milikiku, tidak ada yang bisa memiliki kamu selain aku" marah Tomy, keluar dari kamarnya dan bergegas menuruni tangga, dia sudah tidak sabar untuk menemui Lisa.
Sementara di tempat lain, Lisa sedang cikakak cikikikan menghabiskan malam bersama teman teman dan juga sepupunya.
"Gila. Kau Lis, bisa bisanya kau tidak mengangkat tlp si posesif itu, kau tidak takut kalau dia berbuat di luar nalar?" ujar temannya.
"Masa bodo, hari ini aku mau senang senang, ngapain mikirin dia" ketus Lisa, yang masih kesal dengan Tomy itu.
Bersambung....
__ADS_1