Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 57


__ADS_3

Refandi benar benar mengajak sang istri ke rumah sakit, rasa penasarannya sudah tidak bisa lagi dia bendung, dia berharap, semoga saja apa yang dia harapkan terjadi.


"Kalian mau ke mana?" tanya tante Tania yang melihat Refandi dan Malika sudah rapi, dan Refandi yang hanya memakai pakaian casual, seperti sedang tidak akan pergi ke kantor.


"Kami mau ke rumah sakit Tan?" jawab Malika, dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Siapa yang sakit sayang?" panik Tante Tania.


"Ngak ada yang sakit, semuanya baik baik aja kok Tan." ujar Rania lagi.


"Ngak sakit, lalu ngapain kalian ke rumah sakit?" bingung sang tante.


"Pengen ngecek, apa di sini sudah ada Refandi atau Malika junior Tante." ujar Refandi, mengelus lembut perut sang istri, yang memang sedikit menonjol.


"Ha.... Seriuskah, kalau gitu tante ikut, tungguin tante, tante mau ambil tas dulu" ujar Tante Tania, dengan terburu buru pulang kerumahnya.


"Kamu tunggu Tante, tapi jalannya pelan pelan aja, nanti jatuh" pekik Malika, melihat Tantenya yang berjalan terburu buru, dia yang ngeri mana lah si Tante suka sekali pak hak tinggi, apa kakinya ngak pegal setiap hari seperti itu, Malika sendiri tidak suka memakai hak tinggi.


Tante Tania datang bersama Om Indra, ternyata Om indra pun tidak mau ketinggalan dengan calon cucunya.


"Loh, Om kenapa ikut juga?" tanya Refandi.


"Om juga mau melihatnya" ujar om Indra lansung masuk ke dalam mobil menyusul sang istri.


"Mbok.... mbok...!" panggil Tama, yang baru turun melihat rumahnya masih sepi, biasanya Maminya itu sudah heboh, bersama Malika di ruang tamu, entah apa yang mereka lakukan, apa bila sang Papi dan Refandi sudah berangkat, dua wanita kesayangannya itu sudah mengerumpi di ruang tamu.


"Iya, ada apa Mas..?" tanya si mbok.


"Mami belum keluar kamar juga ya bi, betah amat" Tanya Tama.


"Ibu sama Bapak sudah berangkat Mas, bersama Mbak Malik sama Mas Refan" jawab Si mbok.


"Berangkat kemana mbok?" kepo Tama.


"Katanya tadi mau meriksa kandungan Mbak Lika Mas" jawab si mbok lagi.

__ADS_1


"Apa... Malika hamil mbok?" pekik Tama kegirangan, sebentar lagi dia punya mainan di rumah ini.


"Belum tau Mas, semoga saja mbak Malika Hamil" tutur Si Mbok.


"Aamiin... Semoga ya Mas, biar kita punya mainan baru ya mas" kekeh Si Mbok.


"Heleh Si Mbok pengen punya mainan juga ya" kekeh Tama.


"Benar Mas, pengen dengar suara tangis bayi gitu Mas" kekeh Si mbok. Mbok memang sudah di anggap keluarga oleh Tante Tania dan Om Indra, Si mbok juga tidak pernah pulang ke kampung halamannya, semenjak kerja bersama keluarga Tante Tania, semasa Malika masih bayi.


Karena si mbok korban penghianatan adik kandungnya yang berselikuh dengan suaminya, mengakibatkan si mbok ke guguran, dan di usir dari rumah oleh suami dan keluarga nya, di anggap tidak becus menjaga kandungan, padahal semua ulah sang adik dan suaminya.


Si mbok kehilangan arah, suami berselingkuh dengan adik sendiri, di cerai oleh suaminya, dan di usir pula oleh keluarganya, si mbok luntang lantung di jalanan , dan pada akhirnya di temukan oleh Papi Indra dan Tante Tania, dan di ajak bekerja di rumahnya, semenjak itu, si mbok melupakan keluarganya dan mengabdikan diri di rumah tante Tania, sampai sekarang.


