Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 83


__ADS_3

"Ibu beneran mau jual rumahnya? kata nenek itu rumah peninggalan orang tua Ibu?" tanya Malika hati hati.


"Mau bagaimana lagi nak Malika, ibu sebenarnya berat untuk menjual rumah itu, tapi klau selalu di usik, kasian Ana, dan ibu juga mau bawa Ana jauh dari desa ini, ibu malas ribut nak, ibu lebih mikirin kewarasan Ana dan Ibu, sudah capek rasanya di benci dan di usik, andai Ana bisa mereka terima di keluarga Ayahnya, mungkin ibu bisa bertahan, nyatanya sama aja, sampai anak sudah sebesar ini mereka tidak perduli, Ayahnya pun tidak mau membela kami, karena menuruti orang tuanya, dia mau menikah lagi, dan meninggalkan kami, ibu tidak rela di madu, ibu minta cerai, setalah bercerai kini istri mudanya malah mengusik kami, minta rumah ibu, yang bukan harta ayahnya Ana, kami sudah di abaikan, kini malah di usik meminta rumah peninggalan orang tua ibu, ibu ngak rela." ujar Bu Siti sendu.


"Rumah ibu biar kami beli, kebetulan istri saya mau tinggal di desa ini, tidak enak juga kami terus terusan numpang di rumah nek Imah, klau nanti ibu berniat membeli rumah ini kembali, nanti ibu bisa cicil ke istri saya, yang penting mereka untuk sementara tidak mengusik ibu, dan pergi lah ke kota, tinggal di rumah baru saya, yang saya bangun untuk istri dan anak saya, karena pembangunan rumah itu saya abai dan malah membuat saya kehilangan istri saya, yang awalnya ingin memberikan kado untuk istri saya, saat dia melahirkan anak saya, dia malah pergi meninggalkan saya, bukan saya menyalahkan istri saya, saya juga ikut andil dengan kepergian dia." ujar Refandi menatap sendu sang istri.


Deg...


Malika tidak menyangka suaminya sedang merencanakan kejutan untuk nya, namun bagaimana lagi, saat itu dia memang merasa benar benar tersakiti, tidak ada yang perduli dengan dirinya, namanya juga orang hamil, suka sekali baper.


"Ya Allah Mas, makasih banyak sudah mau membantu ibu dan Ana, ibu ngak tau harus ngomong apa lagi." ujar Bu Siti dengan tangis harunya.


"Aku pisah dong sama si kembar!" ujar Ana sedih, karena dia sangat menyayangi ke dua anak Malika.


"Ngak pa apa, capai dulu cita cita kamu di sana sayang, nanti juga kakak sering sering ke kota, kan ayahnya kembar kerjanya di kota, jadi kita akan sering ketemu kok." hibur Malika.

__ADS_1


"Emang aku masih bisa sekolah kak?" polos Ana.


"Tentu saja kamu di sana sekolah, nanti biar di urus sama Bang Tama untuk urusan sekolah kamu, dan jangan khawatir sama biaya sekolahnya, semua kakak yang tanggung, yang penting kamu terus semangat, gapai cita cita kamu, lupakan orang orang yang menyakiti kamu, mengerti." ujar Malika.


"Makasih kak." ujar Ana senang, karena dia bisa melanjutkan cita citanya, dia ingin membahagiakan ibunya yang sudah bersusah payah membesarkan dirinya selama ini, walau ada ayahnya, namun gaji ayahnya selalu di berikan kepada orang tuanya, karena ketahuan membantu merenovasi rumah nenek Ana, jadi orang tua ayahnya tidak terima akan hal itu.


"Ibu di rumah, cukup bersih bersih rumah saja ya bu, kebetulan saya belum ada orang yang bantu membersihkan rumah saya, dan ibu bisa menanam sayuran dan bunga di sana, kebetulan halaman belakang lumayan luas," ujar Refandi.


"Iya nak, makasih, jadi kapan kami bisa pindah, ibu sudah tidak betah, di sambangi setiap hari." ujar Bu Siti.


"Ahhh... baiklah, klau gitu kami beres beres dulu," pamit Bu Siti berbinar.


"Mas, beneran bangun rumah?" tanya Malika yang masih belum percaya.


"Iya sayang, untuk kamu dan anak anak kita, jadi waktu itu memang mas lagi mengejar pembangunan rumah baru kita, dan juga usaha mas waktu itu baru buka cabang baru, di tambah perusahaan Papi ada masalah, jadi Mas abai sama kamu, maafin mas ya?" ujar Refandi memeluk sang istri.

__ADS_1


"Lain kali klau ada apa apa itu cerita, dan jangan jangan abai sama orang, ini seperti dia hidup sendiri di rumah, aku cuma di anggap manekin hidup, seperti ngan butuh apa apa." gerutu Malika.


"Iya sayang, mas janji, ngak akan ngulangin lagi, kapok mas." tutur Refandi yang kembali bermanja manja di paha sang istri, sudah lama sekali dia tidak merasakan belaian dari istri cantiknya itu, kini dia kembali merasakannya.


"Kamu mau kan kerumah baru kita nantinya?" ujar Refandi.


Malika hanya mengangguk dan tersenyum saja, sambil memijat mijat kepala Refandi.


"Yang, waktu itu Tama bilang kamu mau di lamar sama anak siapa itu mas lupa, itu benar ya?" tanya Refandi penasaran.


"Ya klau mas ngak cepat datang bisa jadi." kekeh Malika.


"Isss.... mas ngak akan biarkan orang lain milikin kamu, enak aja, ngak ikhlas mas klau anak mas punya ayah baru." kesal Refandi tidak terima.


Malika terbahak melihat wajah kesal sang suami.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2