Suami Cacat Ku

Suami Cacat Ku
Bab 53


__ADS_3

"Ceklek...."


Tomy membuka pintu apartemen dengan tangan masih menggendong Lisa.


"Kalian....."


Kaget Tomy melihat banyak orang di dalam apartemennya, Lisa yang penasaran ikut melihat ke dalam apartemen itu, matanya melotot melihat sudah banyak orang di dalam sana yang sedang melihat ke arah mereka.


"Tom, turunin aku" bisik Lisa.


Tanpa di minta 2 x Tomy lansung menurunkan Lisa.


"A-ada apa kalian di sini ramai ramai kaya mau demo" ujar Tomy sedikit kikuk masalahnya di sana juga ada ke dua orang tua Lisa dan juga Refandi dan Malika.


"Om, Tante..." ujar Tomy menyalim orang tua Lisa itu.

__ADS_1


"Hmmm..." ujar Pak Gunawan memandang Tomy sekilas dan setelah itu melihat sang anak.


"Lisa Papa mau bicara lansung saja, papa ngak mau muter muter jadi pusing, gini. Lisa, karena kamu sudah tidak muda lagi dan sudah waktunya kamu untuk menikah, selama ini papa menunggu itikad baik dari Tomy meminta kamu sama papa, tapi tidak ada, sudah papa tunggu sejak lama, ok lah... kemaren dia masih mencari adiknya yang hilang, sekarang adiknya sudah ketemu, lalu apa lagi yang mau dia tunggu, jadi papa rasa Tomy hanya mempermainkan kamu saja"


Deg....


Hati Tomy lansung di buat ketar ketir oleh ucapan pak Gunawan itu.


Lisa pun mengangguk dan membenarkan ucapan sang papa.


Duarr.....


Bagai petir di tengah malam yang tidak ada angin dan hujan menyambar jantung Tomy, enak saja kekasih hati nya mau di jodohkan dengan orang lain, oo... tidak bisa dan tidak akan pernah terjadi itu.


"Tidak... Aku tidak setuju, Lisa milik aku, dia akan menjadi istri aku, aku tidak akan izinkan Lisa menikah dengan orang lain!" tegas Tomy, menarik Lisa ke belakang tubuhnya, dia takut perempuan itu akan di ambil oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Loh... Ngak bisa gitu dong Tom, apa hak kamu. Lisa itu anak Om dan Tante, sementara kamu siapa? kamu bukan siapa siapa, hanya sebatas status pacar doang kok, ngan lebih dari itu, kecuali kamu suami Lisa, trus Lisa Om nikahan baru salah, ini kamu bukan suami anak Om, jadi. Om sah sah saja menikahkan dia dengan orang lain, dia juga butuh suami, bukan ke kasih, dan kami juga sudah menginginkan kehadiran cucu dirumah kami" ujar Pak Gunawan serius.


"Saya yang akan menikahi Lisa Om, bukan orang lain!" tegas Tomy.


"Kapan...? klau Lisa sudah tua baru kamu nikahi, lepaskan saja Lisa, biar dia hidup bahagia dengan orang lain, kamu kan masih mau merintis usaha kamu yang belum maju itu, jadi silahkan saja rintis usaha kamu itu, lepaskan Lisa" ujar pak Gunawan.


"Sekarang, sekarang saya akan menikahi Lisa klau om mau, saya tidak akan menolak, lagian saya merintis usaha juga kelak untuk anak om juga kok, biar dia bisa hidup senang dan berkecukupan." ujar Tomy dan memang itu adanya, dia tidak ingin saat mempunyai istri dia tidak mampu memenuhi permintaan sang istri, tentu saja itu akan melukai harga dirinya.


"Heh... Bocah semprul.....kau pikir anak ku matre dan selalu memandang uang kau itu, dan kau juga lupa, tanpa usah kecil yang kau rintis itu, kau sudah sultan dodol garut!" kesal Pak Gunawan, seolah olah Tomy itu merasa rakyat jelata yang baru merintis karir, dan melupakan aset asetnya yang lainnya.


Tomy hanya bisa garuk garuk tengkuk yang tidak gatal, karena sudah di semprot habis habisan oleh calon mertuanya, cieeee..... yang sudah mengklaim.


"Om, klau bang Tomy, masih belum mau, aku juga mu kok om, gantiin posisi bang Tomy, secara aku juga punya aset yang tidak sedikit, jadi ngak pa apa lah, aku saja yang nikah sama kak Lisa, walau masih kuliah, aku sanggup kok menafkahi kak Lisa, dari pada capek sendiri di rumah om, melihat kebucinan Papi dan Mami" ceplos Tama, dan lansung mendapatakan tatapan menusuk dari Tomy.


"Kau...." tunjuk Tomy, membuat Tama cengengesan dan memberikan jari berlambang v kepada sang abang.

__ADS_1


"Stop... stop.... jangan ribut ribut melulu, saya sudah capek, siapa yang mau di nikahankan, ayo buru, saya mau pulang, saya sudah ngatuk mau kelonan sama istri saya" celetuk penghulu yang sudah di sewa oleh keluarga pak Gunawan itu.


__ADS_2