Balik ke topik.


Refandi dan Malika sudah sampai di rumah sakit, dia lansung menuju poli kandungan, kedatangan mereka sudah di tunggu oleh dokter di sana, maklum pasien VIP tidak perlu mengantri.


"Permisi dok" ujar Malika sopan.


"Begini dok, saya merasa tidak nyaman dengan tubuh saya, perut saya terasa begah. dan juga nafsu makan saya juga naik, dan sepertinya sudah dua minggu saya telat" tutur Malika mengungat apa yang dia rasakan, pada tubuhnya.


"Baik Bu, mari kita test urine dulu ya" ujar Dokter dengan ramah.


Malika mengikut semua rangkaian pemeriksaan yang di minta oleh dokter, dan bersyukurnya, Refandi bukan lah suami yang cerewet ini dan itu, karena yang memeriksa Malika adalah perempuan, tentu saja akan lain ceritanya klau dokternya laki laki, bisa ngajak ribut dia, klau sang istri di raba raba.


"Giman Dok?" tanya Refandi penasaran dan jangan lupa dua orang di belakang sana tentu saja tidak kalah penasarannya, namun berusaha tenang.


Dokter tersenyum, melihat wajah penasaran Refandi.


"Alhamdulillah.... Bu Malika hamil satu bulan, keadaan ibu dan Anak sehat" ujar Sang dokter.


"Alhamdulillah...." serentak mereka bersama, dan Refandi lansung memeluk sang istri dengan penuh kasih, dia begitu bahagia bisa mempunyai anak dari rahim sang istri.


"Terimakasih, terimakasih sayang, sudah mau mengandung anak Mas" ucap Refandi dengan penuh haru.

__ADS_1


Dia turun ke perut sang istri, "Haii.... Sayang, ini Papa, sehat sehat di dalam ya nak, jangan menyisahkan Mama, delapan bulan lagi kita ketemu sayang, Papa sayang sama kamu"


Cup...


Cup....


Cup....


Refandi mengecup perut sang istri bertubi tubi, menandakan dirinya sangat bahagia dan senang dengan kehadiran sang anak.


"Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah jadi calon mama" ujar Tante Tania.


Dokter yang melihat acara haru biru itu ikut senang, dan ikut tersenyum bahagia.


"Oh... Iya dok. klau istri saya lagi hamil muda. apa kami masih bisa melakukan hubungan suami istri?' tanya Refandi dengan polosnya.


Tentu saja membuat Malika malu setengah mati, ulah suaminya itu.


Dokter pun ikut tersenyum, mendengar ucapan Refandi itu. Itu sudah pertanyaan lumbrah bagi pasangan yang baru mempunyai anak.


Sementara Tante Tania dan Om Indra tepuk Jidat, mendengar pertanyaan Refandi itu.


"Klau saya lihat, tidak masalah, tapi tetap di jaga temponya, jangan membuat si jabang bayi terganggu, karena usianya masih rentan ke guguran, dan jangan setiap hari juga ya, cukup seminggu 2 sampai 3 kali saja" ujar Dokter memberi penjelasan.


"Dan ini, saya kasih resep, vitamin saja, soalnya ibu tidak ada keluhan mual, minta dan pusing" ujar dokter tersebut.


"Baik dok, terimakasih" ujar Malika.


"Ibu jangan lupa, banyak makan sayur dan buah, dan susu hamil" lanjut dokter lagi.


Malika mengangguk, dan mengucapkan terimakasih, mereka keluar dari ruangan dokter tersebut dengan wajah yang berseri. penuh kebahagiaan.


"Sayang, nanti kita mampir ke swalayan dulu ya, buat beli susu hamil kamu" ujar Tante Tania.


Malika mengangguk mengikuti kemauan sang Tante, ini juga pengalaman pertama untuk Malika, dia masih awam, dan beruntungnya, di saat saat seperti ini, ada Tantenya yang selalu ada untuk dirinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2